• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Wednesday, April 27, 2022

Home » Apologetika » Alasan Perjanjian Baru Dapat Dipercaya

Alasan Perjanjian Baru Dapat Dipercaya

  Only Truth     Wednesday, April 27, 2022

Kita sekarang hidup di era yang serba modern. Apalagi dengan adanya internet kita dapat mengakses informasi-informasi yang ingin kita ketahui dengan mudah. Salah satunya untuk mengetahui kebenaran Injil. Jika kita sebagai orang Kristen menganggap Injil itu benar, maka kita harus dapat membuktikan kalau Injil memang benar dan layak untuk dipercayai oleh orang lain. Dan jika kita ragu tentang Injil, kita harus mencari kebenarannya dan bukan lantas meninggalkannya. Dengan adanya internet, kita dapat menguji segala sesuatu agar tak menjadi manusia yang "percaya buta" dan diperhamba oleh kebohongan atau kesesatan.


Mereka yang berada di luar Kristus selalu meminta pertanggungjawaban kita tentang keakuratan dan keaslian Injil. Mereka berasumsi bahwa Injil yang kita miliki sekarang berbeda dengan Injil yang ditulis oleh para penulisnya langsung. Saat ada banyak bukti yang menunjukkan keilahian Yesus yang tertera di Alkitab, Perjanjian Baru dianggap sebagai dongeng karangan manusia, terutama dalam hal ini yang disalahkan adalah Paulus.


Inti penyerangan mereka terhadap keaslian Injil karena mereka menolak bahwa Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Mereka terang-terangan menolak dan membuat kesimpulan tanpa penyelidikan bahwa Alkitab telah dipalsukan. Namun tanpa ada bukti dan hanya sekadar asumsi, itu semua bisa kita anggap sebagai tuduhan. Lalu apakah ada bukti jika Injil atau keseluruhan Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang masih terjaga keasliannya? Berikut alasan-alasan mengapa Perjanjian Baru layak untuk dipercayai.


Daftar isi
  • 1 Ribuan Manuskrip
  • 2 Jarak Kepenulisan Perjanjian Baru
  • 3 Penulis yang Terpercaya
  • 4 Keselarasan PB dengan Sejarah dan Arkeologi
  • 5 Catatan Bapa-bapa Gereja
  • 6 Nubuat-nubuat Yesus
  • 7 Kesimpulan

Ribuan Manuskrip

Selama lebih dari 2000 tahun, Kekristenan telah menyumbang pengaruh bagi sejarah peradaban manusia dengan meninggalkan ribuan manuskrip yang membuat Perjanjian Baru menjadi salah satu sejarah yang terbukti asli dan tak perlu diragukan. Apa itu manuskrip? Singkatnya manuskrip adalah tulisan tangan. Kekristenan memiliki manuskrip yang melimpah, bahkan hampir setiap tahun selalu ada penemuan manuskrip baru. Semakin banyak manuskrip yang dapat kita temukan, akan semakin mudah kita membandingkan manuskrip satu dengan yang lainnya untuk mencari variasi-variasi teks yang muncul.


Manuskrip kuno di luar Kekristenan, seperti tulisan Julius Caesar sejauh ini hanya ditemukan 10 salinan. Lalu ada catatan seorang sejarawan Romawi, Tacitus yang oleh para arkeolog berhasil mengumpulkan 20 salinannya atau Iliad karya sastra Homer yang berhasil ditemukan 1.800 salinan. Bagaimana dengan Kekristenan? Sejauh ini, Kekristenan telah memiliki 5.800 salinan Perjanjian Baru dalam bahasa aslinya Yunani! Bukan hanya itu. Jika dihitung dengan manuskrip lainnya yang sudah diterjemahkan pada abad-abad awal seperti Latin, Arab, Koptik, atau Aram, kita memiliki lebih dari 20.000 salinan!


Seluruh salinan itu isinya tak saling berlawanan dan justru malah saling membenarkan. Bahkan, tingkat keakuratan satu naskah dengan naskah lainnya adalah 99,5 %! Sedangkan sisanya terdapat variasi. Variasi-variasi tersebut bukan masalah besar bagi iman Kristen, sebab variasi yang muncul hanyalah seperti perbedaan di tanda baca atau sinonim atau penggunaan kata yang dibolak-balik. Contohnya seperti Yesus Kristus dengan Kristus Yesus.


Jarak Kepenulisan Perjanjian Baru

Jarak atau rentang waktu para penulis dengan waktu kejadian tidaklah jauh. Kenaikan Kristus diperkirakan terjadi sekitar tahun 33 M, sedangkan keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) diperkirakan ditulis dalam rentang waktu 40-100 M. Dalam sejarah dunia dan pencatatan sebuah peristiwa, keempat Injil sangat dekat dengan peristiwa kenaikan Kristus sehingga tidak mungkin ada distorsi sejarah atau perubahan kisah. Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa setelah kenaikan Yesus Injil tak segera ditulis?". Alasannya adalah karena sejak awal Injil diberitakan oleh para rasul dari mulut ke mulut di Yerusalem. Mereka yang tinggal di Yerusalem tidak memerlukan catatan tertulis, sebab merekalah para saksi mata dan mereka sangat tahu siapa Yesus orang Nazaret. Baru ketika Injil perlahan diberitakan pada bangsa-bangsa non-Yahudi dan para saksi mata satu per satu sudah mati sebagai martir, saksi mata yang masih hidup pun menuliskannya. Lagi pula, iman Kristen tidak pernah percaya bahwa Kitab Suci itu turun dari langit, sehingga dalam kepenulisan Injil membutuhkan proses dan waktu.


Penulis yang Terpercaya

Keseluruhan isi Perjanjian Baru tidaklah ditulis oleh satu oknum saja, melainkan ditulis oleh beberapa orang dengan latar belakang berbeda dan tujuan yang berbeda. Keempat Injil yang menjadi dasar iman Kristen ditulis oleh empat orang yang berbeda dengan sudut pandang yang berbeda dan tentunya gaya penulisan yang juga berbeda. Jika keempat Injil ditulis sama persis, justru itu malah menunjukkan bahwa mereka berusaha menyamakan cerita dan bisa saja apa yang mereka tulis palsu! Dan jika keempat Injil saling tiru meniru dan tulisannya sama persis, tentunya tidak ada hal lain yang bisa kita ketahui tentang Yesus.


Namun faktanya tidak demikian. Keempat oknum mencatat dengan sudut pandang mereka masing-masing dan tidak ada yang saling menjiplak. Keempat oknum ini adalah saksi-saksi mata peristiwa Yesus sehingga keakuratan ceritanya pun tak perlu diragukan. Seperti Matius yang adalah murid langsung Yesus Kristus, Markus yang adalah sekretaris Petrus, Lukas seorang dokter sekaligus rekan kerja Paulus, dan Yohanes adalah murid yang dikasihi Yesus.


Jadi Injil tidak ditulis oleh orang-orang asing atau orang yang bukan saksi mata. Para penulis keempat Injil memiliki hubungan dekat dengan Yesus Kristus atau setidaknya dengan para rasul. Mereka adalah saksi mata yang menyaksikan segala peristiwa ajaib dengan matanya sendiri dan kemudian menuliskannya, sehingga menjadikan keempat Injil ini sebagai sumber sejarah primer yang keakuratannya tak perlu dipertanyakan. Bahkan, untuk mencatat segala peristiwa tentang Yesus, Lukas melakukan penyelidikan terlebih dahulu.

Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar—Lukas 1:1-4

Bukan hanya itu saja. Iman Kristen percaya bahwa Firman Allah itu sempurna, Ya dan Amin. Maka dari itu, para penulis tentunya mendapat inspirasi dari Allah ketika mencatat apa yang sepatutnya dicatatkan, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah Roh Kudus. Ini dikonfirmasi langsung oleh Rasul Paulus dan Rasul Petrus yang menegaskan jika semua yang ditulis bukanlah karangan manusia, melainkan Allah sendiri.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran—2 Timotius 3:16
Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah—2 Petrus 1:20-21

Bahkan, dalam tulisan Paulus kepada Gereja di Korintus, Paulus seakan menantang jemaat pada saat itu untuk membuktikan ucapannya. Karena sebagian para saksi mata masih hidup semasa Paulus menuliskan suratnya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal—1 Korintus 15:6

Keselarasan Perjanjian Baru dengan Sejarah dan Arkeologi

Biasanya mereka yang mengatakan Injil telah dipalsukan karena tak percaya ada bukti-bukti bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun kendati demikian, melalui sejarah dan bukti-bukti arkeologi kita dapat menuntut seberapa akuratnya Alkitab. Memang sejarah dan arkeologi tak dapat menentukan apakah ini Firman Allah atau bukan, namun dengan adanya nama tempat dan segala peristiwa yang tercatat kita bisa membuktikan apakah sosok manusia bernama Yesus itu benar-benar eksis atau tidak.


Dua orang sejarawan non-Kristen, Flavius Yosephus dan Tacitus, mencatat dan meneguhkan keberadaan Yesus serta peristiwa penyaliban-Nya. Selain itu, jika kita melihat dari segi keselarasan arkeologi, hampir keseluruhan nama tempat atau lokasi yang disebut dalam Perjanjian Baru telah ditemukan dan menjadi bukti kebenarannya. Salah satu contohnya adalah penemuan kolam Siloam yang dicatat di Yohanes 9:1-12 pada tahun 2004. Penggalian serta penemuan-penemuan telah menjadi bukti bahwa para penulis Injil tidaklah sedang mengarang atau sedang membuat kisah dongeng fiksi. Mereka adalah orang-orang yang kenal baik dengan tempat kelahiran mereka sendiri.


Sumber pendukung di luar Perjanjian Baru (Catatan Bapa-bapa Gereja)

Bapa-bapa Gereja yang hidup di abad awal adalah penerus para rasul. Mereka dipilih langsung oleh para rasul, sehingga ajaran yang mereka terima tentang Yesus Kristus dapat kita percayai. Dan Bapa-bapa Gereja ini dalam beberapa tulisannya sering kali mengutip ayat-ayat yang ada di Injil, dan ayat yang mereka kutip masih ada di Alkitab  masa sekarang. Itu menjadi fakta tak terbantahkan bahwa Perjanjian Baru sejak awal ditulis sampai sekarang tak pernah berubah atau masih sama. Seandainya di seluruh dunia Alkitab tiba-tiba menghilang atau dimusnahkan secara massal, kita masih bisa menyusun ulang Injil sama persis melalui manuskrip-manuskrip kuno dan catatan Bapa-bapa Gereja.


Nubuat-nubuat tentang Yesus

Perjanjian Baru dinamakan demikian bukan tanpa alasan. Perjanjian Baru dinamakan demikian karena sebagai penggenapan dari Perjanjian Lama. Setiap nubuatan yang dituliskan oleh para nabi di Perjanjian Lama hanya mengacu pada satu oknum, yakni Yesus. Tidak ada yang lain yang nubuatannya sesempurna menggambarkan tentang Yesus. Perjanjian Lama sendiri ditulis ribuan tahun sebelum kelahiran Sang Juruselamat kita. Ini membuktikan bahwa setiap isi Alkitab, Allah-lah yang memberi ilham. Ini menjadikan Dia sebagai Allah sejati yang berbeda dengan allah-allah lain. Sebab, hanya "Allah Sejati" yang berkuasa menggenapi apa yang telah dikatakan-Nya (Yes 46:9-10).


Ada banyak penggenapan tentang Yesus di Perjanjian Lama. Salah satu contohnya ada di kitab Daniel 7 yang bicara tentang Anak Manusia dan kekuasaan-Nya. Ada juga nubuatan yang menulis kelahiran Yesus dari seorang perawan (Yes 7:14) atau lahir-Nya di Betlehem (Mikha 5:1). Penggenapan-penggenapan secara teologis dan historis telah membuktikan keseluruhan isi Alkitab benar, termasuk Perjanjian Baru.


Kesimpulan

Jadi, apakah Perjanjian Baru dapat dipercaya? Jawabannya: Ya, sangat bisa! Semua telah dibuktikan baik keaslian dan keakuratan isinya terkait setiap peristiwa yang tercatat. Nilai-nilai teologis, sejarah, arkeologi, menjadikan Alkitab sebagai buku paling sempurna yang hampir mencakup seluruh peradaban penting umat manusia. Percaya Yesus adalah Tuhan atau bukan, itu adalah kehendak bebas setiap manusia. Percaya Tuhan benar-benar nyata atau tidak, itu juga adalah kehendak bebas setiap manusia. Tapi, mau tidak mau, dari setiap segi penilaian, isi Injil sudah dipastikan tak pernah berubah sejak awal ditulisnya. Yang artinya, isi Injil yang menunjukkan keilahian Yesus sejak awal memang sudah ada dan tak pernah diimbuhi atau ditambahkan seperti yang telah dituduhkan pada Kekristenan.


Semua ini bukan karena perbuatan manusia, melainkan Allah sendiri yang bekerja menunjukkan kebenaran-Nya. Allah berjanji dan Ia pasti akan menepati. Pemeliharaan Allah terhadap Firman-Nya tak pernah berubah. Sebab, Firman Allah adalah Ya dan Amin!

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu—Matius 24:35
By Only Truth at April 27, 2022
Labels: Apologetika

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media