• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Saturday, June 4, 2022

Home » Tokoh » C.S. Lewis: Dari Ateis Menuju Kristus

C.S. Lewis: Dari Ateis Menuju Kristus

  Only Truth     Saturday, June 4, 2022

Siapa yang tidak ingat dengan film epik The Chronicles of Narnia? Film yang dirilis tahun 2005 ini telah memikat hati banyak penonton dari segala usia. Bahkan hingga sekarang, masih banyak orang yang menonton ulang film produksi Disney tersebut untuk bernostalgia. Film ini diangkat berdasar karya novel seorang penulis terkenal C.S. Lewis. Lewis bukan hanya penulis novel-novel terkenal, tapi ia juga menulis sejumlah buku rohani tentang Kekristenan. Namun siapa sangka sebelum mengenal Kristus Lewis adalah seorang ateis yang tak percaya akan eksistensi Tuhan?


Clive Staples Lewis, seorang ateis yang kemudian menjadi pengikut Kristus
Public Domain | C.S. Lewis

Masa Kecil C.S. Lewis

Nama C.S. Lewis adalah kependekan dari Clive Staples Lewis. Ia lahir pada 29 November tahun 1898 di Belfast, Irlandia, putra kedua dari pasangan Albert James Lewis dan Flora Augusta Hamilton Lewis. Lewis memiliki seorang kakak laki-laki bernama Warren Hamilton Lewis yang lebih tua darinya tiga tahun. Lewis kecil lebih suka disapa dengan nama "Jack", karena ia menyukai bunyi nama tersebut. Nama kecilnya ini pun lebih akrab di telinga keluarga dan teman-temannya.


Lewis tumbuh dalam keluarga Protestan yang memiliki minat baca tinggi. Setiap ruangan rumah setidaknya pasti terdapat buku-buku dari berbagai macam genre untuk dibaca. Saat kakaknya, Warren, pergi ke Inggris untuk sekolah pada tahun 1905, Lewis mulai sedikit tertutup dengan sekitarnya dan lebih senang menghabiskan waktu bersama buku-bukunya.


Tahun 1908, ibu Lewis meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Ibu Lewis meninggal tiga bulan sebelum ulang tahun kesepuluh Lewis. Hal ini sangat melukai hati Lewis kecil dan membuatnya semakin tertutup, begitu juga dengan ayah Lewis. Ayahnya merasa telah kehilangan separuh raganya. Istri yang sangat dicintainya harus pergi meninggalkannya terlebih dulu. Kehidupan keluarga Lewis saat itu juga seakan berputar, tak ada lagi kenyamanan atau kehangatan di rumah.


Semenjak kematian ibunya, Lewis merasa bahwa Tuhan yang diperkenalkan ibunya melalui Alkitab sangat kejam. Lewis muda bahkan menjadi seorang ateis yang beranggapan bahwa Tuhan itu tidak ada dan hanya sebuah hal yang abstrak atau bagian dari imajinasi manusia.


Lewis adalah anak yang cerdas. Tahun 1917 Lewis berhasil lulus dan diterima di Universitas ternama, Oxford. Meskipun ia sempat harus mengikuti wajib militer ketika Perang Dunia I, Lewis kembali dengan selamat. Ia sangat mencintai teman-teman dan keluarganya di Oxford dan selalu ingin dekat dengan mereka, itu terbukti ketika dia mengajar di University of Cambridge tahun 1955-1963, Lewis selalu pulang ke Oxford setiap akhir pekan.


Iman Lewis

Sekalipun ia telah menjadi orang yang jenius dan telah menulis sejumlah buku, Lewis tetap mencintai hobinya membaca buku. Buku-buku yang kemudian mengubah pola pikir ateisme Lewis adalah "Phantastes" karya George MacDonald dan "The Everlasting Man" karya G.K. Chesterton. Di tengah kegundahannya tersebut, teman akrab Lewis, Owen Barfield, justru memilih menjadi Kristen setelah sebelumnya ia seorang ateis.


Layaknya telah menjadi bagian rencana Tuhan, Lewis kemudian bertemu dua penulis Kristen terkenal, Hugo Dyson dan J.R.R. Tolkien, dan menjadi teman dekat. Lewis mengagumi intelektual dan logika kedua temannya tersebut. Bahkan, mereka berdua termasuk dalam daftar penulis favorit Lewis.


Pada tahun 1929, setelah bergulat dengan pikirannya dan menjadi seorang agnostik yang percaya akan keberadaan Tuhan, Lewis akhirnya menyerah dan memutuskan menjadi Kristen dan dibaptis serta bergabung di Gereja Anglikan Inggris. Segera setelah menjadi Kristen, kehidupan Lewis berubah, bahkan Kekristenan juga memengaruhi tulisan-tulisannya. Dua tahun setelah menjadi seorang Kristen, Lewis mempublikasikan bukunya yang berjudul "The Pilgrim's Regress: An Allegorical Apology for Christianity, Reason and Romanticism" tahun 1933, yang menjadi buku Apologetika Kristen terbaik saat itu.


Tak cukup sampai di situ, ia masih terus menulis buku-buku yang terinspirasi dari iman Kristennya, contohnya adalah "Mere Christianity" dan "The Chronicles of Narnia". Buku-buku Lewis sangat laris di pasaran dan terjual banyak, namun itu tak lantas membuatnya berfoya-foya. Lewis justru lebih memilih menggunakan uang-uangnya tersebut untuk membantu orang-orang miskin, anak yatim, bahkan juga digunakan untuk pelayanan Gereja.


Perjalanan Lewis Berikutnya

Tahun 1956, Lewis menikahi seorang penyair Amerika sekaligus keturunan Yahudi, Joy Davidman Gresham, yang sudah memiliki dua anak yakni David dan Douglas dari pernikahan sebelumnya. Namun sayangnya, kisah cinta mereka berdua tak bertahan lama. Joy meninggalkan Lewis karena kanker ganas yang dideritanya tak lama setelah empat tahun pernikahan mereka. Kendati demikian, Joy telah membawa kebahagiaan dalam dunia Lewis.


Pada awal bulan Juni tahun 1961, Lewis mengalami nefritis sehingga mengakibatkan keracunan darah. Kesehatannya sempat membaik di awal tahun 1963. Lewis juga sempat mengalami serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit. Ia tiba-tiba mengalami koma, namun terbangun di esok harinya. Karena penyakitnya tersebut tak mampu membuatnya bekerja secara normal, Lewis memutuskan untuk berhenti dari jabatannya di University of Cambridge. Tanggal 22 November 1963, Lewis meninggal di Oxford, Inggris, pada usia 64 tahun karena gagal ginjal. Lewis kemudian dimakamkan di halaman gereja Holy Trinity Church, Headington, Oxford.


Pertobatan iman C.S. Lewis sangat luar biasa. Ia memiliki semangat baru menulis dan mengangkat tema mengenai Kekristenan. Lewis telah memberi banyak kontribusi bagi dunia Apologetika Kristen. Bahkan buku karyanya yang berjudul "The Four Loves" merupakan salah satu buku favorit Paus Yohanes Paulus II. Buku-buku karya Lewis telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan telah terjual jutaan salinan. Lewis adalah seorang novelis, penyair, teolog, pakar sastra, dan apologis, yang memberi pengaruh besar bagi dunia sastra abad pertengahan dan juga apologetika Kekristenan.

By Only Truth at June 04, 2022
Labels: Tokoh

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media