Bulan Desember selalu berkesan bagi umat Kristen di seluruh dunia. Perayaan yang selalu dinanti-nantikan di mana sukacita dan damai menghiasi. Apalagi jika bukan perayaan peringatan hari kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus. Kita selalu memperingatinya tiap tanggal 25 bulan Desember.
Namun, ternyata tidak semua pengikut Kristus merayakan hari sukacita tersebut. Salah satu yang tidak merayakannya ialah umat Kristen Advent. Mereka memiliki alasan doktrinal dan interpretasi Alkitab sendiri untuk tidak merayakan Natal. Mari kita menyimak pembahasan kali ini, alasan mengapa umat Kristen Advent tidak merayakan Natal.
Alasan Gereja Advent tidak Merayakan Natal
Gereja Advent atau yang dikenal juga dengan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) merupakan salah satu dari denominasi Protestan. Gereja ini memiliki cukup banyak jemaat di Amerika dan juga sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Gereja Advent memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan Kristen arus utama (Ortodoks, Katolik, Protestan), bahkan dengan denominasi-denominasi Protestan lainnya. Doktrin mereka kerap kali mengacu pada aturan Perjanjian Lama. Salah satunya mengenai hari Sabat. Umat Kristen Advent juga masih mengikuti peraturan tentang ihwal makanan halal dan haram.
Salah seorang penganut Kristen Advent yang namanya sempat melambung karena kisahnya yang heroik adalah Desmond Doss. Seorang tentara Amerika yang cukup berpengaruh pada Perang Dunia II. Kisahnya bahkan diangkat ke layar lebar dengan judul film "Hacksaw Ridge".
Baca Juga: Desmond Doss: Tentara Kristen yang Menolak Mengangkat Senjata
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh selalu menegaskan bahwa hanya Alkitab sajalah yang menjadi dasar teguh kepercayaan mereka. Ini artinya Alkitab menjadi sumber membangun teologi (Sola Scriptura). Demikian halnya sama dengan Protestan dan denominasi-denominasi turunannya. Dan ini juga berarti mereka menolak tradisi Gereja yang sejak semula telah ada.
Buah dari penolakan tradisi Gereja adalah pola peribadatan yang berubah dan juga interpretasi ayat yang secara sistematis. Penolakan tradisi ini juga menjadi penyebab umat Kristen Advent meninggalkan tradisi perayaan Natal. Dengan dalil bahwa tidak ada satu pun ayat di Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, mereka memilih meninggalkan tradisi perayaan tersebut.
Menurut mereka, dengan tidak adanya landasan penting perayaan Natal ataupun tanggal pasti kelahiran Yesus di Alkitab, maka Gereja Advent tidak mengharuskan umatnya untuk merayakan Natal. Selain itu, Gereja Advent merasa bahwa Natal merupakan adaptasi dari perayaan pagan, mulai dari penggunaan pohon Natal hingga tokoh Santa Claus yang dirasa hanyalah dongeng rakyat.
Tidak merayakan Natal bukan berarti Kristen Advent tidak memiliki hari khusus. Mereka hanya mengenal satu hari khusus yang dikuduskan, yakni hari Sabat. Kendati tak merayakan Natal, namun bukan berarti mereka menolak atau bahkan anti terhadap Natal. Gereja Advent memberikan kebebasan bagi umatnya untuk merayakan ataupun tidak merayakan Natal.
Demikianlah alasan mengapa Kristen Advent tidak merayakan Natal. Sebab bagi Gereja Advent: tidak ada perintah khusus untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus, tidak ada yang tahu pasti kapan Yesus lahir, Natal yang dianggap sebagai adaptasi perayaan pagan, hingga perayaan Natal yang dinilai terlalu konsumtif dan berlawanan dengan gaya hidup umat Advent yang moderat.
Kendati demikian, perbedaan mencolok ini kiranya tidak menimbulkan konflik antara sesama pengikut Kristus yang merayakan dengan yang tidak merayakan Natal. Justru melalui perbedaan ini semoga akan menjadi jalan persatuan bagi Kekristenan ke depannya.