Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku—Matius 10:34-37
Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya—Lukas 12:51-53
Ayat di atas kerap menjadi polemik dan dicomot mentah-mentah oleh mereka yang ingin menjatuhkan iman Kekristenan. Bahkan, ayat-ayat tersebut juga membuat bingung bagi kalangan umat awam Kristen sendiri. Bukankah Yesus dikenal sebagai Raja Damai (Yesaya 9:5)? Tapi kenapa di Injil Matius dan Lukas berbicara bahwa Yesus tak membawa damai melainkan pedang? Bahkan Yesus sendiri yang mengatakan itu! Apakah ini sebuah kontradiksi di Perjanjian Baru?
Kita tahu pasti kalau Tuhan Yesus tak pernah berubah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Perkataan-Nya tak mungkin berubah dan saling bertentangan. Ajaran kasih dan damai selalu Ia ajarkan pada murid-muridnya.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah—Matius 5:9
Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu—Lukas 6:27
Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain—Yohanes 15:17
Kalau begitu, apa maksud sebenarnya perkataan Yesus? Apakah Ia mengajarkan perang? Apakah Yesus menginginkan sebuah pertentangan dalam keluarga?
Yesus tidak membawa Damai?
 |
| Unsplash | Jonathan Kemper |
Pertama-tama kita harus membaca keseluruhan konteks Injil Matius dan Lukas. Jika kita membaca sepenggal ayat tanpa melihat konteks maka kita akan disesatkan oleh tafsiran yang keliru. Dari keseluruhan konteks, Matius dan Lukas sama-sama menceritakan pembicaraan Yesus dengan kedua belas murid-Nya. Di ayat sebelumnya, Injil Matius lebih jelas menceritakan Yesus yang tengah mengutus kedua belas murid untuk memberitakan Injil.
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat—Matius 10:5-7
Jawabannya mungkin sedikit mulai tergambarkan. Dengan membaca keseluruhan konteks kita tidak akan dibutakan oleh pemahaman yang menyimapang. Sehingga jika kita melihat keseluruhan Matius 10, kita dapat mengerti apa yang dimaksud Tuhan Yesus. Kedua belas murid akan mewartakan Injil, mula-mula kepada golongan sebangsa mereka yakni Yahudi dan seluruh Israel, lalu kemudian memberitakan ke seluruh dunia, setiap bangsa serta suku, dan kepada setiap orang yang belum percaya. Pemberitaan Injil inilah yang akan membuat pertentangan.
Kabar sukacita adalah sebuah ancaman bagi mereka yang menolak Kristus dan bagi mereka yang membenci kebenaran. Akan ada dua perbedaan nyata antara pribadi manusia saat mendengar Injil: menerima atau menolak. Mereka yang menolak akan menentang yang menerima Injil. Manusia akan dihadapkan mengikuti atau menyangkal-Nya. Akan ada pemisahan antara orang benar dan orang jahat yang seolah-olah ditebas dan dipisahkan oleh sebuah pedang.
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu—2 Korintus 6:14-17
Tuhan Yesus akan menjadi alasan terpisahnya anak dan orang tua. Seperti anak yang menjadi percaya, namun tidak dengan orang tuanya. Memisahkan tiap pribadi yang mengikuti Yesus dengan keluarganya yang menolak Injil. Pertentangan besar akan terjadi dalam keluarga, ketika anggota lainnya menerima Yesus sedangkan lainnya menolak-Nya. Inilah mengapa Matius 10:36 mengatakan bahwa musuh orang adalah seisi rumahnya sendiri. Masih di Matius 10, jika kita membaca ayat kemudian, kita akan tahu bahwa pemisahan terjadi karena mengikut Dia.
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku—Matius 10:37-38
Bandingkan juga dengan ayat di bawah.
Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku—Lukas 14:26-27
Perkataan Yesus ini benar-benar terjadi. Di mana Yesus tidak dipercaya oleh saudara-saudara-Nya sendiri (Yohanes 7:5) atau penganiayaan yang dialami Gereja mula-mula yang dilakukan oleh bangsa mereka sendiri. Pertemuan dengan Yesus akan menimbulkan pertentangan dan akan memunculkan dua golongan: menerima-Nya atau menolak-Nya.
Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya. Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu. Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Tetapi orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu. Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu—Kisah Para Rasul 14:1-5
Jadi, dari sini kita dapat menarik kesimpulan maksud Yesus mengatakan Ia membawa pedang dan bukan damai. Bahwa, pemisahan antara anggota keluarga yang bagai ditebas pedang, itu adalah akibat karena kedatangan dan penerimaan Yesus; sedangkan menjadi pedang yang membinasakan bukanlah tujuan utama kedatangan-Nya. Yesus memperingatkan konsekuensi karena mengikuti-Nya. Akan ada konflik, perselisihan, permusuhan di sebuah keluarga yang dahulunya harmonis.
Perkataan Yesus ini bukan hanya ditujukan pada mereka yang memilih menjadi pengikut-Nya saat itu. Perkataan Yesus ini bahkan juga relevan dengan kehidupan sekarang. Mungkin kita yang dari lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen tidak mengalami 'pedang' ini, namun bagaimana dengan saudara-saudara kita di luar sana yang hidup di tengah-tengah keluarga yang tak percaya? Sebuah keluarga yang dulunya damai dan harmonis tiba-tiba menjadi hancur ketika salah satu anggota keluarga menerima Yesus sebagai Mesiasnya. Mereka akan menolak keras, mengancamnya untuk meninggalkan iman pada Yesus, dibuang dan tak dianggap lagi sebagai bagian dari keluarga, bahkan yang terburuk diancam akan dibunuh.
Kedamaian serta cinta kasih yang telah terbangun bertahun-tahun seketika runtuh ketika salah satu dari mereka menerima Yesus Kristus. Hidup bagai seekor domba di tengah-tengah serigala. Hidup bagai sebatang lilin di tengah kegelapan yang mencekam. Seolah ditebas pedang, membuatnya harus berpisah dengan keluarga yang begitu berharga dalam hidupnya. Apakah ini berarti Injil salah karena telah memisahkan orang dari keluarganya? Apakah Injil adalah ancaman bagi keluarga-keluarga di dunia? Injil tidaklah salah dalam hal ini. Kebenaran sampai kapan pun akan terus berperang melawan penipuan, penyesatan, atau kejahatan.
Kita akan mulai menyadari betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk mengikut Yesus. Bahkan, saudara-saudara kita di luar sana sampai rela mempertaruhkan nyawanya; disiksa hingga dibunuh. Betapa banyaknya pengorbanan yang harus kita lakukan untuk memilih Yesus dan meninggalkan dunia. Namun, bukankah harga yang kita bayar, apa yang kita korbankan, itu sebanding dengan apa yang akan kelak kita peroleh? Apa yang disediakan dunia mungkin adalah hal yang nikmat, namun kita lupa jika itu bersifat sementara. Sedangkan apa yang disediakan Dia ketika kita memilih-Nya adalah kenikmatan yang kekal.
Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal—Lukas 18:29-30