Ketika Yesus Kristus memulai pelayanan-Nya di dunia ini, banyak mukjizat yang telah Ia lakukan, seperti mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, hingga membangkitkan orang mati. Mukjizat mungkin terdengar sangat aneh jika terjadi di dunia yang modern ini, bahkan akan dianggap sebagai sebuah peristiwa non-ilmiah. Namun siapa sangka bahwa mukjizat-mukjizat masih ada dan terus terjadi di sekitar kita?
Mukjizat Gunung Berpindah di Mesir
Salah satu peristiwa mukjizat luar biasa datang dari Gereja Koptik di tanah Mesir. Pada masa pemerintahan khalifah Dinasti Fatimiyah (975-996 M), al-Imam al-Aziz billah bin al-Muizz, agama Islam mulai disebarkan di Mesir yang di mana saat itu masyarakatnya sudah menjadi penganut Kristen Koptik. Pada waktu itu Patriark Gereja Koptik dijabat oleh Anba Abram As-Suryani.
Kedatangan khalifah ini ternyata membuat beberapa orang tak senang karena peraturan-peraturan yang dibuatnya, salah satunya adalah Ibn Killis yang seorang Yahudi. Alasan mengapa Ibn Killis ini tak suka dengan kedatangan sang khalifah adalah karena jabatannya sebagai gubernur terancam. Guna mempertahankan posisinya tersebut, Ibn Killis lantas berusaha merebut hati sang khalifah dengan menyerang iman umat Kristen.
"Tahukan engkau, hai Raja kaum beriman, dalam Kitab orang-orang Kristen tertulis apabila seseorang memiliki iman sebesar biji sesawi saja, ia akan dapat menggerakkan gunung dari tempatnya," kata Ibn Killis yang berusaha memprovokasi sang khalifah.
Ibn Killis bermaksud menghasut sang khalifah dengan memanggil Patriark, pemimpin tertinggi Gereja Koptik, untuk membuktikan kebenaran tersebut. Apa yang dikatakan Ibn Killis ini diambil dari Injil Matius 17:2.
Ia berkata kepada mereka: Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
Sang khalifah pun memanggil Patriark Abram untuk membuktikan kebenaran ayat di Injil tersebut. Padahal ayat tersebut tak bisa diartikan secara harfiah. Kendati demikian, sang Patriark tak dapat mengelak dari permintaan raja. Jika sang Patriark Abram tak bisa mendatangkan keajaiban seperti yang tertera di Injil tersebut, maka Kekristenan akan dianggap sebagai sebuah dongeng semata.
Bukan hanya itu saja, jika Patriark Abram gagal, eksistensi Kekristenan di tanah Mesir akan menjadi taruhannya. Umat Kristen Koptik di Mesir akan diberi tiga ultimatum: satu, disuruh memeluk agama islam; dua, tetap mempertahankan imannya menjadi Kristen namun harus keluar dari tanah Mesir; tiga, akan dibunuh dengan pedang jika dua ultimatum sebelumnya tak dilaksanakan.
Patriark Abram kemudian meminta waktu selama tiga hari untuk menjawab sekaligus membuktikan kebenaran iman Kristen pada sang khalifah. Patriark lalu meminta para uskup, rahib, dan seluruh umat Kristen di Mesir untuk berdoa dan berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali, Patriark mendapatkan sebuah mimpi dari Bunda Maria yang menyuruhnya untuk menemui seseorang di sebuah tempat yang telah ditunjukkan. Patriark segera menuju tempat yang ditunjukkan Bunda Maria tersebut dan mendapati seorang bernama Simon yang adalah seorang penyamak kulit.
Ketika berbincang dengan Simon, terkejutlah ia karena mimpi yang dialami sang Patriark, bahwa dialah penentu nasib umat Kristen Koptik di Mesir. Simon semula meragukannya, sebab ia sendiri merasa tak pantas terlebih lagi banyaknya dosa yang ia perbuat. Namun tiba-tiba saja Simon seakan-akan mendapat jawaban dari sorga tentang masalah yang akan menerpa umat Kristen Koptik Mesir ini.
Patriark kemudian datang menemui sang khalifah bersama seluruh umat Kristen untuk memenuhi permintaan tersebut. Patriark bersama umatnya dan sang khalifah bersama rombongan pengawalnya pergi ke Gunung Mokattam, di Kairo, Mesir. Patriark Abram lantas melakukan misa. Kemudian, mulai berserulah seluruh umat Kristen Koptik dengan nyaring, "Kyrie eleison, Kyrie eleison, Kyrie eleison", yang artinya 'Tuhan kasihanilah kami'.
Setelah 400 kali "Kyrie eleison" dilantunkan masing-masing 100 kali di setiap arah mata angin (Utara, Timur, Selatan, Barat), umat Kristen Koptik lalu melakukan sujud dan kemudian sang Patriark membuat tanda salib ke arah gunung.
"Allahu akbar," seru sang khalifah ketika mengetahui gunung tersebut benar-benar bergerak. Gunung tersebut pun berpindah sejauh 3 km dari kota Kairo oleh sebab guncangannya yang sangat besar. Sang khalifah pun langsung meminta Patriark dan umat Kristen Koptik untuk menghentikan apa yang mereka lakukan. "Cukup, ya Patriark, engkau sudah membuktikan kebenaran imanmu," kata khalifah. Setelah peristiwa mukjizat besar tersebut, sang khalifah memerintahkan restorasi gereja, bahkan ia kemudian menjadi percaya dan memberi diri dibaptis menjadi seorang Kristen dengan nama Stefanus.
Pasca Mukjizat
Tepat di gunung Mokattam, sebuah gereja dibangun dari pahatan gunung batu. Bentuknya unik sekaligus indah. Gereja ini didedikasikan pada Simon sang penyamak kulit, yang telah menjadi penyelamat bagi banyak umat Kristen Koptik di Mesir. Gereja ini dinamakan St. Simon The Tanner. Bahkan, ketika proses pembangunan gereja tersebut, masih ada mukjizat-mukjizat yang terjadi.
Gereja ini juga dikenal dengan nama "Gereja Sampah". Dinamakan demikian karena letaknya yang berdekatan dengan pemukiman kumuh. Mereka yang tinggal di dekat gereja tersebut mayoritas bekerja sebagai pemulung dan sehari-harinya hidup dengan mengais sampah. Kendati demikian, Gereja Sampah ini justru memancarkan bau harum selalu. Di tengah sulitnya menjalani hidup serba kekurangan, mereka yang tinggal di dekat gereja tak lupa untuk selalu memuliakan Tuhan dalam kasih dan sukacita.
Legenda atau Fakta Sejarah?
Kisah ini begitu melekat bagi sejarah Kekristenan di Mesir. Namun, sebab beberapa orang menolak percaya pada karya Tuhan yang bekerja di dunia, timbulah kontroversi hingga anggapan bahwa kisah mukjizat gunung berpindah ini hanyalah sebuah legenda semata. Anggapan-anggapan ini muncul karena tidak adanya bukti dukungan dari segi sejarah.
Nyatanya, kisah mukjizat luar biasa ini memang tercatat dan didokumentasikan oleh para sejarawan. Kisah ini dicatat oleh sumber-sumber dari Gereja Koptik di Mesir sendiri. Bahkan, kisah mukjizat ini juga dicatat oleh seorang pengarang Muslim yang bernama Abu Salih al-Armini dalam bukunya "Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana'is wa al-Adyar min nawahin Mishri wa al-Iqtha'aih" atau dalam terjemahan inggris The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries (Daftar berita-berita mengenai gereja-gereja dan biara di provinsi Mesir dan wilayah-wilayah luarnya).
Mukjizat ini sungguh terjadi dan didukung oleh sumber historis. Kisah ini nyata terjadi sebagai wujud kasih Kristus pada Gereja-Nya. Segala yang tampaknya mustahil bagi manusia, itu tidak mustahil bagi Tuhan. Kiranya kisah ini dapat menguatkan iman kita untuk terus percaya pada Yesus Kristus, Putera Allah, dan percaya pada-Nya bahwa Ia takkan pernah meninggalkan kita. Amin.