Ketika iman Kristen menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah, banyak dari pihak bukan Kristen merasa keberatan. Hal ini didasarkan dari banyaknya kesalahpahaman seperti bahwa Tuhan tidak mungkin disalib, Tuhan tidak mungkin turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa, Tuhan tidak mungkin menjadi manusia, atau yang paling sering dilontarkan adalah Yesus tak pernah mengaku Dia Tuhan.
Pengakuan adalah proses, cara, perbuatan mengaku atau mengakui. Bagi sebagian besar orang pengakuan itu adalah hal yang penting untuk mengetahui watak asli seseorang. Bagaimana dengan Yesus Kristus, apakah Ia mengaku adalah Tuhan?
Bukti Alkitab Yesus Mengaku Dia Tuhan
Pengakuan dalam Budaya Masyarakat Yahudi
Pengakuan memanglah sangat penting. Dengan pengakuan, akan mempermudah kita menilik sejumlah kasus, seperti apakah seseorang mencuri atau tidak. Dengan pengakuan, kita dapat menentukan apakah seseorang melakukan tindakan kriminal atau tidak. Namun, tidak semua pengakuan akan membawa pada kebenaran. Orang-orang bisa saja mengaku dia tidak melakukan tindakan kriminal, padahal kenyataannya sebaliknya. Begitu juga dalam budaya masyarakat zaman Yesus.
Mengaku diri sebagai Tuhan secara terang-terangan atau eksplisit adalah tindakan bunuh diri. Orang yang mengaku sebagai Tuhan akan dianggap gila. Mereka yang mengaku adalah Tuhan secara terang-terangan juga dinilai orang-orang Yahudi telah menghujat Allah Israel, karena penghormatan mereka yang begitu besar. Nama Allah Israel begitu kudus, sehingga mereka yang menyamakan diri atau mengaku Tuhan pastinya akan dihukum mati.
Hal ini juga berlaku bagi siapapun yang mengaku nabi. Sepanjang sejarah Israel hingga Kekristenan, banyak nabi-nabi palsu yang muncul. Sehingga mereka yang mengaku nabi juga akan mendapat hukuman setimpal, yakni hukuman mati. Pengakuan diri seseorang secara eksplisit adalah tindakan yang dianggap bodoh dan gila; yang hanya membawa diri sendiri pada kematian.
Baca Juga: Hati-Hati! Berikut Ciri-ciri Nabi Palsu Menurut Alkitab
Dalam sebuah perkara, seorang penyidik akan melakukan tahap interogasi pada tersangka untuk mendapatkan keterangan atau barang bukti. Jika tersangka berbelit-belit atau sulit untuk diajak kooperatif, penyidik biasanya tak segan melakukan kekerasan berupa penyiksaan guna mempercepat proses interogasi. Meskipun banyak yang menolak cara ini karena dinilai melanggar Hak Asasi Manusia, namun terkadang cara ini dipilih untuk menemukan fakta yang sebenarnya dengan cepat.
Begitu juga dalam kasus Yesus. Yesus tidak terang-terangan mengatakan Ia adalah Tuhan, namun Ia menyatakan diri-Nya adalah Tuhan secara implisit dan itu sudah cukup membuat orang-orang Yahudi menjadi geram hingga membawa-Nya menuju pengadilan sebelum akhirnya disalibkan. Jika Yesus berbohong atau bersaksi dusta tentang diri-Nya, lantas kenapa Ia tak mengakui saja bahwa Dia bukan Tuhan sebelum disalibkan. Ingat, salib adalah sebuah hukuman penyiksaan terkejam. Salib tidak membunuh korbannya dengan cepat seperti sebuah peluru, namun menyiksa korbannya pelan-pelan hingga kehabisan darah.
Yesus berbeda dengan orang-orang biasa yang hanya mengaku tanpa membuktikan. Yesus tidak hanya mengaku, tapi Ia juga membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan. Sekalipun Ia disalibkan dan tentara Romawi atau orang Yahudi mengejek-Nya, Ia tetap memberikan bukti siapa Dia sebenarnya. Bahkan, pembuktian itu semakin nyata ketika Ia bangkit dari kematian dan mengalahkan maut.
Pengakuan Yesus di Alkitab
Yesus memberi bukti bahwa Ia sungguh Allah dan sungguh manusia melalui perbuatan-Nya dan juga perkataan-Nya. Sebab kita telah diyakinkan dengan apa yang diperbuat-Nya, tapi apakah Ia juga mengaku diri-Nya adalah Tuhan? Mari kita baca ayat-ayat berikut yang dikatakan Yesus sendiri.
1. Anak Manusia
Jawab Yesus: Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit—Markus 14:62
Ketika Yesus ditangkap dan dihadapkan pada Mahkamah Agama, Imam Besar bertanya pada Yesus apakah Dia Mesias, Anak Allah. Dan Yesus tidak menolak atau membantah, namun Ia memberi jawaban yang sangat jelas: Akulah Dia. Mesias atau Anak Manusia merupakan gelar ilahi dan bukan sekadar manusia biasa. Apa yang dikatakan Yesus ini merujuk pada nubuatan nabi Daniel jauh sebelum zaman Yesus.
Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah—Daniel 7:13-14
Orang-orang Yahudi tahu benar maksud gelar "Anak Manusia". Ini bukanlah gelar biasa yang menunjuk anak manusia umumnya. Oleh sebab itulah di ayat selanjutnya, Imam Besar mengoyakkan pakaiannya karena Yesus dianggap telah menyamakan diri-Nya dengan Allah. Tentu saja ini fakta yang tak terbantahkan, sebab Yesus membuat pengakuan tentang diri-Nya.
2. Pernyataan "Akulah"
Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU—Keluaran 3:14
Ketika Musa bertanya apa yang harus dikatakannya pada bangsa Israel tentang nama Allah, Allah menjawab: AKU ADALAH AKU. Secara sekilas kita nampak bingung tentang maksud nama yang diberikan Allah pada Musa tersebut. Kata ini hanya muncul sekali dari keseluruhan Perjanjian Lama. Namun, ini bukanlah sebuah kebingungan lagi bagi kita, sebab ini akan memberi petunjuk pada kita mengenai pengakuan Yesus Kristus.
Dalam bahasa aslinya, yakni Ibrani, berbunyi "Ehyeh Asher Ehyeh" atau dalam bahasa Inggris "I AM THAT I AM" atau dalam Yunani "Ego Eimi". Nama ini sangat sakral bagi umat Yahudi, dan nama ini sering digunakan Yesus untuk menunjuk diri-Nya sendiri. Yang di dalam Injil terjemahan bahasa Indonesia menjadi "Akulah ...".
Kata Yesus kepada mereka: Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi—Yohanes 6:35
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup—Yohanes 8:12
Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku—Yohanes 14:6
3. Sebelum Abraham jadi, Yesus telah ada
Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada—Yohanes 8:58
Jika kita melihat keseluruhan konteks ayat di atas, Yesus dikisahkan sedang bertanya jawab dengan orang-orang Yahudi. Di ayat 56, Yesus berkata bahwa Abraham, bapa orang Israel, bersukacita melihat Yesus. Mendengar perkataan Yesus tersebut, orang-orang Yahudi menjadi bingung dan membalas: Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham? (ayt. 57). Dan Yesus memberi jawaban tegas, bahwa Ia telah ada sebelum Abraham jadi. Dalam bahasa Inggris kita akan mendapati maksud Yesus ini lebih jelas lagi.
Jesus said to them, Most assuredly, I say to you, before Abraham was, I AM—New King James Version
Setelah mengatakan hal tersebut, orang-orang Yahudi segera memungut batu di sekitar mereka dengan maksud melempari Yesus (ayt. 59). Kenapa orang-orang Yahudi mau melempari Yesus? Sebab mereka tahu betul perkataan Yesus tersebut. Dengan Yesus mengatakan "I AM", Ia telah menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah yang sama yang disembah Abraham dan Musa. Seperti yang dikatakan-Nya dalam Perjanjian Lama, "I AM THAT I AM" (lih. Kel 3:14).
Ini yang membuat orang-orang Yahudi ingin membunuh Yesus, sebab Dia mengaku adalah Tuhan. Yesus menyatakan sebelum Abraham lahir ke dunia, Yesus telah ada. Bukan dalam tubuh kemanusiaan-Nya, namun Ia telah bersama dengan Bapa sejak semula sebagai Firman Allah (Yoh 1:1).
Kesimpulan
Masih banyak pengakuan Yesus tentang diri-Nya yang tercatat di Injil. Bukan hanya secara implisit, tapi Yesus juga mengatakannya secara eksplisit dan terang-terangan.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan—Yohanes 13:13
Agaknya dengan mengatakan Yesus bukan Tuhan adalah bentuk ketidaktahuan dan penyimpulan yang terlalu terburu-buru. Dengan memahami setiap apa yang dicatat Perjanjian Lama, lalu menuju ke Perjanjian Baru, kita akan sadar bahwa segalanya telah digenapi. Yesus adalah Tuhan bukanlah klaim semata yang dibuat oleh Gereja.
Pengakuan dari bibir tidak selamanya benar. Namun jika ada pengakuan yang keluar dari mulut seseorang, kita selayaknya menguji juga mengenai perbuatannya. Apakah dia yang mengaku-ngaku adalah tuhan berbuat seperti tuhan? Apakah dia yang mengaku-ngaku adalah nabi telah melakukan mukjizat seperti seorang nabi? Jika benar demikian, siapa saksinya? Beragama seharusnya mencerdaskan kita, bukan menuntun kita pada kebutaan pengetahuan.
Kita bisa mengambil contoh "pengakuan" sederhana dari kehidupan sekarang. Ketika kita sekolah, pernahkah kita meragukan seseorang yang berdiri di depan kelas, mengajar, dan membimbing kita, sunguh-sungguh adalah guru? Bukankah jawabannya tidak? Kenapa kita begitu yakin siapa yang kita lihat di depan adalah guru tanpa mempertanyakan statusnya?
Sekalipun dia yang berdiri di depan ruang kelas tak mengaku diri sebagai guru, namun murid-muridnya tahu jika ia adalah guru. Murid-muridnya tahu ia adalah guru melalui pengajaran serta ilmu yang keluar dari mulutnya. Murid-muridnya tahu ia adalah guru melalui perbuatannya yang mengajar dan memberi contoh. Murid-muridnya tahu ia adalah guru karena berpakaian berbeda dan memiliki integritas sebagai seorang guru.
Contoh lainnya kita bisa melihat pada kasus seekor singa. Seekor singa diberi gelar "raja hutan" bukan hanya karena aumannya yang keras. Jika sekadar suara keras yang keluar dari mulut seekor singa, masih banyak hewan-hewan yang bersuara lebih keras dan membuat yang mendengarnya gemetar. Singa diberi gelar demikian, karena ia menjadi puncak rantai makanan. Singa tidak mengaum saja, tapi ia mengalahkan tiap hewan di darat untuk menuju puncak ekosistem, sehingga hewan-hewan lain yang telah dikalahkannya akan menjadi takluk.
Begitu juga dengan Yesus. Yesus mengaku sendiri Dia adalah Tuhan, dan Ia juga membuktikan diri-Nya adalah Tuhan melalui setiap perbuatan-Nya. Setiap perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, apalagi jika hanya sekadar seorang manusia biasa. Yesus, Sang Singa Yehuda, adalah puncak dari segala kekuasaan di bumi. Raja dari segala raja. Tidak ada satupun musuh yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan maut yang selalu ditakuti manusia pun telah ditaklukkan-Nya.
Jadi, umat Kristen percaya Yesus adalah Tuhan dan Allah bukan hanya melalui pengakuan dari mulut-Nya saja, namun juga perbuatan-Nya yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan.