• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Monday, April 18, 2022

Home » Apologetika , Lain » Apakah Kristen dan Nasrani sama?

Apakah Kristen dan Nasrani sama?

  Only Truth     Monday, April 18, 2022

Dalam sejarah Kekristenan, para pengikut Yesus tidak pernah membuat sebuah nama formal sebagai julukan mereka. Sebab mereka tidak pernah berniat membuat agama baru atau pembaharu. Kekristenan lahir dari penggenapan akan janji Allah. Namun kemudian, seiring berjalannya waktu nama 'Kristen' yang terpilih di telinga masyarakat umum untuk menyebut para pengikut Yesus. Akan tetapi, tak jarang juga kita dipanggil dengan sebutan 'orang Nasrani'. Sebagian mungkin terbiasa dengan panggilan itu dan tak mempermasalahkannya. Namun bagi sebagian lainnya yang berpendapat bahwa nama menunjuk sebuah identitas, tentu saja menolak dipanggil sebagai Nasrani. Mereka berprinsip bahwa Kristen dan Nasrani adalah hal yang berbeda jika dilihat dari segi historisitas. Lantas, benarkah demikian?


Sejarah Nama Nasrani

Kita akan melihat dari mana asalnya nama ini muncul. Dalam Perjanjian Baru, nama Nasrani ini hanya muncul satu kali.

Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani—Kisah Para Rasul 24:5

Secara keseluruhan kontes, ayat di atas menceritakan ketika Paulus sedang berseteru dengan orang-orang Yahudi hingga menangkapnya dan membawanya ke pengadilan Romawi. Di sana, salah seorang pengacara bernama Tertulus mendakwa dan menuduh Paulus telah membuat kegaduhan. Tertulus juga mengatakan bahwa Paulus adalah seorang dari sekte Nasrani.



Nasrani atau Notzrim (נוצרים) memang awalnya ditujukan untuk menyebut pengikut-pengikut Tuhan kita, Yesus Kristus. Nama ini diambil dari kata 'Nazaret' yang adalah kota Yesus tinggal. Bahkan Yesus sendiri saat itu juga dikenal sebagai 'orang Nazaret'.

Dan orang banyak itu menyahut: Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea—Matius 21:11
Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah—Markus 1:24

Alasan mengapa Tertulus menuduh Paulus adalah bagian dari Nasrani, karena Paulus mengikuti Yesus 'orang Nazaret'. Kisah Para Rasul 24:5 secara tersirat juga memberitahu kita bahwa para pengikut Yesus pada saat itu, termasuk Paulus, dikenal oleh orang-orang Yahudi sebagai Nasrani. Namun perlu digaris bawahi, bahwa orang-orang percaya dan para pengikut Yesus tidak pernah membuat kesepakatan untuk penggunaan resmi nama tersebut. Ketika Injil menyebar di Antiokhia, mereka kemudian dikenal dengan nama Kristen, yang berarti 'pengikut Yesus' (Kis 11:26).


Dan ketika Injil perlahan menyebar ke seluruh dunia, mereka yang percaya umumnya akan disebut sebagai "pengikut Yesus" dalam bahasa mereka masing-masing. Tapi biasanya akan tetap mengacu ke nama christianos atau Kristen. Contohnya adalah saat Injil sampai di tanah Arab, mereka menyebut diri mereka sebagai Masihiyyun atau 'pengikut al-Masih', dan bukannya Nasrani. Namun, ada satu jemaat di dunia yang menyebut diri sebagai Nasrani, yakni jemaat di India hasil pelayanan Rasul Thomas.


Dalam perkembangan Kekristenan selanjutnya, nama Nasrani kemudian mengalami perubahan distorsi dan malah dipakai oleh bidat-bidat Kristen. Nama Nasrani menjadi dikenal di kalangan orang-orang Kristen lainnya karena dianggap tak sesuai dengan ajaran rasuliah. Awalnya nama Nasrani memang merujuk pada para rasul dan pengikut Yesus yang berlatar belakang Yahudi. Namun karena tak ada formulasi atau peresmian keabsahan nama, nama Nasrani ini pun mengalami perbelokan tujuan dan makna. Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada abad ke-1. Kita bisa melihat keadaan serupa di zaman sekarang. Contohnya nama Kristen yang menjadi umum bagi seluruh pengikut Yesus di dunia. Nama Kristen ini kemudian juga dipakai oleh sekte-sekte yang menyimpang dengan tujuan menyesatkan.


Problematik Nasrani dan Yahudi

Setelah Injil berkembang dan para pengikut Yesus bertambah banyak, orang-orang Yahudi yang menolak Yesus terlibat konflik iman dengan umat percaya (Kristen atau Nasrani). Para rasul dan jemaat mula-mula tahu siapa Yesus dan mereka juga tahu apa tujuan Mesias datang ke bumi, sehingga mereka beribadah seperti biasa dan tak pernah menganggap bahwa mereka membawa agama baru.

Lalu wali negeri itu memberi isyarat kepada Paulus, bahwa ia boleh berbicara. Maka berkatalah Paulus: Aku tahu, bahwa sudah bertahun-tahun lamanya engkau menjadi hakim atas bangsa ini. Karena itu tanpa ragu-ragu aku membela perkaraku ini di hadapanmu: Engkau dapat memastikan, bahwa tidak lebih dari dua belas hari yang lalu aku datang ke Yerusalem untuk beribadah—Kisah Para Rasul 24:10-11

Sedangkan orang-orang Yahudi yang menolak Yesus tentu menganggap Yesus dan pengikut-Nya sesat. Orang-orang Yahudi saat itu percaya bahwa Mesias belum datang. Perbedaan dan pertentangan itulah yang membuat dua kubu Yahudi terpisah; yang satu percaya Yesus dan yang satu lagi menolak-Nya. Perpisahan antara dua kubu inilah yang kemudian membuat jemaat pada saat itu terpaksa beribadah di rumah. Tentu saja mereka belum bisa mendirikan bangunan sebagai tempat beribadah. Sebab bagi jemaat mula-mula, bukanlah sebuah tempat ibadah yang megah dan besar yang memikat hati, namun perkumpulan dalam satu tujuan menyembah Allah yang benar itulah yang nantinya akan disebut dengan "Gereja".

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati—Kisah Para Rasul 2:46

Perbedaan yang mencolok dalam sudut pandang iman antara umat Perjanjian Lama dengan umat Perjanjian Baru membuat keduanya pun harus berpisah. Hingga akhirnya, orang-orang Yahudi yang menolak Yesus pun mengeluarkan apa yang namanya Birkat haMinim sekitar tahun 85-115 M. Birkat haMinim adalah sebuah doa kutukan Yahudi, dan didalamnya ada kalimat yang ditujukan untuk orang Nasrani atau Kristen-Yahudi.

... dan orang-orang Nasrani serta para bidat kiranya segera hilang. Biarlah mereka dihapus dari kitab kehidupan, dan pada golongan yang benar janganlah nama mereka dicatat

Problematik Nasrani dan Kristen

Awalnya baik Nasrani (Kristen-Yahudi) dan Kristen Goyim (Non-Yahudi) sama-sama merupakan pengikut Yesus. Tidak ada pembeda dan semuanya sama saja. Sebab Kekristenan tidaklah untuk satu kaum, satu bangsa, atau satu bahasa. Konflik antara jemaat mula-mula dengan Yahudi yang menolak Yesus itulah yang membuat orang-orang Yahudi memanggil dengan sebutan Nasrani. Mereka menyamaratakan Kristen adalah Nasrani, begitu juga sebaliknya. Padahal nama Nasrani ini kemudian mengalami distorsi. Nama Nasrani dapat merujuk orang-orang Kristen berdarah Yahudi namun masih menjalankan tradisi dan hukum Yahudi. Nama Nasrani dapat juga merujuk pada Kristen Goyim (Non-Yahudi) namun menjalankan tradisi Yahudi. Gereja tentu saja menganggapnya sebagai bidat. Sebab dalam Konsili Yerusalem atau dikenal juga Konsili Apostolik, orang-orang non-Yahudi yang bertobat tidak diwajibkan untuk mentaati hukum taurat atau hukum Musa. Peristiwa dan pembahasan konsili di Yerusalem ini terekam di Kisah Para Rasul 15 dan Galatia 2.

Karena banyak orang berdarah Yahudi yang saat itu mulai percaya, sehingga sangat sulit membedakan Nasrani Kristen dengan sekte Nasrani. Bahkan ada kemungkinan Nasrani dan Ebionit adalah sekte sama yang muncul di abad pertama. Nama Nasrani mengalami pergeseran makna lebih jauh dan tak lagi bisa disamakan dengan Kristen. Ini diperkuat dengan berbagai sumber sejarah awal Kekristenan dan catatan Bapa-bapa Gereja.

Tetapi para sektarian ini ... tidak menyebut diri mereka Kristen melainkan "Nasrani", ... Namun mereka hanyalah orang-orang Yahudi seutuhnya. Mereka tidak hanya menggunakan Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama, seperti yang dilakukan orang Yahudi ... Mereka tidak memiliki pandangan berbeda, tapi mengakui segala sesuatu persis seperti yang dinyatakan oleh Hukum dan dengan cara Yahudi, kecuali kepercayaan mereka pada Mesias, jika engkau mau! Karena mereka mengakui kebangkitan orang mati dan penciptaan ilahi dari segala sesuatu, dan menyatakan bahwa Allah itu Esa, dan bahwa Putra-Nya adalah Yeshua Sang Mesias. Mereka dilatih sopan dalam bahasa Ibrani. Karena di antara mereka seluruh Hukum, para Nabi, dan ... tulisan-tulisan ... dibaca dalam bahasa Ibrani, sebagaimana yang pasti dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka berbeda dari orang Yahudi dan berbeda dari orang Kristen hanya dalam hal berikut. Mereka tidak setuju dengan orang Yahudi karena mereka telah beriman pada Mesias; tetapi selagi mereka masih terbelenggu hukum sunat, hari Sabat, dan lainnya, mereka tidak sesuai dengan orang Kristen ... mereka tidak lain orang Yahudi ... Mereka punya Kabar Baik menurut Matius yang keseluruhannya dalam bahasa Ibrani. Karena jelas bahwa mereka masih menyimpan ini dalam bahasa Ibrani, sebagaimana aslinya ditulis—Epifanius dari Salamis, dalam bukunya Panarion (374)
... bahwa sejak pemberitaan Injil Kristus, orang-orang Yahudi yang percaya melakukannya dengan baik dalam menjalankan aturan-aturan Hukum, yaitu dalam menawarkan pengorbanan seperti yang dilakukan Paulus, dalam menyunatkan anak-anak mereka, seperti yang dilakukan Paulus dalam kasus Timotius, dan memelihara hari Sabat Yahudi, seperti yang dilakukan oleh semua orang Yahudi. Jika ini benar, kita jatuh ke dalam bid'ah ... meskipun percaya pada Kristus, mereka dibenci oleh para bapa (Bapa Gereja) karena satu kesalahan ini, bahwa mereka mencapuradukkan upacara Hukum dengan Injil Kristus, dan mengaku iman mereka dalam apa yang baru, tanpa melepaskan apa yang lama—Jerome, dalam suratnya kepada Agustinus (404 M)

Kesimpulan

Memang awalnya Nasrani ini dapat dikaitkan dengan Kristen dan termasuk bagian dari umat-umat percaya. Namun seiring perkembangan Injil, banyak penyesat yang berusaha menyesatkan ajaran dari Yesus dan para rasul, sehingga penyesat-penyesat ini pun menyamar seolah menjadi bagian dari umat percaya dan menyebut diri mereka dengan nama yang sama. Sehingga kita tidak bisa lagi menyamakan kedua nama ini: Kristen dan Nasrani, sebagai dua nama berbeda tapi merujuk pada kelompok sama atau hanya sinonim saja.


Sangat disayangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Nasrani disama artikan dengan Kristen. Lagi pula nama Nasrani juga diambil dari akar kata Nazaret, sedangkan kita bukanlah orang-orang Nazaret. Kita adalah orang-orang percaya dari seluruh penjuru dunia, segala bangsa atau daerah. Seharusnya kita bangga dengan nama 'Kristen', apalagi nama itu mengandung nama Sang Juruselamat kita!

By Only Truth at April 18, 2022
Labels: Apologetika, Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media