Sepanjang peradaban di muka bumi ini, umat manusia tak lepas dengan sosok yang disebut sebagai "Tuhan". Sosok yang tak dapat dilihat namun dapat dipahami. Sosok yang diyakini oleh ribuan agama sebagai pencipta segala sesuatu dan segala yang ada di seluruh semesta.
Namun setiap agama atau kepercayaan masing-masing percaya bahwa tuhan merekalah yang benar. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan bagi seseorang yang sudah memeluk satu agama. Apakah agamanya keliru dan agama lain yang benar? Apakah tuhan yang ia sembah sama dengan tuhan yang disembah agama lain?
Pertanyaan berkaitan siapa "Tuhan yang Benar" masing-masing agama punya klaim sendiri. Akibat dari klaim benar ini menimbulkan konflik antar-agama, bahkan hingga terjadi pembunuhan atas nama agama dan Tuhan. Tak jarang juga agama Abrahamik pun terlibat konflik teologis satu sama lain (Yahudi, Kristen, dan Islam). Perdebatan antara sesama agama Abrahamik ini juga menyebabkan kebencian yang mengakar masing-masing umatnya hingga berakibat lahirnya korban dari agama.
Untuk mendamaikan perdebatan yang runcing karena sebuah perbedaan, maka tak jarang orang-orang beragama membuat jalan dialog agama atau diskusi. Ada sejumlah persamaan antara ketiga agama Abrahamik ini, namun lebih banyak perbedaannya. Perbedaan yang banyak dan mencolok berimbas pada hubungan antara ketiga agama yang berasal dari Timur Tengah ini.
Mereka yang beragama dan mulai lelah dengan konflik yang ada biasanya akan mengambil jalur yang cukup aman, yakni menganggap bahwa tuhan yang disembah semua agama di dunia ini adalah Tuhan yang sama. Cara ini bahkan tak jarang dipilih untuk mendamaikan, salah satunya, hubungan antara Kristen dan Islam.
Mereka yang moderat dan berpikiran terbuka menyukai jalur aman tersebut, namun bagi sebagian orang yang benar-benar mendalami agamanya tentu akan menolak keras bahwa tuhan yang ia sembah sama dengan tuhan-tuhan lain di agama lain. Generalisasi ini justru dianggap sebagai jalur yang ekstrem karena menduakan tuhan-nya atau disebut perilaku syirik.
Kristen dan Islam secara historis terpaut jarak tahun yang cukup jauh, sehingga kemungkinan adanya distorsi dalam sudut pandang pemaknaan teologis tentunya hal yang wajar. Berikut ini adalah perbedaan mendasar kedua agama Abrahamik (Islam dan Kristen) dalam pemahaman akan Tuhan dan Kitab Suci.
1. Trinitas dan Tauhid
Sesama agama Abrahamik, Kristen dan Islam memiliki keyakinan Monoteisme atau keesaan Tuhan. Namun yang menjadi perbedaan adalah Islam percaya bahwa Allah itu esa yang tunggal dan hanya satu pribadi (Tauhid). Sedangkan Kristen percaya pada Allah yang esa, terdapat tiga pribadi atau hypostatis, namun sehakikat (Trinitas).
Baca Juga: Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
Perbedaan konsep pemahaman ini sangatlah krusial, dan tak bisa dipaksakan dengan mengatakan, "menyembah Allah yang sama namun caranya berbeda". Pemahaman Islam akan Allah adalah Unitarian, dan itu tak sama dengan pemahaman Kristen mengenai Allah yang Tritunggal. Kedua perbedaan ini berkontradiksi atau saling bertentangan, sehingga tak mungkin bahwa keduanya menyembah Allah atau Tuhan yang sama.
2. Yesus di mata Kristen dan Islam
Islam dengan tegas membantah melalui Al-Qur'an bahwa Allah tidak beranak dan tidak memperanakkan. Islam juga menegaskan bahwa Isa (Yesus versi Islam) adalah seorang nabi saja, dan tidak untuk disembah. Berlawanan dengan hal itu, Injil mengatakan bahwa Yesus adalah Firman Allah (Yoh 1:1, 14). Kekristenan yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Firman Allah dan patut untuk disembah, jelas berbeda dengan Isa (Yesus versi Islam) yang bukan untuk disembah. Bukan hanya pengakuan Injil saja, tapi Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan sehingga Kekristenan tak meragukan keilahian-Nya.
Konsep dasar mengenai keesaan dan siapa Yesus bagi kedua agama ini, telah meruntuhkan anggapan Tuhan yang sama. Sebab dari konsep mendasar saja sudah memiliki kontradiksi. Bagaimana mungkin Tuhan yang sama namun dipahami dengan jalan yang berbeda memiliki sumber dan tujuan berlawanan?
3. Perbedaan Lain
Selain kedua pemahaman dasar di atas, masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang tak mungkin didamaikan atau dipersatukan. Misalnya saja mengenai pemaknaan wahyu. Islam percaya bahwa Firman Allah turun dalam bentuk Kitab Al-Qur'an, sedangkan Kristen percaya Firman Allah turun dalam rupa manusia yang bernama Yesus. Keduanya adalah hal yang sangat bertentangan.
Begitu juga dengan istilah gelar nabi, rasul, atau utusan. Ratusan tahun setelah Kekristenan lahir tentunya makna gelar-gelar tersebut mengalami distorsi. Sehingga makna sebuah gelar yang ada di Alkitab tak bisa disamaartikan dengan apa yang ada dalam Al-Qur'an.
Dan juga, dari segi historis kedua agama Abrahamik ini tak pernah bertegur sapa secara dialog sejak awal munculnya Islam. Tokoh Yesus dan setiap peristiwa tentang-Nya (termasuk penyaliban) dibuktikan secara historis dan menjadi landasan pokok iman Kristiani. Di lain sisi, Isa dalam Al-Qur'an tidak disalibkan namun diserupakan. Mengenai siapa yang disalibkan dalam Al-Qur'an sejatinya sampai sekarang masih menjadi perdebatan.
Toleransi dalam Beragama
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap toleran namun tetap menjaga batas garis iman kita?
Kita, sebagai pengikut Kristus di Indonesia, selayaknya menghargai agama lain dan apa yang mereka sembah. Namun, jikalau berkaitan dengan kebenaran, tak sepatutnya kita berbohong hanya untuk perdamaian yang buta dan temporer. Kebenaran sejati justru mengajarkan kita untuk tidak berkompromi pada hal yang salah. Begitu juga dengan hubungan kita dengan saudara kita yang Muslim. Hanya karena kita ingin diterima di suatu lingkungan atau hanya karena toleransi yang palsu dan kebablasan, kita rela menduakan Tuhan Yesus yang kita sembah.
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat
—Matius 5:37
Jauh sebelum mempertanyakan: "apakah Kristen dan Islam menyembah Allah yang sama?", seyogianya kita menginstropeksi diri dan bertanya: "apakah Kristen dan Islam memaknai pengertian sama akan Allah?". Adanya sudut pandang yang berbeda bukan untuk dijadikan sebagai penerimaan keduanya. Melainkan dua sudut pandang pastinya salah satunya ada yang keliru. Dan kita tak bisa berjalan di tengah-tengah. Harus memilih salah satunya.
Toleransi sejati adalah agree to disagree. Maksudnya, sebagai jalan tengah bahwa perbedaan itu ada dan harus ada, tak bisa disatukan dan tak bisa dipaksakan. Membiarkan perbedaan itu ada dan hidup untuk saling mengerti. Membiarkan orang lain beribadah kepada sesembahannya tanpa mengusili. Sedangkan toleransi yang palsu adalah menduakan kebenaran yang dimiliki hanya untuk perdamaian temporer.