• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Monday, May 30, 2022

Home » Apologetika , Sejarah » Tahun-Tahun Yesus yang Hilang | Di Mana Yesus Berada Ketika Usia 12-30 Tahun?

Tahun-Tahun Yesus yang Hilang | Di Mana Yesus Berada Ketika Usia 12-30 Tahun?

  Only Truth     Monday, May 30, 2022

Injil tidak mencatat detail bagaimana kehidupan Yesus dan apa yang dilakukan-Nya ketika berusia 12 hingga 30 tahun. Injil hanya menceritakan kehidupan Yesus ketika Ia lahir (Mat 1:18-25), disunat saat menginjak usia 8 hari dan diserahkan ke Bait Allah (Luk 2:21-24), muncul kembali di Bait Allah pada usia 12 tahun (Luk 2:41-52), dan baru muncul lagi di muka umum setelah pembaptisan Yohanes, yang saat itu Ia berusia 30 tahun (Luk 3:21-23).


Injil memang tak mencatat lebih detail mengenai masa kanak-kanak Yesus, namun memberikan keterangan secara implisit. Usia 12-30 Yesus yang hilang seolah menjadi kesenjangan sehingga menyebabkan mudahnya disusupi oleh tulisan-tulisan di luar Injil. Contohnya seperti Yesus berbicara ketika masih bayi (Arabic Infancy Gospel), menciptakan burung dari tanah liat (Infancy Gospel of thomas), atau kisah pohon palem yang membungkuk dan menuruti perintah Yesus (Gospel of Pseudo-Matthew). Kisah-kisah yang ditulis berlebihan dan lebih mengandung dongeng daripada sejarah ini tampaknya mungkin bermaksud untuk mengisi kekosongan informasi mengenai masa kanak-kanak Yesus yang hilang.


Kisah-kisah seperti di atas baru datang setelah jauh zaman Yesus atau Para Rasul, sehingga keakuratan historisitasnya mudah sekali untuk dibantah. Wajarlah jika kemudian muncul banyak spekulasi-spekulasi mengenai masa kanak-kanak atau remaja Yesus. Lalu, di mana Yesus sebenarnya ketika berusia 12-30 tahun?


Jawabannya mudah, Ia tumbuh dan besar seperti anak-anak manusia pada umumnya. Injil bukanlah sebuah biografi atau buku riwayat hidup Yesus yang mengisahkan serinci-rincinya. Injil (dan termasuk keseluruhan Alkitab) adalah Firman Allah yang tertulis. Injil ditulis untuk menunjukkan pada kita keselamatan yang diberikan Allah melalui Anak-Nya. Para penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) hanya berfokus untuk mengisahkan perbuatan, perkataan, ataupun tujuan Yesus datang ke dalam dunia ini. Sebab karya keselamatan itulah yang terpenting bagi kita untuk mengetahuinya, termasuk wafat di salib dan kebangkitan-Nya.


Kendati demikian, kita tetap dapat mengetahui apa yang dilakukan Yesus dalam "tahun-tahun-Nya yang hilang" tersebut. Yesus dalam kemanusian-Nya hidup bersama Yusuf dan Maria, menjalani kehidupan biasa, mematuhi orang tua-Nya sebagai bentuk kepatuhan-Nya pada Bapa di Surga, dan bekerja sebagai tukang kayu membantu Yusuf. Hal ini dapat kita ketahui ketika Yesus mengajar di Nazaret, orang-orang sekitar mengenali-Nya dengan sebutan "anak tukang kayu" (Mat 13:55). Yesus juga hidup seperti orang Yahudi umumnya yang taat pada hukum Taurat (Gal 4:4), dan hidup penuh hikmat (Luk 2:52).


Tapi, kemudian akan timbul pertanyaan lagi. Kenapa Injil hanya mengisahkan kelahiran, ketika Yesus berusia 12 tahun, lalu langsung melompat ketika usia 30 tahun?


Jika kita mengenal sedikit saja tentang kebudayaan dan agama Yahudi pada saat itu, hal seperti ini bukanlah perkara yang sukar untuk dijelaskan dan bukan sebuah kejanggalan. Mengapa kisah Yesus ditulis ketika Ia berusia 12 tahun? Jawabannya karena menurut tradisi Yahudi, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun harus melakukan upacara Bar Mitzvah; dan Yesus mengikuti Bar Mitzvah ketika berusia 12 tahun di Yerusalem (Luk 2:42). Bagi tradisi Yahudi, usia 12 tahun sangatlah penting. Dalam usia yang sama, menurut sejarah Yahudi, Samuel mendengar panggilan Tuhan pertama kali.


Ketika seorang Yahudi sudah berusia 20 tahun, diharuskan memasuki sekolah atau Beyt Midrash dan baru di usia 30 tahun diizinkan mengajar di muka umum. Inilah yang juga menjadi jawaban kenapa tiba-tiba Injil melompat dan menulis kisah Yesus ketika berusia 30 tahun. Selayaknya anak-anak Yahudi pada umumnya, Yesus menempuh seluruh proses pendidikan Yahudi, hingga ketika menginjak usia 30 tahun (usia matang) baru boleh mengajar. Sebagai sambilan, Ia juga bekerja menjadi tukang kayu dan mengambil tanggung jawab apalagi setelah Yusuf, ayah angkat-Nya meninggal.


Dengan demikian, kisah-kisah yang sempat beredar yang mengatakan Yesus pergi ke Tibet atau India untuk berguru dan meninggal di Kashmir, hanyalah sebuah spekulasi dongeng fiktif dan tak dapat dibuktikan secara historis. Lagi pula, Rasul Yohanes sendiri memberi sebuah petunjuk mengapa tahun-tahun Yesus yang hilang tersebut tak dikisahkan.

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu—Yohanes 21:25

Injil lebih dari cukup untuk menerangkan pada kita siapa Yesus dan apa tujuan-Nya datang ke dunia ini. Kita mengimani apa yang dicatat Kitab Suci mengenai Yesus Kristus dan bukan memercayai dongeng-dongeng atau takhayul.

By Only Truth at May 30, 2022
Labels: Apologetika, Sejarah

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media