• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Sunday, April 24, 2022

Home » Ajaran » Apa maksud Yesus berkata: Bapa lebih besar daripada Aku?

Apa maksud Yesus berkata: Bapa lebih besar daripada Aku?

  Only Truth     Sunday, April 24, 2022
Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku—Yohanes 14:28

Ketika kita membaca sekilas perkataan Yesus tersebut, pasti akan timbul pertanyaan spontan: Jika Yesus adalah Allah, kenapa Dia berkata Bapa lebih besar dari-Nya? Pertanyaan seperti ini wajar ditanyakan bila kita tak memahami natur dalam pribadi Yesus Kristus.


Pertama, kita perlu tahu bahwa Yesus memiliki dua kodrat atau natur: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Kodrat Yesus yang sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusia tidak bercampur aduk. Hal ini dapat kita ketahui dalam kitab suci.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!—Filipi 2:5-11

Pada abad ke-4 seorang bernama Arius mengajarkan bahwa Yesus Sang Anak lebih rendah dari Allah Bapa. Tentu pengajaran Arius ini salah dan ditentang Gereja, sebab jika Yesus adalah Allah namun lebih rendah dari Allah Bapa, itu sama saja Kristen menyembah dua Allah atau disamakan dengan politeisme. Ini berlawanan dengan iman Kristen sebagai agama monoteis dan percaya bahwa Allah itu esa (Mark 12:29). Padahal Injil sudah terang-terangan memberikan bukti keilahian Yesus dan kesetaraan-Nya dengan Bapa.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah—Yohanes 1:1

Dari Injil Yohanes kita dapat mengetahui jika Firman itu adalah Allah. Dalam Yohanes 14:28, Yesus berkata bahwa Ia akan pergi kepada Bapa-Nya. Firman yang menjadi manusia bernama Yesus, dia disalibkan dalam rupa-Nya sebagai manusia tapi tidak dengan keilahian-Nya, dan ketika pelayanan-Nya di dunia telah selesai, Ia akan kembali pada Bapa. Itu berarti Yesus sehakikat dengan Bapa. Kita juga bisa mengetahui ini dari perkataan Yesus sendiri.

Aku dan Bapa adalah satu—Yohanes 10:30

Ketika Firman menjadi daging dan sama seperti manusia pada umumnya, hanya saja Ia tak berdosa atau suci, itu berarti Ia terikat oleh ruang dan waktu. Itu berarti Ia merasakan rasa sakit seperti yang dialami manusia. Ketika Firman itu berinkarnasi bukan berarti kehilangan keilahian-Nya sebagai Firman Allah. Jika Allah Bapa kekal, maka Firman-Nya pun juga kekal. Saat Yesus mengambil natur atau kodrat sebagai manusia, Ia tidak melepaskan natur ilahi-Nya. Dalam kemanusian-Nya itulah Ia bicara bahwa Ia lebih rendah dari Bapa. Dalam kodrat-Nya sebagai sepenuhnya manusialah Ia tak menyamakan diri-Nya dengan Allah (Filipi 2:7). Bahkan, Firman yang berinkarnasi menjadi manusia itu secara sementara lebih rendah dari malaikat.

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia—Ibrani 2:9

Ketika kita berbicara tentang "Allah", maka kita sedang berbicara kodrat ilahi. Sama seperti kodrat manusia. Seorang anak kecil bisa berkata, "ayahku lebih besar dari aku", tapi itu tidak akan merubah fakta bahwa ia dan ayahnya kodratnya sama-sama manusia. Begita juga dengan perkataan Yesus. Ketika Ia berkata bahwa Bapa lebih besar dari-Nya, itu tidak akan merubah fakta bahwa Ia tetap memiliki natur ilahi dan sehakikat dengan Bapa.


Jadi, maksud perkataan Yesus bahwa Bapa lebih besar dari-Nya, bukanlah pernyataan yang berfokus pada ketidaksetaraan-Nya, namun berkaitan dengan peran Tritunggal Mahakudus. Jika kita bicara hakikat Allah, Yesus dan Bapa adalah satu hakikat atau esensi, akan tetapi peran Allah Bapa lebih besar karena mengutus Sang Firman untuk menjelma menjadi manusia. Dan perlu ditegaskan, kerendahan Sang Putera sebagai manusia hanyalah bersifat sementara selagi ada di dunia. Dan Sang Putera akan kembali pada kemulian-Nya yang ada bersama Bapa setelah pelayanan-Nya di dunia selesai. Ia tak akan terikat lagi dengan keterbatasan-Nya saat menjelma menjadi manusia setelah Firman itu kembali pada Allah.

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada—Yohanes 17:5
By Only Truth at April 24, 2022
Labels: Ajaran

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media