Tahun 1945, seorang petani di Nag Hammadi, Mesir, tak sengaja menemukan tulisan-tulisan kuno yang kemudian dikenal dunia dengan nama "Injil Tomas". Berbeda dengan tiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), Injil Tomas tidaklah berfokus pada kelahiran, penyaliban, kematian atau kebangkitan Yesus. Malahan, Injil Tomas nampak seperti koleksi 114 perkataan yang "konon" dikatakan Yesus sendiri.
Ketika nama Injil Tomas naik ke permukaan, sikap skeptis pada Gereja bertambah kuat sehingga menuduh Gereja telah menyembunyikan sesuatu. Apalagi setelah Injil Tomas tersebar dan isinya mengandung ajaran yang dinilai seksisme. Tuduhan dan keraguan pada Gereja ini muncul sebab perkataan Petrus (di Injil Tomas) yang seolah-olah merendahkan kaum perempuan.
Simon Petrus berkata kepada mereka, 'Suruh Maria meninggalkan kita, sebab para perempuan tidak layak hidup.' Yesus berkata, 'Lihat, Aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia pun dapat menjadi roh yang hidup seperti kalian para laki-laki. Sebab setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga'—Injil Tomas 114
Tak cukup sampai di situ. Gereja juga mendapat serangan setelah film berjudul "Stigmata" dirilis. Film yang dibuat di Amerika pada tahun 1999 ini menyinggung Injil Tomas. Mereka seakan membuat semacam konspirasi agar wajah Gereja menjadi buruk. Namun sebaliknya, ternyata melalui film ini kita menjadi tahu bahwa sang penulis dan pembuat film memiliki kualitas pengetahuan yang minim. Mereka sibuk mengejar keuntungan dengan menjatuhkan Gereja dan lupa untuk belajar membedakan mana yang fakta dan mana yang mitos.
Ada banyak orang yang tak mengetahui bagaimana fakta sebenarnya Injil Tomas ini. Ada dua versi naskah Injil Tomas yang ditemukan. Versi pertama ditulis dalam bahasa Yunani yang diperkirakan berasal dari tahun 200-an, sedangkan versi kedua ditulis dalam bahasa Koptik dan diperkirakan berasal dari sekitar tahun 300-an. Para ahli berpendapat bahwa naskah berbahasa Koptik merupakan terjemahan dari naskah yang sudah lebih dulu ada, yakni naskah Yunani. Masih ada perdebatan kapan tepatnya teks-teks ini disusun. Sebagian isi dari teks Injil Tomas selaras dengan Injil Sinoptik dan sebagian lagi ada unsur-unsur ajaran Gnostik.
Terlepas dari perdebatan tahun dan isinya, Gereja punya alasan kuat untuk tak mengakui Injil Tomas atau menolaknya, dan tak menjadikannya dalam bagian Perjanjian Baru. Mengapa?
1. Kepenulisan Injil Tomas
Pada permulaan Injil Tomas bertuliskan seperti berikut:
Inilah perkataan tersembunyi Yesus yang hidup yang dikatakan-Nya dan Yudas Thomas (Didimus) mencatatnya
Perhatikan! Injil Tomas menulis "perkataan tersembunyi"; seolah-olah itu bersifat rahasia dan hanya ditujukan padanya. Tapi kenapa sang penulis harus mengatakan bahwa itu "perkataan tersembunyi"? Hal seperti ini tidak hanya kita temui di Injil Tomas, tapi juga di injil-injil apokrifa lainnya. Mereka mengaku tulisannya berasal dari perkataan langsung Yesus Kristus dan secara pribadi hanya ditujukan pada diri mereka sendiri. Namun ada maksud tersembunyi mengapa mereka mengatakan tulisan mereka rahasia.
Para penulis kitab apokrifa ini berusaha agar tulisan mereka tidak diperika (cross check) dan agar tidak dikaji oleh para pembacanya. Jika apa yang mereka tulis benar dan mengandung kesahihan, seharusnya mereka tak takut jika tulisannya akan dipertanyakan. Bandingkan dengan Injil Lukas. Di mana penulisnya harus melakukan penyelidikan terlebih dulu dari para saksi peristiwa sebelum mencatatnya (Luk 1:1-4).
Penulis Injil Tomas seakan membuat pembaca di masanya percaya buta pada apa yang ditulisnya tanpa melakukan pemeriksaan atau mengkritik tulisannya dengan mengatakan bahwa tulisannya merupakan perkataan "rahasia" yang dikatakan Yesus pada penulisnya.
Lalu, siapa penulisnya? Injil Tomas dinamakan demikian karena sesuai dengan pengakuan penulisnya, yakni oleh Tomas, salah satu dari kedua belas murid Yesus. Kenyataannya, sejarah dan tradisi Gereja tak pernah mencatat jika Tomas menulis Injil versinya sendiri. Jadi, sampai sekarang pun penulis Injil Tomas masih belum dipastikan siapa.
2. Penulis tidak dikenal Gereja
Tulisan-tulisan Injil Tomas terdengar asing bagi telinga Gereja. Perlu diketahui terlebih dulu, salah satu syarat Injil atau kitab diterima atau dikanonkan menjadi bagian Perjanjian Baru adalah bersifat apostolik (berdasarkan ajaran para rasul). Sebagai contoh, kenapa Injil Yohanes yang paling akhir dan lambat ditulis justru diterima oleh Gereja? Jawabannya adalah karena Yohanes murid Yesus langsung dan saksi mata. Tradisi Gereja juga mengatakan jika Injil Yohanes memang ditulis oleh Yohanes yang asli, bukan orang lain yang mengaku-ngaku sebagai Yohanes.
Bagaimana dengan Injil Tomas? Bukankah penulisnya mengaku dia adalah Tomas? Bukankah Tomas juga termasuk dari dua belas murid?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tradisi Gereja tidak pernah mencatat jika Tomas menulis Injilnya sendiri. Tidak ada kesaksian dari para murid penerusnya yang mengatakan jika Tomas meninggalkan sebuah kitab atau Injil. Lagi pula, Injil Tomas diperkirakan ditulis dan berasal dari abad 2-3 M. Alasan itu sangat kuat untuk mempertimbangkannya tidak menjadi bagian kanon Perjanjian Baru. Dengan begitu, kita juga dapat memastikan bahwa bukan Tomas-lah penulisnya, sebab tulisan itu baru ditulis jauh setelah Rasul Tomas sendiri wafat.
3. Ajaran yang berlawanan
Jika kita kembali melihat ayat 114 di Injil Tomas, dikisahkan Petrus yang menyuruh Maria pergi dan menganggap kaum perempuan tak layak menerima ajaran rohani. Perkataan Petrus ini dianggap sebagai bentuk seksisme dan seolah sedang meremehkan gender perempuan. Bahkan, Yesus di Injil Tomas, mengajarkan bahwa perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk Surga. Ini adalah ajaran sembrono. Perkataan-perkataan di Injil Tomas patut diragukan karena tak bersifat apostolik. Injil Tomas tak sesuai dengan apa yang Yesus dan para rasul ajarkan. Sebab Tuhan sendiri menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan.
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka—Kejadian 1:27
Rasul Paulus pun juga menegaskan hal ini dalam suratnya, bahwa tidak ada batas pembeda bagi orang percaya, termasuk perkara gender.
Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus—Galatia 3:28
Ajaran-ajaran yang disampaikan Injil Tomas adalah ajaran asing dan berbau Gnostisisme. Sedangkan Gereja mempertahankan ajaran dari para rasul dan murid-murid Yesus, sehingga bisa membedakan mana Injil asli dan palsu.
4. Pandangan Bapa Gereja tentang Injil Tomas
Injil Tomas bukanlah sebuah produk polemik baru. Sejak abad awal, Bapa-bapa Gereja yang hidup sezaman dengan Injil Tomas telah memperingatkan untuk berhati-hati dan jangan mempercayai injil tersebut. Hippolitus dari Roma (155-235) memberikan informasi penting bahwa injil tersebut digunakan oleh Naassenes, sebuah sekte Gnostik Kristen yang berkembang di Suriah. Origen (185-253) mengelompokkannya ke dalam ajaran heretic atau sesat. Kemudian Sirilus dari Yerusalem (315-386) mengatakan Injil Tomas ditulis oleh Maniisme, para pengikut ajaran Gnostik.
Kesimpulan
Isinya yang sesat dan bertentangan dengan ajaran Yesus dan para rasul cukup membuat kita untuk meragukan injil tersebut. Tidak otentik, asing di telinga para penerus rasul dan murid-murid, teks yang tak mewartakan "kabar baik", bukanlah sebuah Injil. Injil adalah kabar baik, kabar keselamatan, dan penggenapan akan apa yang Allah janjikan. Jadi, bagaimana kita bisa percaya Injil Tomas jika injil itu sendiri tak menyampaikan kabar baik dari Allah?