• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Thursday, June 2, 2022

Home » Tokoh » Kisah Nabeel Qureshi, Seorang Muslim yang Menemukan Kebenaran Yesus

Kisah Nabeel Qureshi, Seorang Muslim yang Menemukan Kebenaran Yesus

  Only Truth     Thursday, June 2, 2022

Nama Nabeel Qureshi tentu tak asing lagi dalam dunia Apologetika. Melalui kesaksian luar biasanya hingga buku-bukunya, ia telah membantu banyak jiwa untuk mengenal Yesus Kristus. Nabeel bukan seorang yang lahir sebagai Kristen atau hidup dalam keluarga Kristen. Semasa kecilnya ia justru adalah muslim yang taat. Namun ketika beranjak dewasa ia menantang imannya sendiri dan Injil untuk mencari kebenaran. Lantas bagaimana kisah perjalanan iman Nabeel?


Nabeel qureshi, seorang muslim taat yang menjadi kristen

Nabeel Qureshi lahir pada 13 April 1983 di Amerika Serikat. Nabeel bukanlah warga Amerika asli. Ia dan keluarganya adalah imigran dari Pakistan. Nabeel merupakan keturunan dari suku Arab Quraisy. Ia tumbuh bersama keluarga Muslim sekte Ahmadiyah yang taat. Meskipun ada sedikit perdebatan dan banyak dari kalangan Muslim sendiri yang menganggap bahwa Ahmadiyah bukan Islam, namun Nabeel sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Muslim karena mengucapkan syahadat Islam.


Sejak kecil Nabeel terbiasa oleh hafalan Al-Quran dan menjalankan sholat 5 waktu. Itu karena keluarganya yang begitu taat, apalagi kakeknya adalah seorang Misionaris Muslim yang menghabiskan hidup untuk menyebarkan Islam di Uganda dan Indonesia. Karena warisan profesi seolah turun ke darah Nabeel, ia pun memperdalam ilmu agama Islam sekaligus mempelajari buku-buku yang khusus ditulis untuk menyerang Kekristenan. Dan saat ia duduk di bangku sekolah menengah, Nabeel menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya untuk menantang setiap teman-temannya yang beragama Kristen.


Ia telah menantang banyak teman-temannya mengenai pokok iman Kristen, Tritunggal atau Kristologi, dan tak satu pun yang dapat menjawab. Hal ini membuat Nabeel semakin percaya diri dan yakin bahwa Islam adalah kebenaran sejati. Segala yang telah dipelajarinya dengan mudah ia terapkan untuk menjatuhkan iman orang-orang Kristen awam yang tak tahu persis mengenai Alkitab. Namun kemenangan iman pembenarannya tersebut tak bertahan lama hingga ia bertemu dengan pemuda Kristen.


Perkenalan dengan David Wood

Setelah lulus, Nabeel melanjutkan pendidikannya di Old Dominion University di Virginia. Di sanalah ia bertemu dengan seorang pemuda Kristen bernama David Wood. David berbeda dengan orang-orang Kristen yang pernah dijumpai Nabeel, sebab David Wood memiliki kecintaan terhadap Injil sehingga mempelajarinya dengan serius. Suatu ketika di dalam kamar yang sama, Nabeel mendapati David sedang membaca Alkitab. Dari sanalah awal mula persahabatan Nabeel dengan David sekaligus pencarian kebenaran iman yang dipegangnya.


Nabeel mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau serangan yang sebelumnya juga ia ajukan pada orang-orang Kristen lainnya. Nabeel menyinggung masalah pemalsuan Injil, penyaliban Yesus yang tak historis, dan menentang Trinitas serta keilahian Yesus. Cara-cara itu sebelumnya berhasil dilontarkan Nabeel dan membuat lawannya gelagapan. Namun David tidak demikian. David justru memberi respon yang sangat mengejutkan bagi Nabeel dan seolah membaliknya.


Tanpa harus menyakiti iman Islam Nabeel, David menjawab setiap tuduhan yang ditujukan pada iman Kristen bahkan memberikan bukti-bukti yang kuat. Perdebatan atau diskusi antara kedua sahabat itu tak hanya berlangsung di kamar saja, bahkan hingga di kelas pun mereka akan berdebat. Sebuah perdebatan namun tak memisahkan jalinan persahabatan mereka. Bukan hanya sehari atau dua hari saja mereka berdebat dan berdiskusi mengenai iman masing-masing, namun itu terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.


Bukan waktu yang singkat untuk menyadari kebenaran iman Kristen. Meskipun ada bukti-bukti kebenaran iman Kristen, Nabeel selalu bersikap kritis dan tak jarang masih berusaha membantah. Setelah tiga tahun mempelajari Kekristenan, Nabeel menyadari bahwa bukti-bukti yang menunjukkan Kekristenan benar sangatlah kuat. Yesus sungguh-sungguh wafat disalibkan, Ia bangkit dari kematian, dan mengaku Dia adalah Tuhan di Injil.


Nabeel sudah tahu bahwa Kekristenan benar, namun itu tak membuatnya yakin benar-benar 100%. Ia percaya bahwa Islam 100% benar dan memiliki bukti-bukti kuat dalam sejarahnya. David kemudian menyarankan agar sahabatnya itu, Nabeel, bersikap skeptis dan menguji Islam sekritis mungkin, sama seperti yang ia lakukan pada kasus Kekristenan.


Nabeel memulai menguji kitab sucinya, sebab ia sangat percaya bahwa Al-Quran pasti benar. Dia membaca sejarah perkembangan Islam, kehidupan Muhammad melalui hadits-hadits, belajar dari imam-imam di Masjid dan bertanya pada orang tuanya. Namun apa yang Nabeel temukan ternyata tak sesuai yang selama ini ia pikirkan mengenai Islam dan Muhammad. Tak butuh waktu yang lama untuk membuat fondasi iman Nabeel runtuh. Segala yang ia ketahui mengenai dunianya selama ini ternyata keliru. Apa yang selama ini dianggapnya benar ternyata salah.


Nabeel menyadari bahwa bukti Kekristenan jauh lebih unggul daripada kasus Islam. Nabeel menjadi bingung dan bertanya-tanya. Segalanya kemudian semakin berat setelah Nabeel mengetahui apa yang dipegangnya selama ini bukanlah kebenaran. Terasa sangat menyakitkan, apalagi tumbuh dalam komunitas Muslim. Nabeel tak tahu harus berbuat apa selain melakukan sholat seperti biasanya. Dalam tangisannya Nabeel seraya meminta pertolongan agar diberikan petunjuk, salah satunya melalui mimpi. Ia meminta mimpi untuk menjadi petunjuk mana jalan yang benar dan mana Tuhan yang benar.


Mimpi adalah Petunjuk

Bagi keluarga Muslim, seperti keluarga Nabeel, mimpi adalah petunjuk yang akan benar-benar terjadi. Bukan sekadar sebuah mimpi saja yang tercipta di pikiran ketika tidur. Sejumlah mimpi benar-benar menjadi kenyataan dan berpengaruh bagi keluarga Nabeel. Contohnya ketika ayah Nabeel menjadi prajurit Angkatan Laut, ia memimpikan hal itu sebelumnya.


Keluarga Nabeel sangat percaya bahwa mimpi bukanlah sekadar mimpi, tetapi mimpi adalah petunjuk yang menuju pada kenyataan. Di sanalah Nabeel mulai mendapat petunjuk dari mimpi mengenai masalahnya. Ia bermimpi beberapa kali dan mendapatkan penglihatan, namun ada satu mimpi sangat kuat dan berpengaruh bagi Nabeel yang kemudian kelak meyakinkannya menjadi Kristen.


Nabeel bermimpi ia sedang berdiri di depan sebuah pintu masuk yang tingginya hampir tepat dengan tinggi badannya. Pintu itu membawa pada sebuah ruangan, yang di dalamnya tampak orang-orang sedang duduk menghadap meja-meja. Masing-masing meja terdapat hidangan yang mewah dan nampak lezat, seolah sedang ada sebuah pesta besar. Namun orang-orang dalam pesta tersebut belum juga menyantap hidangan yang ada. Mereka semua menatap pada arah yang sama, menunggu tuan rumah datang atau siapapun untuk memulai pestanya. Di antara orang-orang yang menghadiri pesta itu ada David, sahabatnya sendiri. Nabeel berusaha masuk, namun David menghalanginya. Dalam mimpinya tersebut Nabeel bertanya pada David, "Kukira kita akan makan bersama-sama?". David membalas, "Kau belum menjawab".


Ketika terbangun, Nabeel buru-buru menelepon David untuk mempertanyakan arti mimpi tersebut. Bagi David arti mimpi itu sangat-sangat jelas. David kemudian menyuruh Nabeel membuka Injil Lukas. Pertama kalinya Nabeel membuka Alkitab dan membacanya, bukan untuk dipenggal dan dicari kesalahannya, namun ingin sungguh-sungguh untuk menemukan kebenaran.

Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: 'Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?' Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: 'Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar—Lukas 13:23-28

Ayat yang dibaca Nabeel di atas mengisahkan Yesus yang memberi perumpamaan tentang siapa yang akan diselamatkan. Mengetahui bahwa mimpinya sangat persis dengan apa yang dicatat Injil, tersentaklah Nabeel. Bacaan Injil Lukas tersebut mengejutkan hatinya, terlebih selama ini ia hanya membaca sepotong-potong ayat untuk menyerang Injil. Tak ada lagi yang bisa disangkal oleh Nabeel. Ayat tersebut sangat sesuai dengan mimpinya, dan tak perlu penafsiran lagi. Mimpinya sudah jelas-jelas memberikan petunjuk dan jawaban.


Menjadi Kristen dan Harga yang Harus Dibayar

Pergulatan iman Nabeel tidaklah hanya sehari atau seminggu, tetapi bertahun-tahun. Nabeel sudah tahu mana yang benar dan keputusan apa yang harus dilakukannya. Ia bahkan siap membayar harga yang harus diberikan untuk menjadi Kristen. Ia harus meninggalkan luka bagi keluarganya, menghapus hubungan yang sudah terbangun, dan secara tidak langsung Nabeel mempermalukan kehormatan keluarganya yang sangat dicintainya itu.


Akan tetapi bagi Nabeel, harga yang harus dibayarnya terasa pantas untuk menjadi pengikut Kristus dan menerima kebenaran ketimbang kebohongan. Nabeel akhirnya memberi diri dibaptis dan menjadi seorang Kristen sejati. Banyak masalah yang kemudian datang, terutama dari pihak keluarganya. Orang tua Nabeel sangat kecewa atas keputusan anaknya menjadi Kristen. Tak cukup sampai disitu, orang tua Nabeel semakin merasa tersakiti ketika mengetahui anak yang disayanginya, dididik untuk menjadi Muslim yang taat, justru memutuskan menjadi penginjil dan apologis.


Akhir Kisah Nabeel

Setelah menerima Yesus dan menjadi Kristen, semenjak itulah sikap orang tua Nabeel berubah drastis. Namun, itu tak lantas membuat imannya menjadi goyah. Ia justru menarik banyak jiwa-jiwa yang ingin mengenal Kristus. Ia menjadi jembatan bagi Muslim yang ingin mengenal kasih Kristus. Nabeel membawa dampak luar biasa bagi banyak orang semenjak kisahnya itu diangkat.


Ia juga menulis beberapa buku yang berpengaruh bagi orang Kristen maupun bukan Kristen. Buku-bukunya di antara lain adalah, "Seeking Allah, Finding Jesus", "Answering Jihad: Better Way Forward", dan "No God But One".


16 September 2017, Nabeel mengakhiri perjalanan hidupnya di usia 34 tahun. Nabeel meninggal setelah setahun berperang dengan kanker perut yang dideritanya. Ia pergi ke pangkuan Bapa, meninggalkan seorang istri dan anak perempuan berusia dua tahun. Hingga sekarang, kisah Nabeel terus dikenang karena berhasil menyentuh hati banyak orang yang mendengar atau membaca kisahnya.

By Only Truth at June 02, 2022
Labels: Tokoh

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media