Salah satu yang bisa kita kenal dari Allah adalah kasih-Nya pada umat manusia. Setiap rancangan-Nya selalu yang terbaik. Itu Ia buktikan mulai dari era Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru, hingga di zaman sekarang. Mulai dari pembebasan umat Israel hingga pembebasan dosa seluruh umat manusia.
Namun banyak yang menentang keterkaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bahkan, ada yang menganggap bahwa Tuhan di Perjanjian Lama tak sama dengan Tuhan di Perjanjian Baru. Tuhan di Perjanjian Lama seakan digambarkan sebagai Allah yang kejam, dan berbeda dengan Tuhan di Perjanjian Baru yang penuh kasih. Hal ini menimbulkan kebingungan.
Mari kita baca ayat-ayat yang dianggap berlawanan dengan sifat Allah yang penuh kasih yang selama ini kita kenal.
Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai—Yosua 6:21
Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu, Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta semua raja mereka. Tidak seorangpun yang dibiarkannya lolos, tetapi ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan TUHAN, Allah Israel—Yosua 10:40
Ayat di Perjanjian Lama tersebut dianggap sebagai perintah yang kejam. Ini jelas menimbulkan pertanyaan, mengapa Allah dalam Perjanjian Lama dan Baru sangat jauh berbeda. Sekilas membaca ayat di atas, maka ini akan tampak seperti pemusnahan atau genosida. Lantas, benarkah Allah memerintahkan genosida?
Allah memerintahkan Genosida?
Genosida adalah pembantaian besar-besaran terhadap suatu bangsa, suku, atau kelompok tertentu. Di zaman ini genosida dianggap sebagai salah satu kejahatan yang tak terampuni karena telah melanggar hak asasi manusia. Peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di Perjanjian Lama, terutama ketika membahas peperangan antara Israel melawan bangsa lain, dituding sebagai usaha pemusnahan atau genosida.
Pertama-tama, untuk menjawab ihwal seperti ini kita harus tahu bahwa rancangan dan apa yang dipikirkan Allah tak sama dengan yang dipikirkan manusia. Kita tidak akan sepenuhnya benar-benar mengerti mengapa Ia memerintahkan hal tersebut. Yang kita sanggup pahami bahwa apapun yang dilakukan-Nya adalah adil dan baik.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu—Yesaya 55:9
Hidup dan mati manusia, tak memandang umur atau jenis kelamin, Tuhan-lah yang berkuasa atasnya. Dia Tuhan yang berhak atas segala kehidupan di bumi. Dia yang memberi, Dia juga yang mengambil. Ia mengasihi manusia, dan kasih-Nya tak pernah berubah. Namun, ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia menghadapi sesuatu yang namanya maut atau kematian.
Dalam konteks Allah menyuruh bangsa Israel berperang dengan Kanaan, kita hanya melihat dari perspektif sebagai manusia biasa bahwa itu adalah tindakan kejam. Namun kita lupa melihat sisi yang lain. Bangsa Kanaan yang mendiami Tanah Perjanjian telah melakukan dosa. Mereka menyembah ilah selain Allah yang Sejati. Mereka tidak mau mencari dan mengenal Tuhan yang benar. Perbuatan mereka tersebut akan sangat berbahaya karena bisa saja mereka juga menjauhkan bangsa Israel dari kasih Allah. Inilah sisi lain yang lupa untuk kita lihat.
Bangsa yang tak patuh, memberontak, serta menyembah ilah asing, tidak merefleksikan kebenaran serta kekudusan. Dia berhak atas hidup dan mati bangsa-bangsa yang tak mau mengenal-Nya, dan rancangan-Nya jauh dari akal kita yang memandang hal tersebut tidak adil. Justru sejatinya, apa yang Dia lakukan adalah adil.
Tuhan memilih bangsa Israel sebagai yang sulung, dalam konteks ini, untuk memerangi orang-orang Kanaan yang telah lama memupuk dosa. Bangsa Israel kemudian menjadi bangsa pilihan Tuhan untuk mengalahkan dan menduduki Tanah Perjanjian tersebut. Tanah Perjanjian ini seolah menjadi gambaran, bahwa surga-Nya yang kudus tak layak dihuni oleh orang-orang yang keras hatinya dan yang membangkang melawan perintah-Nya.
Melalui bangsa Israel, yang pertama dipilih, Allah berusaha mendidik umat-Nya agar tak jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala (ilah asing). Didikan inilah yang kelak akan diikuti bangsa-bangsa lain melalui penggenapan kedatangan Kristus, yakni dengan pendewasaan rohani.
Sekilas kita hanya melihat jika Tuhan nampak tak adil dan berat sebelah, hanya memilih Israel dan membuat mereka menang dalam setiap peperangan agar bisa menduduki Tanah Perjanjian. Kenyataanya, tidak demikian. Sekali lagi, Allah itu adil.
Tuhan memakai bangsa Israel untuk membersihkan Tanah yang didiami orang-orang berdosa. Namun ini bukan berarti Ia membiarkan bangsa Israel seenaknya berbuat dosa. Ketika bangsa Israel juga berbuat demikian dengan menyembah ilah asing dan berhala-berhala, terutama di zaman Raja Salomo, bangsa Israel dihancurkan Tuhan di bawah kuasa bangsa Asyur. Bukankah Tuhan adil?
Bangsa Israel memang dipilih untuk mengalahkan bangsa lain yang memberontak pada Allah. Namun ketika bangsa Israel sendiri yang juga memberontak, maka Allah berlaku adil, sehingga bangsa Israel harus mengalami apa yang namanya pembuangan. Ketika Allah menyuruh bangsa Israel berperang, kita seharusnya tak memandang ini sebagai izin-Nya bahwa kita boleh membunuh sesama manusia. Tidak. Justru Ia sedang menunjukkan keadilan-Nya dengan menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak mati menurut perbuatan masing-masing.
Mungkin masih ada yang bertanya, mengapa Allah juga memerintahkan untuk membunuh anak-anak? Lagi-lagi ini adalah hal yang tak mungkin kita pahami dengan mudah, dan tak akan mampu memahami apa yang direncanakan-Nya. Namun jika kita melihat sekilas rancangan yang Dia buat, kita tahu seorang anak pun memiliki dosa. Mungkin saja Ia tidak ingin anak-anak itu kelak tumbuh besar dan menganut agama orang tua mereka yang sudah melakukan kekejian dengan menyembah ilah asing. Mungkin dengan mengambil nyawa mereka selagi masih kanak-kanak, Allah ingin menyelamatkan mereka.
Sampai sejauh ini kita benar-benar yakin bahwa Ia adil dan rancangan-Nya yang terbaik. Kita hanya melihat peperangan sebagai hal buruk dan menyeramkan. Kita hanya memandang peperangan sebagai tindakan sia-sia. Namun kita lupa untuk mencari makna di balik peperangan tersebut dan apa pula dampaknya setelah perang tersebut.
Begitu juga pada konteks peperangan yang dilakukan bangsa Israel. Bangsa Israel menumpas bangsa yang tak elok bagi Allah. Dan ketika bangsa Israel sendiri melakukan kekejian, Allah juga memberi hukuman bagi mereka. Sejatinya semua ini tidak semata-mata berperang untuk menguasai. Perang yang dilakukan bangsa Israel bukan tentang kekuatan, wilayah, atau keistimewaan mereka sebagai bangsa pilihan.
Allah berusaha mendidik bangsa Israel, pertama-tama, agar menjadi patuh dengan mendisiplinkan. Aturan-aturan yang mungkin kadang kita memandangnya terlalu keras ini sejatinya sebagai langkah pendewasaan. Langkah pendewasaan yang kemudian akan membawa kita pada kasih Kristus yang sempurna.
Allah tidak berusaha menumpaskan mereka yang berdosa karena benci atau karena kejam dan senang melihat pertumpahan darah. Tidak! Namun Allah telah berjanji pada bangsa pilihan-Nya Israel untuk membawa mereka ke Tanah Perjanjian. Sekalipun Ia harus menumpas bangsa-bangsa yang berusaha menyesatkan Israel dengan mengajak mereka menyembah ilah palsu. Kendati demikian yang perlu ditekankan adalah, bukan bangsa Israel atau Kanaan saja yang Dia pedulikan, namun siapa yang mau bertobat dia akan diampuni. Siapa yang mau berbalik untuk mengenal-Nya dia akan dikasihi.