• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Thursday, May 5, 2022

Home » Ajaran , Apologetika , Lain » Injil Mengungkapkan Yesus hanyalah Utusan Allah?

Injil Mengungkapkan Yesus hanyalah Utusan Allah?

  Only Truth     Thursday, May 5, 2022

Allah itu Kasih. Ia menyayangi umat-Nya dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal demi menyelamatkan kita yang berdosa. Sayangnya, kata "mengutus" ini justru disalahpahami dan dipahami bahwa Yesus hanyalah "utusan" atau seorang nabi. Berikut beberapa teks-teks ayat suci Alkitab yang sering ditafsirkan secara keliru dan digunakan untuk menyelewangkan makna sebenarnya.

Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku—Markus 9:37
Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya—Yohanes 5:37-38
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat—Galatia 4:4

Jika membaca secara sekilas, akan timbul pemahaman sederhana seperti berikut: Yesus mengaku adalah utusan. Jika Yesus adalah utusan berarti Dia adalah nabi. Jika Dia nabi, berarti Yesus bukan Allah.


Ini adalah bentuk cacat berpikir dalam menilai agama lain. Yesus memang adalah utusan dan diutus oleh Bapa. Namun perlu diketahui, bahwa Yesus tidak datang dari dunia ini (Yoh 8:23). Sebab sebelum Dia menjadi manusia Dia adalah Firman Allah; dan karena Ia adalah Firman Allah maka Ia adalah Allah sendiri (Yoh 1:1). Oleh karena Yesus adalah Firman dan Ia diutus Bapa, maka Yesus bukan berasal dari bumi dan tak sama seperti manusia pada umumnya. Mungkin pikiran manusiawi kita yang terbatas akan bertanya: "Itu berarti Allah mengutus Allah?". Mari kita perhatikan ayat di bawah.

demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya—Yesaya 55:11

Ayat di atas sangat menarik. Di awal kalimat Yes 55:11 dikatakan "demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku", namun kemudian kalimat selanjutnya justru berubah menjadi kata ganti orang ketiga "Kusuruhkan kepadanya". Inilah maksud sebenarnya Yesus atau Sang Firman diutus ke dunia. Jadi "Bapa mengutus Anak" sepadan dengan "Alah mengutus Firman-Nya".


Kata "mengutus" ini bersifat makna ganda. Di lain sisi kata ini juga dikenakan pada Yohanes Pembaptis.

Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu—Matius 11:10
Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus—Yohanes 1:33

Yesus mempunyai banyak gelar. Ia adalah Raja, Mesias, atau juga Nabi. Namun nabi biasanya justru identik dengan gelar atau jabatan, sedangkan utusan lebih menyatakan pada perannya. Yesus atau sebelumnya adalah Sang Firman, diutus Bapa untuk memberitakan keselamatan bagi bangsa-bangsa. Yesus sebagai utusan tentu akan melakukan kehendak Bapa-Nya.

Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya—Yohanes 4:34

Baca juga ayat berikut.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku—Yohanes 5:30

Dalam Yoh 5:30, Yesus mengatakan bahwa Ia tidak dapat berbuat apa-apa sendiri. Sedangkan kemudian Yesus mengatakan Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30). Ini berarti ada sebuah hubungan kasih di dalam diri Allah yang Esa (Bapa, Putra, Roh Kudus), sehingga ketiganya tidak mungkin melakukan kehendak sendiri-sendiri melainkan bersama-sama dalam hubungan kasih.


Jadi dari sini kita dapat menarik kesimpulan. Utusan tak selalu berarti lebih rendah dari yang mengutus. Injil justru menerangkan pada kita jika Yesus sebagai utusan bukanlah sekadar utusan biasa layaknya nabi-nabi. Lebih dari itu, Ia sebagai utusan taat pada kehendak Bapa dan rela mati disalib demi menebus dosa kita.

By Only Truth at May 05, 2022
Labels: Ajaran, Apologetika, Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media