Bukti-bukti keilahian Yesus di Injil yang terpampang jelas tak lantas begitu saja membuat orang-orang percaya. Ada beberapa kisah di Kitab Suci umat Kristen yang ditiru namun mengalami sedikit perubahan. Kisah yang hampir menyerupai namun final yang berbeda tentu tak bisa dipaksakan ada relasi di antara keduanya. Jika masih bersikeras dipaksakan pada Kitab Suci umat Kristen yang terlebih dulu ada dan tetap tak ada relasi di dalamnya, maka akan muncul sebuah tuduhan bahwa Kitab Suci umat Kristen-lah yang kisahnya dipalsukan dan dirubah. Tuduhan bahwa Injil telah dipalsukan bukan suara yang asing di telinga, dan dalam hal ini yang menjadi korban dari tuduhan tersebut adalah Rasul Paulus.
Selagi tak ada bukti, tuduhan hanyalah sebuah tuduhan dan tak bersifat fakta. Ukuran dan sudut pandang yang sama tak bisa dipaksakan untuk menilai yang lain. Namun untuk menjawab kesalahpahaman ini, kita perlu tahu apa ukuran mereka menilai Injil telah dipalsukan. Biasanya ukuran yang mereka gunakan untuk mengatakan Injil dipalsukan adalah:
- Isinya berbeda dengan Injil di abad pertama
- Injil yang asli turun dari surga
- Bahasa Injil
- Diubah oleh Paulus
1. Isinya berbeda dengan Injil di abad pertama
Selama perkembangan Kekristenan, Injil disalin terus-menerus. Inti dari penyalinan ini karena kemungkinan orang-orang pada saat itu ingin membaca kisah Yesus dan dikonsumsi secara pribadi. Karena penyalin-penyalin ini, hari ini kita telah memiliki lebih dari 20.000 manuskrip (salinan kuno). Beberapa manuskrip tertua yang berhasil ditemukan di antaranya:
- Papyrus 52 (125-160M), yang memuat Injil Yohanes
- Codex Sinaiticus (325-360), yang memuat sebagian besar Perjanjian Lama dan seluruh Perjanjian Baru
- Codex Vaticanus (325-350), yang memuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Papyrus 52 adalah manuskrip tertua yang berhasil ditemukan dan diperkirakan ditulis sekitar tahun 125-160 Masehi. Sedangkan Yohanes, Rasul Yesus, menurut tradisi wafat sekitar tahun 98 M. Karena jarak yang sangat dekat antara masa hidup Yohanes dan salinan Injilnya sendiri, maka sangat kecil kemungkinan Injil Yohanes mengalami distorsi atau perubahan kisah.
Memang sampai sekarang belum ada penemuan autograf (naskah asli dari penulis). Sangat sulit autograf dapat bertahan ribuan tahun tanpa tergerus zaman. Kendati demikian, dengan banyaknya salinan-salinan manuskrip kita dapat mengecek apakah Injil yang kita miliki sekarang persis dengan Injil sejak awal ditulisnya atau telah mengalami distorsi. Selain itu, dengan ilmu kritik teks kita dapat membandingkan seluruh salinan tersebut untuk melihat jika ada variasi yang bermunculan.
2. Injil yang asli turun dari Surga?
Banyak orang yang menuduh jika Injil asli yang diturunkan pada Yesus telah disembunyikan oleh Gereja. Kenyataannya, Yesus turun ke dunia tidak pernah membawa kitab dan dia juga tidak pernah menulis sebuah kitab. Injil berasal dari akar kata Yunani Ευαγγέλιο, yang berarti 'kabar baik'. Dan kabar baik itu adalah Firman yang menjadi manusia. Jadi, Yesus-lah Injil dan Yesus-lah kabar baik itu.
Para penulis Perjanjian Baru seutuhnya ditulis oleh manusia, namun ilham Allah atau Roh Kudus yang bekerja atas mereka dan setiap tulisan mereka. Bagi iman Kristen yang mewarisi iman Yahudi, Kitab Suci turun dari surga dan jatuh begitu saja ke dunia tidak pernah ada dalam konsep pemaknaan tulisan ilahi. Sama seperti kitab Taurat yang ditulis oleh Musa namun mendapat petunjuk dari Roh Allah. Jadi, bukan sebuah buku atau kitab yang turun dari langit, melainkan Roh Kudus sendirilah yang turun untuk menuntun para penulis mencatat setiap Firman Allah.
3. Bahasa Injil
Banyaknya bahasa dan terjemahan yang digunakan Injil menjadi kemudahan bagi setiap orang untuk memahami warta keselamatan. Namun di lain sisi, banyaknya bahasa dan terjemahan justru disalah artikan jika Injil selalu berubah dan tak pernah konsisten dengan tulisannya. Sebagian orang mungkin akan mengatakan jika sebuah Kitab Suci harus mempertahankan bahasa aslinya. Jika bahasa aslinya masih eksis, maka kitab itu akan disebut masih original dan tak tersentuh oleh perubahan.
Bagi iman Kristen, bahasa bukanlah sebuah masalah. Sebab Bapa adalah Allah bagi segala bangsa, suku, dan bahasa. Seandainya kita tidak bisa berbicara menggunakan bahasa yang dikenakan pada Kitab Suci, masakan Allah tak mau mendengar doa yang kita panjatkan dengan bahasa ibu kita? Namun, jika bahasa masih disalahkan dan diperdebatkan, dan bahasa dianggap sebagai syarat keharusan sebuah Kitab Suci, maka itu tetap bukan masalah bagi iman Kristen. Sebab di antara 20.000 naskah yang eksis, 5.000 di antaranya ditulis dengan huruf Yunani Koine, yakni bahasa asli Perjanjian Baru.
Bagaimana dengan terjemahan? Baik Kitab Suci ataupun sebuah buku biasa karangan manusia, jika kita menterjemahkannya ke dalam bahasa lain hasilnya pasti tak bisa dikatakan sempurna. Pasti ada perbedaan struktur dan tata bahasa yang digunakan untuk menterjemahkannya. Itulah sebabnya ada banyak revisi pada versi Alkitab. Ingat, bukan maknanya yang direvisi, tapi terjemahannya. Sebagai contoh mari kita bandingkan Yohanes 13:13 dalam tiga versi berikut.
You call me Teacher and Lord, and you say well, for so I am—(New King James Version)
Kamu ini memanggil Aku Guru dan Tuhan, maka betullah katamu itu, karena Akulah Dia—(Terjemahan Lama 1958)
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan—(Terjemahan Baru 1974)
Jika kita melihat dengan mata telanjang, Terjemahan Lama dan Terjemahan Baru secara harfiah berbeda. Namun keduanya mengandung makna yang sama. Begitu juga jika kita bandingkan dengan bahasa Inggris. Secara kata demi kata, sangat tidak mungkin jika kita menterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan mempertahankan struktur teks yang sama.
4. Diubah oleh Paulus
Paulus sebelumnya adalah seorang Yahudi fanatik yang anti terhadap Kristus dan Kekristenan, bahkan ia turut menyiksa jemaat mula-mula. Namun kemudian Paulus bertobat dan dipilih secara khusus oleh Yesus untuk mewartakan Injil. Melalui pembaruan Tuhan, kehidupan Paulus seakan berubah drastis, mulai dari seorang penuh benci dan dendam kemudian menjadi lemah lembut dan yang paling aktif mewartakan Injil.
Sayangnya, pertobatan Paulus tak membuat orang yang melihatnya lantas percaya. Sifatnya yang berubah drastis membuat orang-orang bertanya-tanya. Perubahan Paulus malah membuatnya dibenci oleh kaum bangsanya sendiri. Bahkan, sampai sekarang namanya selalu hangat dibicarakan di ranah polemik. Orang-orang sulit menerima kenyataan bahwa pendosa bisa bertobat. Memang Paulus tidak bertemu dengan Yesus secara fisik, namun ia mengalami perjumpaan pribadi dengan-Nya lewat sebuah penglihatan (Kis 9). Pertemuan itulah yang menjadi pemicu Paulus berubah drastis.
Lagi pula, Paulus juga hidup sezaman dengan rasul-rasul Yesus lainnya. Seandainya Paulus memang memalsukan Injil atau mengajarkan kesesatan, pastinya para rasul lainnya akan menegurnya. Paulus juga adalah orang Israel dan keturunan dari Abraham (Rom 11:1). Sebagai orang Israel Paulus tentunya paham apa makna keselamatan: bahwa keselamatan hanya ada di bangsa Israel sebagai umat Perjanjian Allah. Jika ia sebelumnya meyakini keselamatan hanya datang di bangsa Israel, lalu kenapa ia justru menjadi pengikut Kristus? Jika Paulus tidak benar-benar berjumpa dengan Yesus tidak mungkin Paulus berubah drastis seperti itu.
Bukan hanya itu saja. Paulus mati sebagai martir demi imannya pada Yesus di bawah pemerintahan Kaisar Nero sekitar tahun 60-an. Apa mungkin seorang yang merusak atau mengkorupsi Injil rela mati karena iman yang dibuatnya? Apa mungkin seorang yang katanya pembuat agama Kristen rela mati demi ajaran palsu yang dibuatnya? Apa mungkin seorang pembohong rela mati demi mempertahankan kebohongannya? Paulus tidak akan mau tersiksa atau mati syahid jika dia tidak sedang mengatakan kebenaran.
Kesimpulan
Jika tuduhan-tuduhan yang dilontarkan pada Injil masih mencuat, kita selayaknya bertanya apakah para penuduh itu punya Injil yang asli? Apakah mereka punya bukti jika Gereja atau Paulus telah memalsukan Injil? Jangan-jangan mereka malah percaya pada Injil Barnabas yang justru baru muncul di abad ke-16?! Jadi, selagi tidak ada bukti atau argumen yang bersifat akademis maupun teruji secara historis, semua hal buruk yang ditujukan pada Injil hanyalah sekadar sebuah fitnah.