Injil Yesus Kristus tidaklah mudah untuk diwartakan pada bangsa-bangsa yang sudah memiliki "allah" buatan mereka sendiri. Mewartakan Injil Keselamatan pada bangsa yang tak mengenal "Allah yang sejati" bukanlah perkara mudah, bahkan pewartaan Injil kadang harus dibayar dengan nyawa. Namun tak akan ada yang bisa menghentikan pemberitaan Kerajaan Allah. Semakin dibabat semakin merambat. Semakin banyak yang percaya Injil, semakin banyak jiwa terselamatkan dan semakin banyak lidah yang akan mengaku Yesus adalah Tuhan.
Mereka yang memiliki keberanian mempertahankan iman bahkan hingga kematian menjemput layak kita hormati. Kali ini, kita akan mendengar kisah seorang pria yang menolak meninggalkan iman Kristennya meskipun diancam akan dihukum mati. Kisah ini datang dari negeri ginseng, Korea. Pria itu bernama Andrew Kim Taegon.
Andrew Kim Taegon
 |
| Korean Priest Andrew Kim Taegon, pcamp, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons |
Nama aslinya adalah Kim Taegon. Ia lahir pada 21 Agustus 1821 di Dangjin, Korea Selatan. Kim hidup di tengah keluarga Yangban (keluarga kelas bangsawan pada era Dinasti Joseon). Saat itu, masyarakat Korea masih kental dengan Konfusianisme, sebuah ajaran dari Cina yang menekankan moral dan etika manusia. Ketika ayah Kim mengenal iman Kristen dan memutuskan menjadi seorang Kristen, ia pun ketahuan dan akhirnya dihukum mati.
Kim kemudian dibaptis saat ia berumur lima belas tahun dan mendapat nama baptis Andrew (Indonesia: Andreas). Ia kemudian melakukan perjalanan sejauh 1.500 mil demi meneruskan pendidikannya di sebuah seminari di Makau. Pada tahun 1844 Kim ditahbiskan menjadi imam di Shanghai, Cina oleh Uskup Prancis Jean Joseph Jean-Baptiste Ferréol. Hal itu sekaligus menjadikannya sebagai imam Katolik pertama keturunan Korea. Kim pun kemudian kembali ke tanah kelahirannya untuk menyebarkan Injil pada semua orang.
Pada era Dinasti Joseon (1392-1897), ribuan orang Kristen mengalami penganiayaan, bahkan banyak yang terbunuh sebab Konfusianisme saat itu telah menjadi ideologi negara. Maka dari itu siapa yang tak memeluk konfusianisme akan dihukum mati. Sedangkan sebagian yang selamat dan percaya pada Yesus terpaksa harus beribadah secara sembunyi-sembunyi. Namun pada akhirnya persembunyian mereka ketahuan. Mereka lantas ditindas, disiksa, dan kemudian dibunuh. Dan salah satu yang ikut menjadi korban kekejaman Dinasti Joseon adalah Andrew Kim Taegon. Pada tanggal 16 September 1846, dalam usianya yang terbilang masih muda, yakni 25 tahun, Kim disiksa dan kemudian dipancung di sungai Han dekat Seoul.
Satu abad kemudian, tepatnya tanggal 6 Mei 1984, pemimpin Gereja Katolik saat itu, Paus Yohanes Paulus II, mengkanonisasi Andrew Kim Taegon bersama para martir Korea lainnya dan dihormati serta diperingati setiap tanggal 20 September.
Ini adalah waktu terakhir hidupku, dengarkan aku dengan penuh perhatian: Jika aku pernah berbicara dengan orang asing, itu untuk agama dan Tuhanku. Untuk DIa-lah aku mati. Kehidupan abadiku ada di titik permulaan. Jadilah orang-orang Kristen jika kamu ingin ada sukacita setelah kematian, karena Tuhan memiliki hukuman kekal bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya—Andrew Kim Taegon