• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Wednesday, May 11, 2022

Home » Ajaran , Apologetika » Allah Yang Esa dalam Perspektif Iman Kristen

Allah Yang Esa dalam Perspektif Iman Kristen

  Only Truth     Wednesday, May 11, 2022

Keesaan Allah adalah sebuah misteri besar bagi umat beragama dan tak bisa dipahami oleh akal manusia. Pemahaman akan adanya "Sesembahan" yang esa atau satu telah menjadi pokok pemikiran bagi agama penganut monoteisme, termasuk Kekristenan. Kekristenan yang lahir dari rahim Yahudi tentu juga memiliki pemahaman yang sama akan misteri keesaan Allah. Pernyataan Allah Yang Esa beberapa kali dinyatakan oleh para nabi, bahkan Yesus sendiri juga meneguhkannya dalam Perjanjian Baru.

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!—Ulangan 6:4 (Perjanjian Lama)
Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa—Markus 12:29 (Perjanjian Baru)

Bagaimana dengan Tritunggal yang dipercayai iman Kristen? Apakah Esa bertentangan dengan Tritunggal? Apa sebenarnya "esa" itu? Mari kita lihat ke dalam bahasa asli yang digunakan para penulis Alkitab ini.

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!


Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one!


שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָֽד


ἄκουε Ισραηλ κύριος ὁ θεὸς ἡμῶν κύριος εἷς ἐστιν

Dalam bahasa Ibrani bunyinya, "Shema Yisrael YHVH (dibaca: Adonay) Eloheinu, Adonay Echad". Sedangkan dalam bahasa Yunani berbunyi, "Akoue Israel Kurios ho Theos hemon Kurios heis estin". Jadi kata "esa" sepadan dengan kata one (Inggris), echad (Ibrani), heis (Yunani).


Kata "echad" dalam bahasa Ibrani diterjemahkan menjadi 'satu'. Namun kata tersebut tidak menunjukkan "satu" yang mutlak. Jika ingin menyampaikan perihal numerik, Ibrani menyediakan kata yang lebih tepat untuk digunakan, yaitu "yachid". Kata yachid beberapa kali digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menunjuk sesuatu yang berjumlah satu (mutlak) atau tunggal. Salah satu contohnya adalah penyebutan yachid untuk menunjuk Ishak sebagai anak tunggal Abraham dalam Kejadian 22:2.

Firman-Nya: Ambillah anakmu yang tunggal (יָחִ֖יד) itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.

Uniknya kata yachid (יָחִ֖יד) ini tak pernah digunakan penulis Alkitab untuk disandingkan dengan "Allah" atau "Sesembahan". Para penulis justru menyandingkan kata echad (אֶחָֽד) untuk menunjuk "keesaan" Allah.


Di sisi lain, kata echad juga digunakan untuk menunjuk kesatuan, seperti siang dan malam yang membentuk satu hari (Kej 1:5), laki-laki bersatu dengan istrinya dan menjadi satu daging (Kej 2:24), dan bahkan dipakai untuk menunjuk setandan anggur (Bil 13:23).


Jadi, seandainya Alkitab ingin memberi petunjuk pada kita bahwa keesaan Allah itu adalah benar-benar satu, absolut, dan tak terpisah, maka seharusnya para penulisnya memakai kata yachid dan bukannya kata echad. Kata echad yang digunakan sebaliknya justru mengandung makna keesaan atau kesatuan komposit. Dan memang kata inilah yang dipakai Musa dan para penulis Perjanjian Lama lainnya untuk melukiskan sedikit misteri keesaan Allah.


Fun Fact: Ulangan 6:4 juga dikenal sebagai "Shema Yisrael" yang adalah kredo/syahadat/pernyataan iman bagi Yahudi sampai sekarang

Beralih dari echad dalam bahasa Ibrani, kita menuju kata Yunani "heis" yang setara dengan echad di Perjanjian Lama namun digunakan di Perjanjian Baru. Melalui kata "heis", ini menjadi kunci kita untuk mengetahui bahwa Yesus bukanlah sekadar manusia biasa. Itu terlihat bagaimana Ia sendiri mengatakan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (heis).

Aku dan Bapa adalah satu


εγω και ο πατηρ εν εσμεν

[ego kai ho pater heis eimi]


Yohanes 10:30

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu


και εγω την δοξαν ην δεδωκας μοι δεδωκα αυτοις ινα ωσιν εν καθως ημεις εν


Yohanes 17:22

Para Rasul pun menggunakan kata echad atau heis dalam tulisan mereka untuk melukiskan misteri keesaan Allah.

Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa


περι της βρωσεως ουν των ειδωλοθυτων οιδαμεν οτι ουδεν ειδωλον εν κοσμω και οτι ουδεις θεος ετερος ει μη εις


1 Korintus 8:4


Jadi, esa atau echad atau heis tidak sedang menekankan sifat matematis. Keesaan Allah adalah hal yang misteri. Tak dapat dijelaskan dan dipahami oleh logika manusia yang terbatas. Manusia yang dibatasi ruang dan waktu tak akan mampu memahami Allah yang tak terikat ruang dan waktu.


Namun, melalui Alkitab yang diwahyukan Allah dari perantaraan para nabi dan para rasul, sedikit misteri Allah tersingkap. Melalui Yesus juga kita dapat menilik sedikit misteri Allah. Pemahaman Allah dapat kita pahami melalui tulisan-tulisan ilahi yang diilhami Roh Kudus. Dengan begitu, sejauh Allah menyatakan diri-Nya melalui Kitab Suci dan Anak-Nya, sejauh itulah kita dapat mengenal dan memahami-Nya. Dan di luar itu tidak dapat!

By Only Truth at May 11, 2022
Labels: Ajaran, Apologetika

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media