Banyak tuduhan yang dilontarkan pada Kekristenan. Salah satunya adalah tentang Injil. Injil dituduh dirubah dan dipalsukan. Padahal banyak sejarawan dan arkeolog yang membantah tuduhan tersebut dengan memberi bukti konkret dari sumber primer. Bahkan, sampai-sampai ada yang memfitnah jika Gereja telah menyembunyikan Injil yang asli. Mereka beranggapan jika Injil yang asli adalah Injil yang diturunkan langsung pada Yesus, dan bukannya yang ditulis Matius, Markus, Lukas, ataupun Yohanes. Anggapan-anggapan ini muncul karena tafsiran yang terlalu naif pada ayat-ayat Injil, contohnya seperti di Matius 4:23.
Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu
Juga beberapa ayat lainnya yang hampir serupa seperti Matius 11:1, Markus 1:14, atau Lukas 4:43-44. Dengan menafsirkan secara semborono tanpa melihat konteks hanya akan membuat kita menjadi kebingungan sendiri. Ayat-ayat tersebut digunakan untuk menyerang iman Kristen dengan mengatakan bahwa Injil yang asli dibawa oleh Yesus. Apakah memang Yesus ke dunia membawa Injil sendiri? Mari kita bahas.
Makna Injil
Kata "Injil" merupakan serapan dari bahasa Arab, yang juga merupakan serapan dari bahasa aslinya Yunani yakni ευαγγελιον. Secara harfiah berarti 'Kabar Baik'. Dan "Kabar Baik" itu adalah Yesus Kristus sendiri. Kabar Baik itu juga adalah karya keselamatan Allah. Sedangkan jika merujuk pada kata "kitab Injil", itu berarti kitab yang ditulis orang lain tentang peristiwa kabar baik. Jadi, ketika ada ungkapan "Yesus memberitakan Injil", itu sama saja berarti "Yesus memberitakan Kabar Baik". Kunci dari masalah ini sebenarnya terletak pada kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan bahasa.
Konsep Kitab Suci yang berbeda
Bagi iman Kristen yang lahir dari Yahudi, keduanya sama-sama percaya apa yang disebut "Kitab Suci" tidaklah turun dari langit berbentuk fisik buku. Tidak! Iman Kristen sudah jelas-jelas dibuktikan secara sejarah dan arkeologi, bahwa Injil tidaklah ditulis satu oknum saja. Dan oknum-oknum penulisnya pun adalah manusia. Yang turun dari langit bukanlah sebuah buku atau kitab, melainkan Roh Kudus. Roh Kudus-lah yang turun dan memberi ilham bagi para penulisnya. Roh Kudus-lah yang menuntun para pengarangnya agar mampu menulis abjad demi abjad sehingga menjadi sebuah Kitab Suci yang bernilai historis dan bukan kisah fiktif.
Kesimpulan
Pada intinya, dari sudut pandang Kekristenan, Yesus tidaklah pernah membawa Kitab Suci atau menulis Injil sendiri. Bagi iman Kristen juga, Firman Allah tidaklah menjadi sebuah buku atau kitab. Namun Firman itu menjadi daging dan menyejarah dalam peradaban manusia. Firman yang menjadi manusia itulah yang kita kenal dengan nama Yesus. Injil adalah kabar baik tentang Kerajaan Allah. Kabar baik itu adalah keselamatan yang kini bukan hanya bagi bangsa Israel saja, melainkan bagi setiap bangsa yang percaya kepada Anak-Nya, yakni Tuhan kita, Yesus Kristus.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia—Yohanes 3:17