• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Friday, May 20, 2022

Home » Ajaran » Kodrat Yesus Kristus: Sungguh Allah dan Sungguh Manusia

Kodrat Yesus Kristus: Sungguh Allah dan Sungguh Manusia

  Only Truth     Friday, May 20, 2022

Mengenal Yesus Kristus sangat penting bagi iman kita. Dengan mengenal lebih dalam siapa sebenarnya Yesus kita bisa mengetahui bahwa Ia memang Juruselamat. Ia adalah Juruselamat bagi seluruh manusia karena Ia sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Sepenuhnya Allah, sepenuhnya manusia. Dua kodrat dalam satu pribadi ini mungkin adalah sebuah misteri yang tidak sepenuhnya bisa kita pahami, namun karena Alkitab menjabarkan sedikit, sejauh itu kita bisa memahami misteri dalam diri-Nya.


Yesus Sungguh Allah dan Sungguh Manusia

Dalam teologi Kekristenan, istilah yang menjelaskan persatuan kedua kodrat (keilahian dan kemanusiaan) dalam Pribadi Yesus ini disebut hypostatic union atau kesatuan hipostatik. Dengan kodrat unik-Nya ini, Yesus Kristus telah menjadi mediator Allah dengan manusia, sebab Ia menyerahkan diri-Nya menjadi kurban penebus dosa.


Kita bisa melihat bukti bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia melalui Alkitab.


Yesus sebagai Allah

Apa yang kita pikirkan jika bicara tentang Allah? Jawabannya pasti sempurna, kekal, tak terbatas ruang dan waktu, dan tak dapat mati. Yohanes, yang adalah murid yang dikasihi Yesus, dalam pembukaan Injilnya memberi petunjuk siapa Yesus sebenarnya dan menegaskannya. Bahwa, kodrat Allah ada pada diri Yesus dan Yesus adalah Allah.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah—Yohanes 1:1


Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran—Yohanes 1:14

Jadi sebelum Yesus datang ke dunia ini, Ia telah bersama dengan Allah karena Ia adalah Firman Allah. Dan karena Firman Allah adalah Allah (lih. Yoh 1:1), maka Yesus adalah Allah. Sejak semula sebelum dunia diciptakan, Firman Allah sudah bersama-sama dengan Allah, sebab kuasa penciptaan ada pada Firman-Nya. Jika Allah adalah kekal, maka Firman-Nya pun sama kekalnya.


Dalam perbincangan-Nya dengan orang-orang Yahudi, Yesus bahkan mengatakan secara gamblang tentang eksistensi-Nya, bukan sebagai kodrat manusia namun sebagai Firman Allah.

Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita. Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham? Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah—Yohanes 8:56-59

Yesus sendiri mengatakan bahwa Abraham, bapa orang Israel, telah melihat hari-Nya dan Yesus sendiri juga mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Yesus telah ada. Yang dimaksud Yesus adalah keberadaan-Nya sebagai Firman Allah yang sudah ada sebelum segala zaman, dan jauh sebelum Abraham dijadikan. Mendengar jawaban Yesus tersebut, orang-orang Yahudi pun hendak melempari-Nya. Kenapa mereka hendak melempari Yesus? Karena orang-orang Yahudi tahu persis perkataan Yesus, bahwa Yesus sedang menyamakan diri-Nya dengan Allah.


Ketika Firman itu turun menjadi manusia bernama Yesus, Ia tak melepaskan kodrat keilahian-Nya, sebab Allah tak mungkin berhenti menjadi Allah atau berubah dari yang sempurna menjadi tidak sempurna. Dalam pribadi Yesus itulah keilahian-Nya masih bisa dilihat dan dibedakan sekalipun telah menjadi manusia. Contohnya seperti ketika Ia mengampuni dosa seorang yang lumpuh, padahal pengampunan hanya milik Allah (Mat 9:2), melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya sendiri, atau ketika malaikat-malaikat dari Surga melayani-Nya (Mat 4:11).


Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan manusia biasa, bahwa Yesus bukan sekadar nabi saja. Setiap nabi pasti mengawali perkataannya dengan, "demikian Firman TUHAN ...", sedangkan Yesus selalu mengatakan "Sesungguhnya Aku berkata padamu ...". Ini jelas-jelas Yesus sedang berkata atas kuasa dan otoritas-Nya sendiri. Sang Firman yang menjadi daging inilah gambar wujud Allah dan cahaya kemuliaan Allah yang abadi (Yoh 17:5; Ibrani 1:2-3). Jadi, ketika murid-murid Yesus melihat-Nya, mereka sama saja juga telah melihat Bapa (Yoh 14:9), sebab Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30).


Yesus sebagai Manusia

Kodrat Yesus sebagai "sungguh manusia", sama seperti pada manusia umumnya yang terbatas, terikat oleh ruang dan waktu. Yesus dilahirkan, tumbuh hingga dewasa layaknya manusia umumnya, merasakan lapar dan haus, dan yang dapat menderita serta dapat mati. Ketika Yesus telah menyelesaikan puasa-Nya selama empat puluh hari, dalam kodrat kemanusiaan-Nya itulah Ia merasa lapar (Mat 4:2). Begitu juga ketika Ia disalibkan Ia merasakan sakit dan derita hingga mati di kayu salib. Namun, tubuh kemanusiaan itulah yang mati, sedangkan kodrat ilahi-Nya tak dapat mati.


Ketika Sang Firman menjadi manusia Ia tak melepaskan kodrat-Nya yang adalah Allah. Allah kekal, tak berubah dan tak bisa mati. Yesus telah menjadi teladan bagi kita bagaimana manusia hidup yang sebenarnya sehingga bisa kembali pada Allah. Dua kodrat Yesus yang adalah Allah dan manusia di dalam diri-Nya tak bercampur dan tak terpisahkan. Ini adalah sebuah misteri yang tak bisa kita pahami begitu saja melalui akal manusia.


Kesimpulan

Dengan demikian, ketika kita dapat sedikit mengenal-Nya, maka kita akan sadar betapa besar kasih Allah akan dunia ini. Ia menyelamatkan kita dari maut, karena hanya Allah sajalah yang bisa menyelamatkan. Ia rela menjelma menjadi manusia karena kasih-Nya pada kita, hidup di antara kita dan menjadi bagian sejarah manusia, bahkan Yesus menyerahkan diri-Nya sendiri untuk mati di kayu salib sebagai kurban penebus.


Ia menderita dan merasakan sakit yang luar biasa hingga mati dalam tubuh manusia, namun Ia dibangkitkan Allah bersama tubuh manusia-Nya yang telah dimuliakan. Karena Yesus juga memiliki kodrat Allah dalam diri-Nya, maka Ia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri untuk mengalahkan maut dan menjembatani hubungan antara Allah dengan manusia.

By Only Truth at May 20, 2022
Labels: Ajaran

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media