Sejak abad awal ketika Gereja tengah mengembangkan sayapnya, Gereja tak henti-hentinya mendapat serangan dari ajaran-ajaran sesat. Ajaran sesat atau bidat sering kali menyerang inti iman Kristen yang sejati, yakni tentang Tritunggal dan Kristologi. Salah satu ajaran yang menyimpang dari iman Kristen adalah Koliridianisme. Ajaran sesat ini berhubungan dengan Mariologi, yang mengajarkan menyembah dan menuhankan Bunda Maria.
Ajaran ini tentunya ditentang keras oleh Gereja. Gereja memberi penghormatan kepada Bunda Maria, Perawan Abadi, namun tak menyembahnya sebab tentu saja bertentangan dengan iman Kristen yang monoteis. Yesus Kristus sendiri mengajarkan bahwa Allah itu esa.
Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa—Markus 12:29
Sekte Koliridianisme ini muncul sekitar abad ke-4 dan berkembang di wilayah Arabia. Tidak banyak sumber-sumber pasti mengenai asal usul sekte ini, namun beberapa ahli berpendapat bahwa para penganutnya membawa ajaran ini dari Trakia atau Skithia dan tersebar di Arabia. Ajaran ini pun dikenal oleh masyarakat sekitar sehingga menimbulkan prasangka bahwa Kekristenan memuja Allah Tritunggal yang terdiri dari Bapa, Yesus Kristus, dan Bunda Maria.
Sekte ini pertama kali diperkenalkan oleh Epifanius dari Salamis dalam bukunya Panarion yang ditulis sekitar tahun 376 M. Nama Koliridianisme diambil dari kata Yunani κολλυρις, yang artinya 'roti/kue'. Dinamakan demikian karena sekte ini mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Bunda Maria atau "dalam nama Maria". Apa yang mereka lakukan tentu bertentangan dengan ajaran iman Kristen yang ortodoks (lurus). Bunda Maria dianggap sebagai Dewi ilahi dan dijadikan objek penyembahan. Perlu diketahui juga bahwa kebanyakan para penganutnya adalah wanita, dan kuat kemungkinan mereka mengembangkan ajaran hasil dari sinkretisme antara ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal dengan ajaran tradisi penyembahan pada dewi-dewi pagan.
Semua yang berkaitan dengan ajaran Koliridianisme ini ditolak dan dinyatakan sebagai bidat oleh Gereja. Sebab, menyembah Maria sama saja menyembah ilah asing atau telah melakukan penyembahan berhala. Gereja dengan tegas mengajarkan menyembah satu Allah, yakni Allah Tritunggal. Iman Kristen menghormati Bunda Maria, sebab dari rahimnya telah lahir Juruselamat kita. Kita menghormatinya, namun tidak menyembahnya. Alkitab sendiri telah menegaskan bahwa jangan ada ilah lain di hadapan Allah yang Sejati.
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku—Keluaran 20:3
Kendati sekte ini (mungkin) tak lagi eksis, Kekristenan terlanjur disalahpahami oleh banyak orang dan dituduh menuhankan Maria. Meskipun mungkin sekte ini tak lagi ada, namun pemikiran-pemikirannya masih bisa kita jumpai di era modern sekarang, seperti gerakan feminisme fanatik yang menggambarkan Allah dalam pandangan mereka sendiri sebagai kaum feminis. Pemikiran seperti ini yang ngawur mengenai Allah merupakan sebuah penistaan dan memang pantas dikutuk oleh Gereja.