• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Tuesday, May 17, 2022

Home » Lain » Kenapa Yudas Mengkhianati Yesus Dengan Ciuman?

Kenapa Yudas Mengkhianati Yesus Dengan Ciuman?

  Only Truth     Tuesday, May 17, 2022

Kisah pengkhianatan Yudas selalu dikenal dalam Kekristenan dan namanya dicap sebagai pengkhianat yang keterlaluan karena rela menukar Gurunya sendiri demi tiga puluh perak. Ironisnya Yudas menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman yang seharusnya itu adalah simbol kasih sayang. Kendati demikian, pernahkah kita bertanya mengapa Yudas harus menunjukkan siapa Yesus pada mereka yang hendak menangkap-Nya dengan ciuman?


Kita ingat-ingat kembali kisahnya yang terekam di ketiga Injil.

Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.’ Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: ‘Salam Rabi,’ lalu mencium Dia—Matius 26:47-49
Waktu Yesus masih berbicara, muncullah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat.’ Dan ketika ia sampai di situ ia segera maju mendapatkan Yesus dan berkata: ‘Rabi,’ lalu mencium Dia—Markus 14:43-45
Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya—Lukas 22:47

Ketiga Injil sepakat bahwa Yudas mengkhianati Yesus dengan cara yang miris. Bukan memberontak atau terang-terangan memfitnah-Nya, namun menipu dengan sebuah ciuman.


Ciuman di pipi biasanya dilakukan untuk menunjukkan hubungan keakraban, entah dengan sesama anggota keluarga, kakek-nenek dengan cucu, atau antar-pasangan. Budaya ciuman di pipi juga biasanya dilakukan sebagai bentuk kasih sayang atau penghormatan, meskipun tak ada hubungan spesial antara keduanya. Begitu juga apa yang dilakukan Yudas pada Yesus. Pada waktu itu ciuman di pipi adalah hal yang biasa dan wajar sebagai wujud cinta persaudaraan atau hanya sekadar untuk sapaan. Kita bisa melihat spesialnya ciuman sebagai bentuk kasih sayang di ayat-ayat berikut.

Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus. Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus—Roma 16:16
Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus—2 Korintus 13:12
Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin—1 Petrus 5:14

Yudas mengidentifikasi Yesus dengan sebuah ciuman. Ciuman yang dilakukan Yudas ini adalah bentuk kemunafikannya yang hendak mengungkapkan cinta tapi di lain sisi dia menyerahkan Yesus. Yudas seolah ingin memberikan kesan bahwa kedatangannya dengan maksud damai, namun ternyata ada maksud busuk juga di belakangnya.


Alasan lain mengapa Yudas mencium Yesus datang dari sebuah kitab Gnostik yang ditemukan sekitar abad 8 di Mesir. Kitab ini kemudian disebarluaskan oleh sarjana Belanda Roelof van den Broek dan diberi judul, "Pseudo-Cyril of Jerusalem On the Life and the Passion of Christ: A Coptic Apocryphon". Menurut kitab ini, Yesus bisa mengubah rupa-Nya sehingga Yudas harus mencium-Nya agar mereka yang hendak menangkap Yesus dapat memastikan yang mereka tangkap adalah orang yang tepat.

Bagaimana kita akan menangkapnya, tanya orang-orang Yahudi, karena Dia tidak memiliki satu bentuk pun, tetapi penampilannya berubah. Terkadang Dia kemerah-merahan, kadang-kadang putih, kadang-kadang merah, kadang-kadang sewarna gandum, kadang-kadang pucat seperti petapa, kadang-kadang muda, kadang-kadang tua, kadang-kadang rambutnya lurus dan hitam, kadang-kadang ikal, kadang tinggi, kadang pendek. Mereka belum pernah melihatnya dalam satu penampilan yang sama—Pseudo-Cyril of Jerusalem

Kisah di atas tentunya bukan untuk dipercaya. Adanya kisah di atas baiknya hanya kita pelajari untuk menambah wawasan atau sebagai dongeng teman tidur. Kendati demikian, apapun alasan Yudas mencium Yesus, pengkhianatan yang dilakukannya menjadi sebuah langkah awal menuju karya keselamatan umat manusia. Kita mungkin terkadang geram atau marah ketika membaca kisah pengkhianatan Yudas. Yesus yang adalah Guru sekaligus juga temannya, namun Yudas tega mengkhianati.


Apa yang dilakukan Yudas ini relevan dengan kehidupan sosial manusia di zaman sekarang. Kadang orang yang bersikap manis pada kita ternyata punya maksud tertentu. Dan kadang, justru orang yang keras pada kita malahan mereka yang sebenarnya paling menyayangi kita.

Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah—Amsal 27:6
By Only Truth at May 17, 2022
Labels: Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media