Banyak perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus ketika Ia di dunia ini, salah satunya adalah mengusir roh jahat atau yang kita kenal sebagai setan. Seperti apa yang dikisahkan di Matius 8:28. Uniknya, beberapa orang tak berfokus pada kisah dan perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus yang tercatat di Injil Matius. Mereka justru menemukan sebuah kejanggalan perbedaan tempat jika dikaitkan dengan Injil lain. Matius mencatat Yesus bertemu dengan orang kerasukan setan di Gadara, sedangkan Markus dan Lukas mencatat di Gerasa. Agar tidak bingung mari kita baca langsung ayat di bawah ini.
Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu—Matius 8:28
Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia—Markus 5:1-2
Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea—Lukas 8:26
Jawaban
Ada baiknya kita mengenal sedikit tentang lokasi Yesus Kristus berkarya. Kedua tempat yang disebut Injil nyatanya sama-sama ada dan eksis. Gadara adalah salah satu dari sepuluh kota yang biasa disebut Dekapolis, sedangkan Gerasa atau yang dikenal juga dengan Gergesa adalah kota yang terletak 12 mil di sisi tenggara Gadara. Jadi tidak ada yang namanya kontradiksi, sebab Yesus datang ke daerah di mana kedua kota tersebut terletak.
Matius mengenal suatu kota sedangkan Markus dan Lukas mengenalkan kota yang lain, namun masih tetap dalam daerah yang sama yakni daerah dekat Galilea. Jadi, baik Matius, Markus, atau Lukas tidak mengisahkan sebuah peristiwa yang bertentangan. Mereka sama-sama mengacu pada daerah yang sama. Dengan demikian ini juga menunjukkan bahwa para penulis Injil sangat mengenal daerah tersebut. Lagi pula, tempat persisnya Yesus mengusir orang kerasukan setan itu bukanlah masalah dan tidak terlalu penting bagi iman Kristen. Kisah itu ditulis oleh para penulis Injil untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus berkuasa atas roh jahat atau setan.