Istilah nama Viking tentu tak asing di telinga kita. Ketika mendengar Viking mungkin kita akan teringat dengan sekelompok suporter sepak bola Persib Bandung. Kenyataannya, sejarah mencatat Viking adalah suku bangsa yang suka berpetualang dan menjarah. Namun siapa sangka bahwa kelak para Viking yang terkenal akan kekerasan, kebrutalan, serta kekejaman, akan meninggalkan perilaku tersebut setelah mengenal Kekristenan yang justru bertolak belakang dengan kebudayaan mereka?
Sejarah Viking
Viking adalah suku bangsa dari wilayah Skandinavia, orang-orang Eropa Utara, yang sekarang terdiri dari negara Finlandia, Swedia, Denmark, dan Norwegia. Di wilayah tersebut sumber daya alam tak lebih baik ketimbang Eropa Barat atau Timur. Apalagi tanah di wilayah Skandinavia yang sulit untuk ditanami dan sedikit lahan subur, membuat kebanyakan penduduknya menjadi pedagang atau perompak. Kehidupan yang keras inilah yang membuat bangsa Viking mengarungi lautan dan menjarah setiap tempat yang disinggahinya.
Dalam sejarahnya, bangsa Viking atau yang dikenal juga Norsemen (orang-orang Utara), ditakuti karena kebrutalan yang mereka lakukan. Bahkan diketahui juga mereka berhasil menaklukan sejumlah kerajaan-kerajaan Eropa yang berdiri saat itu. Salah satu pemimpin bangsa Viking yang cukup terkenal adalah Leif Erikson. Leif diduga adalah orang Eropa pertama yang menemukan Amerika sekitar tahun 1000-an, jauh sebelum Christopher Columbus menemukannya.
Para Viking menjelajahi lautan dan melawan ombak dahsyat dengan sebuah kapal yang khas bentuknya; dengan ukiran kepala naga di ujungnya. Memang banyak film atau buku-buku yang menceritakan bahwa bangsa Viking tidak beradab dan dikenal akan kebrutalannya, namun di lain sisi mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan dan tradisi masyarakatnya.
Kepercayaan Bangsa Viking
Pada masanya, bangsa Viking belum menganut Kekristenan seperti kebanyakan bangsa Eropa lainnya. Bangsa Viking menganut kepercayaan Mitologi Nordik, di mana Dewa tertingginya bernama Odin. Menurut mitologinya, Dewa Odin mengajarkan bahwa setiap prajurit yang terbunuh dalam pertempuran dipandang terhormat dan akan masuk Valhalla (surganya Viking). Mungkin ini yang membentuk pemikiran para Viking untuk tidak takut mati dalam pertempuran, sebab bagi Viking mati dalam pertempuran adalah jalan menuju Valhalla.
Bertemu dengan Kekristenan
Kebudayaan Viking dan Kekristenan sangat bertolak belakang. Kekristenan yang selalu menekankan kasih dan damai tentunya tak sesuai dengan perilaku barbar yang telah mendarah daging bagi para Viking. Namun, bagi Tuhan tak ada yang mustahil.
Para Viking tidak hanya perompak atau prajurit, tapi banyak dari mereka yang juga adalah pedagang. Pedagang-pedagang ini tentunya tahu persis tempat atau kota yang minim perlindungan. Mereka tahu banyak biara di Eropa yang menyimpan relik-relik suci yang berharga dan harta benda lainnya. Informasi dari para pedagang ini sangat menguntungkan bagi Viking. Karena biara-biara ini juga tak memiliki perlindungan, maka akan sangat mudah bagi Viking menjarah biara ketimbang menaklukan istana-istana yang berpengawalan ketat. Di mulailah penyerangan-penyerangan di sejumlah biara-biara untuk merampas setiap relik suci dan harta berharga lainnya. Salah satu yang tercatat sejarah adalah penyerangan biara St. Cuthbert di Lindisfarne pada 8 Juni 793 M.
Saat itu para Viking sangat ditakuti di wilayah Eropa. Mereka telah menaklukan banyak wilayah, namun para Viking tak tertarik untuk menyerang secara khusus Kekristenan. Mereka memandang para biarawan adalah prajurit yang lemah dan tak berguna, karena itu mereka juga menolak untuk percaya pada agama yang lemah. Namun, kebudayaan mereka yang seolah telah mendarah daging tiba-tiba berubah karena satu orang yang mengenal iman Kristen Ortodoks.
Olaf Tryggvason (963-1000), adalah raja bangsa Viking Norwegia dan seorang pagan. Suatu ketika, ia menjelajah dan sampai di sebuah pulau bernama Scilly. Di sana terdapat rumor bahwa ada seorang pertapa masyhur di pulau tersebut dapat meramal masa depan. Olaf pun hendak mengujinya dengan mengirimkan prajuritnya yang berpakaian seperti raja, serupa dengannya.
Ketika prajurit Olaf yang sedang menyamar itu bertatap muka dengan si pertapa dan berkata bahwa ia adalah raja, prajurit itu justru mendapat jawaban yang mengejutkan.
"Engkau bukan raja, akan tetapi aku menasihati agar engkau setia pada rajamu."
Prajurit itu tak dapat berkata apa-apa. Ia segera kembali dan mengatakan pada Raja Olaf tentang jawaban pertapa atau yang ia sebut juga sebagai nabi. Olaf menjadi yakin bahwa pertapa itu memang nabi, dan ia ingin segera bertemu dengannya. Singkat cerita akhirnya Olaf dan pertapa tersebut bertatap muka. Olaf kemudian meminta sebuah ramalan tentang dirinya sendiri, tentang apakah ia akan berkuasa dengan kekuatan dan bagaimana nasibnya kedepan. Lalu, lagi-lagi, pertapa itu memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Engkau akan menjadi raja yang masyhur dan melakukan perbuatan-perbuatan mulia. Engkau akan menuntun banyak orang pada iman Kristen dan dengan demikian Engkau menolong dirimu sendiri dan banyak orang lainnya. Jangan ragu dengan nubuatku, sebab aku akan memberi tanda. Akan ada pengkhianatan dan pemberontakan di kapalmu. Akan ada pertarungan dan engkau akan kehilangan sejumlah pasukanmu, dan engkau akan terluka. Lukamu akan parah dan engkau akan dibawa dengan perisai ke kapal. Tetapi setelah tujuh hari engkau akan disembuhkan dari lukamu dan segera setelah itu engkau akan dibaptis."
Perkataan pertapa Ortodoks itu benar-benar terjadi. Setiap ramalan atau nubuatnya tentang pengkhianatan di kapal dan luka-luka, membuat Olaf percaya bahwa si pertapa sedang mengatakan kebenaran. Olaf kemudian menemui pertapa itu kedua kalinya dan menanyakan dari mana ia bisa memprediksi masa depan. Pertapa tersebut menjawab, bahwa Allah orang Kristen-lah yang mengungkapkan semuanya pada dirinya. Pertapa tersebut juga mengatakan pada Olaf tentang karya-karya mengagumkan yang dilakukan Allah.
Setelah pembicaraan tersebut, Olaf memberi diri untuk dibaptis beserta seluruh anak buahnya. Olaf tinggal cukup lama di sana untuk mempelajari iman Ortodoks. Olaf kemudian di kenal sebagai raja Kristen pertama dari Norwegia. Ia kemudian memulai Kristenisasi di negaranya, yang kemudian dilanjutkan oleh St. Olaf II dari Norwegia.
Butuh setidaknya sekitar 200 tahun hingga akhirnya wilayah Skandinavia menjadi Kristen. Kesulitan merubah budaya yang cukup keras bagi orang-orang Norsemen menjadi salah satu penyebabnya. Kebudayaan Viking dan nilai-nilai kasih Kristen sangat bertentangan. Namun, kasih Kristus telah nyata bagi setiap bangsa, sekalipun itu bangsa yang tidak mengenal dosa.