• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Thursday, April 28, 2022

Home » Apologetika , Lain » Pengaruh Petrus pada Injil Markus

Pengaruh Petrus pada Injil Markus

  Only Truth     Thursday, April 28, 2022

Injil Markus adalah Injil kedua dalam Perjanjian Baru. Injil ini diberi nama sesuai dengan nama pengarangnya yakni Markus. Menurut Agustinus dari Hippo, Injil Markus ditulis setelah Matius menyelesaikan Injil versinya, sedangkan para ahli sarjana barat berpendapat jika Injil Markus adalah kitab paling awal ditulis di antara kitab lainnya yang ada di Perjanjian Baru. Namun bukan itu yang akan kita bahas.


Kali ini kita akan membahas kredibilitas Injil Markus. Matius menulis Injilnya karena ia adalah saksi mata sekaligus murid langsung Tuhan Yesus, Lukas menulis Injilnya melalui keterangan para saksi dan pelayan Firman yang hidup di zaman itu, sedangkan Yohanes menulis Injilnya karena ia juga adalah saksi mata sekaligus murid langsung Tuhan Yesus. Lalu, bagaimana dengan Markus dan dari mana sumber yang ia dapat untuk menulis Injil versinya?


Menurut tradisi Gereja yang terus dipertahankan hingga kini, Petrus adalah sumber utama dalam kepenulisan Injil Markus. Jika benar sumber Markus menulis Injil adalah Petrus—yang juga adalah murid Yesus—, maka kredibilitas Injil Markus tak perlu dipertanyakan. Berikut alasan-alasan lain yang menjadikan Petrus sebagai sumber kepenulisan Injil Markus.


Daftar isi
  • 1 Nama Petrus yang disebut secara umum
  • 2 Sesuai dengan ajaran Petrus
  • 3 Berusaha melindungi Petrus
  • 4 Pandangan Bapa Gereja terhadap kepenulisan Injil Markus
  • 5 Kesimpulan

1. Nama Petrus yang disebut secara umum

Di antara ketiga Injil (Matius, Lukas, Yohanes), Markus menjadi satu-satunya yang tak menyebut Petrus sebagai "Simon Petrus". Terkadang Markus mencatat namanya hanya dengan sebutan Petrus atau Simon saja, tanpa menggabungkan kedua nama tersebut. Ini bukan tanpa alasan.


Dalam Terjemahan Baru, Injil Yohanes menggandeng nama Simon Petrus sebanyak enam belas kali. Tentu yang dilakukan Yohanes dengan maksud agar yang membacanya bisa membedakan Simon murid Yesus dengan Simon-Simon lainnya, karena namanya cukup umum pada saat itu. Dengan penyebutan Markus yang biasa saja terhadap nama Petrus atau Simon, ini mengindikasikan adanya hubungan dekat antara Petrus dan Markus. Jika Petrus ada di sisi Markus, tentunya Markus tak perlu berusaha menjelaskan nama Petrus secara konkret karena Petrus sendiri ada di depannya untuk mendiktenya.


2. Sesuai dengan ajaran Petrus

Rasul Petrus memiliki gaya berkhotbah yang jarang membahas kehidupan Gurunya, Yesus Kristus. Gaya pengajarannya ini dapat kita temukan samar-samar di tulisan Lukas.

Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya—Kisah Para Rasul 1:21-22
Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati—Kisah Para Rasul 10:37-41

Hanya Injil Markus yang tak mencantumkan cerita kelahiran atau detail kehidupan Yesus seperti yang dicatat di Matius atau Lukas. Fokus kepenulisan Injil Markus ini paralel—namun secara implisit—dengan gaya pengajaran yang disampaikan Petrus di atas, seperti baptisan Yohanes (Markus 1), penyaliban Yesus (Markus 15), hingga kebangkitan-Nya dan penampakan-Nya pada murid-murid-Nya (Markus 16). Uskup Papias dari Hierapolis (60-130), juga mengatakan bahwa Markus menulis Injilnya berdasarkan perkataan dari Petrus.


3. Berusaha melindungi Petrus

Menurut James Warner Wallace dalam bukunya "Cold-Case Christianity", Injil Markus sangat jarang menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan Petrus. Peristiwa yang tak tercatat itu seperti saat Petrus melakukan tindakan atau mengucapkan sesuatu yang gegabah atau bersifat memalukan. Markus seakan-akan berusaha melindungi Petrus dari tindakannya yang gegabah atau bisa juga Petrus yang enggan untuk menceritakannya. Bandingkan peristiwa-peristiwa berikut yang dicatat dari sudut pandang di luar Markus.


A. Iman Petrus yang goyah ketika ia berjalan di atas air. Dicatat di Matius 14 namun tak dicatat di Markus 6.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: 'Itu hantu!', lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!' Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: 'Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.' Kata Yesus: 'Datanglah!' Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: 'Tuhan, tolonglah aku!' Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: 'Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'—Matius 14:25-31
Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!' Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung—Markus 6:48-51

B. Perkataan Petrus yang gegabah karena tak mengetahui kehendak Allah. Dicatat di Matius 16 namun tak dicatat di Markus 8.

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.' Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.'—Matius 16:21-23
Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: 'Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.'—Markus 8:31-33

Setelah membandingkan ayat-ayat di atas yang ditulis dalam sudut pandang berbeda, kita dapat melihat bahwa ada semacam reaksi yang dilakukan Markus terhadap beberapa tindakan yang dilakukan Petrus. Mungkin agak kasar jika kita menyebut Markus berusaha melindungi Petrus. Namun ada kemungkinan lain yang lebih masuk akal, yakni Markus mencatat setiap perkataan Petrus ketika ia berkhotbah, dan tentu saja dalam khotbah Petrus ia tak akan berfokus pada cerita dirinya sendiri.


4. Pandangan Bapa Gereja terhadap kepenulisan Injil Markus

Berikut beberapa tulisan dari Bapa Gereja di abad awal yang mencatat tentang keterkaitan Injil Markus dengan Petrus.

Ini juga dikatakan oleh penatua (Yohanes): Markus, yang menjadi juru bahasa bagi Petrus, menulis dengan teliti–meskipun tidak berurutan–apa saja yang diingat-nya [Petrus] dari perkataan atau tindakan Kristus. Karena dia [Markus] tidak mendengar sendiri maupun menjadi pengikut langsung dari Tuhan, tetapi kemudian, seperti saya katakan, ia menjadi pengikut Petrus, yang menyesuaikan pengajarannya menurut kebutuhan pendengarnya, tetapi tidak dengan maksud untuk memberikan riwayat yang beruntun dari pengajaran Tuhan, sehingga Markus tidak keliru ketika menuliskan sejumlah hal menurut ingatannya. Karena dia berhati-hati dalam satu hal, yaitu tidak menghilangkan apa pun yang didengarnya, maupun tidak menyatakannya dengan tidak tepat—Eusebius dari Kaisarea (265-340), mengutip tulisan dari Papias, dalam bukunya Church History (Book III, Chapter 39)
Setelah keberangkatan mereka, Markus, murid dan juru bahasa Petrus, menyerahkan pada kami dalam bentuk tulisan apa yang sudah diajarkan oleh Petrus—Ireneus dari Lyons (130-200 M), dalam bukunya Againts Heresis (Book II, Chapter 1)
Markus, murid dan juru bahasa Petrus, menulis suatu Injil pendek atas permintaan saudara-saudara di Roma yang memuat apa didengarnya dari perkataan Petrus. Ketika Petrus mendengar hal itu, ia menyetujuinya dan mempublikasikannya kepada gereja-gereja untuk dibawa atas otoritasnya sebagaimana dicatat oleh Klemens dalam kitab keenamnya, Hypotyposes, dan Papias, uskup dari Hierapolis—Hieronimus atau Jerome (347-420), dalam karyanya De Viris Illustribus

Kesimpulan

Setelah menelaah singkat dan menguji kredibilitas Injil Markus, kita dapat memastikan jika Injil Markus memang layak untuk dipercaya karena bersumber dari saksi mata atau orang yang akrab dengan peristiwa-peristiwa pada saat itu. Markus adalah teman seperjalanan Petrus, bahkan ia juga dianggap sebagai anak rohaninya (1 Petr 5:13). Dengan demikian, Injil Markus memposisikan dirinya sebagai sumber primer dalam sebuah sejarah dan tak perlu lagi dipertanyakan kredibilitasnya.

Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya—2 Petrus 1:16
By Only Truth at April 28, 2022
Labels: Apologetika, Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media