• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Tuesday, May 17, 2022

Home » Apologetika , Lain » Kenapa Ada Tanda Kurung di Alkitab?

Kenapa Ada Tanda Kurung di Alkitab?

  Only Truth     Tuesday, May 17, 2022

Ketika kita membaca Alkitab dengan cermat dan teliti, pasti kita akan menemukan sejumlah ayat yang diapit tanda kurung. Mungkin kita akan bertanya-tanya, kenapa ada tanda kurung dalam Alkitab? Mari kita lihat ke ayat yang terdapat tanda kurung. Salah satunya ada dalam Doa Bapa Kami.

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin)—Matius 6:9-13

Sebelum membahas lebih jauh terkait pengimbuhan tanda kurung ini, alangkah baiknya kita sedikit mengetahui terlebih dulu tentang naskah-naskah kuno yang menjadi acuan para penerbit di era modern ini.


Ada ribuan salinan naskah yang sampai hari ini eksis. Meskipun bukan autograf (naskah dari penulisnya langsung), namun melalui banyaknya penemuan arkeologi ini kita dapat dengan yakin percaya pada Alkitab. Salinan-salinan tersebut berbentuk manuskrip (ditulis tangan). Pada zaman Yesus tentunya belum ada percetakan, sehingga jemaat atau orang-orang awam yang ingin membaca Injil harus menyalinnya terlebih dulu.


Karena para penyalin ini adalah manusia yang tak sempurna, maka naskah-naskah yang ditemukan beberapa mengandung versi atau ragam kata. Keragaman itu bukan berarti kontradiksi. Dengan kajian ilmu kritik teks bisa dipastikan penyebab banyaknya ragam atau versi antar manuskrip bukanlah masalah bagi iman Kristen karena tak ada yang mengubah makna pesan Injil itu sendiri. Ragam dan versi ini adalah hal yang wajar karena kesalahan dari para penyalin (human error).


Dengan ribuan naskah yang ditemukan dan melalui kajian kritik teks, para sarjana telah mempopulerkan dua naskah yang kerap digunakan para penerbit Alkitab di dunia, yakni Textus Receptus (TR) dan Westcott & Hort (WH). Keduanya dinilai paling lengkap, meskipun ada sedikit perbedaan. Perbedaan itu tidaklah signifikan.


LAI atau Lembaga Alkitab Indonesia sebagai badan penerbitan Alkitab di Indonesia bersikap netral dan tidak memihak pada salah satu naskah tersebut. Perdebatan di barat antara kelompok liberal dan anti-liberal membuat LAI mengambil jalan tengah dengan menggunakan kedua naskah tersebut. Contohnya, LAI menambahkan tanda kurung untuk terjemahan suatu ayat yang terdapat pada naskah TR namun tak ada pada naskah WH.


Sebenarnya kalau kita lihat langsung pada naskah aslinya yang berasal dari abad-abad awal, naskah-naskah tersebut sama sekali tak menambahkan tanda kurung. Tanda baca saat itu masih belum dikenal. Orang-orang di zaman Yesus belum mengenal tanda kurung, bahkan tanda spasi. Tulisan aksara Yunani Perjanjian Baru ditulis berdempetan dan tak ada jarak antar kata. Tanda kurung yang menjadi ajang perdebatan pun tak akan kita temukan pada naskah aslinya.


Tanda kurung muncul justru setelah jauh keberadaan naskah kuno. Munculnya tanda kurung yang diberikan penerbit liberal ini menjadi perdebatan terkait fungsinya. Ada yang berpendapat sebagai interpretasi atau catatan kaki. Dan yang lain berpendapat ayat-ayat dalam tanda kurung tersebut asli dan bukan tambahan atau interpretasi. Dua naskah ini, TR dan WH, memiliki pandangan berseberangan. Yang satu berusaha mempertahankan isi aslinya dari naskahnya dan menganggap Firman Allah tak boleh ditambah atau dikurang, dan yang satunya berusaha bersikap kritis pada naskah-naskah.


Lalu, apakah perdebatan-perdebatan antar naskah tersebut membuat Alkitab tak bisa dipercaya? Apakah ayat-ayat yang diperdebatkan itu mempengaruhi inti iman Kristen? Mari kita kembali melihat contoh tanda kurung dalam Doa Bapa Kami.

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)—LAI (Terjemahan Baru 1974)
And do not lead us into temptation, But deliver us from the evil one. For Yours is the kingdom and the power and the glory forever. Amen—New King James Version
και μη εισενεγκης ημας εις πειρασμον αλλα ρυσαι ημας απο του πονηρου οτι σου εστιν η βασιλεια και η δυναμις και η δοξα εις τους αιωνας αμην—Textus Receptus

Perhatikan! Dalam TB terdapat tanda kurung, namun ini tak kita temukan pada TR atau Alkitab NKJV. Mana yang benar? Bagian yang diberi tanda kurung oleh LAI (Karena Engkaulah ... Amin) merupakan doksologi. Apa itu doksologi? Doksologi adalah nyanyian atau pujian untuk kemuliaan Tuhan. Tradisi Gereja sering menyebut doksologi ini dan masih dipertahankan. Selain itu, doksologi dapat kita temui pada naskah mayoritas seperti Yunani, Pesyita, Bizantin, dan juga pada kitab Didakhe. Jadi justru hanya sejumlah kecil naskah saja yan tak memuat doksologi tersebut karena faktor humanistis.


Kita lihat juga contoh tanda kurung dalam ayat lainnya. Contohnya di Matius 17:20-21.

Ia berkata kepada mereka: Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)—LAI (Terjemahan Baru 1974)
So Jesus said to them, Because of your unbelief; for assuredly, I say to you, if you have faith as a mustard seed, you will say to this mountain, ‘Move from here to there,’ and it will move; and nothing will be impossible for you. However, this kind does not go out except by prayer and fasting—New King James Version

Teks yang diapit tanda kurung pada ayat di atas terdapat di naskah TR tapi tak dijumpai pada naskah WH. Apakah ini berarti ayat tersebut merupakan sebuah tambahan atau sisipan? Sebagai perbandingan, ayat tersebut bisa kita temukan di Markus 9:29, yang ayatnya sudah dipastikan ada di kedua naskah.

Jawab-Nya kepada mereka: Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa—LAI (Terjemahan Baru 1974)
So He said to them, This kind can come out by nothing but prayer and fasting—New King James Version
και ειπεν αυτοις τουτο το γενος εν ουδενι δυναται εξελθειν ει μη εν προσευχη και νηστεια—Textus Receptus
και ειπεν αυτοις τουτο το γενος εν ουδενι δυναται εξελθειν ει μη εν προσευχη και νηστεια—Wescott & Hort

Jadi perlu ditegaskan kembali bahwa LAI sebagai badan penerbit Alkitab di Indonesia berusaha bersikap netral dengan mengambil kedua naskah tersebut. Memang kedua naskah ini memiliki pandangan berbeda, namun keduanya sepakat bahwa sejumlah teks tertentu yang berbeda adalah murni kesalahan para penyalin yang tidak disengaja, entah karena faktor lelah atau kurang teliti. Jika perihal tanda kurung ini terus dipermasalahkan, kita dapat kembali mengacu pada mayoritas naskah kuno lainnya.

By Only Truth at May 17, 2022
Labels: Apologetika, Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media