Ketika mendengar nama Barnabas kita akan langsung teringat akan sebuah Injil yang mengaku diri penulisnya adalah Rasul Barnabas. Injil ini sempat menggegerkan publik. Namun, bukan Injil Barnabas-lah yang akan kita bahas kali ini. Kita akan membahas kisah Rasul Barnabas yang asli, dan bukannya orang yang mengaku-ngaku sebagai Barnabas, sebab Rasul Barnabas sendiri tak pernah menulis Injil menurut versinya sendiri. Lalu, bagaimana kehidupan Rasul Barnabas sendiri yang tercatat di Injil maupun tradisi Gereja hingga kematiannya?
Santo Barnabas Rasul
Nama Barnabas berarti 'anak penghiburan', namun beberapa ada juga yang beranggapan bahwa nama ini berasal dari bahasa Aram yang berarti 'putra nabi'. Sebelum ia dipanggil dengan nama Barnabas, ia lebih dulu dikenal dengan nama Yusuf atau Yosef. Barnabas adalah seorang Yahudi dari garis keturunan Lewi dan berasal dari Siprus. Barnabas merupakan salah satu di antara tujuh puluh murid.
Barnabas menempuh pendidikannya di Yerusalem, di sana ia besar bersama temannya Saul (yang kemudian kelak dikenal sebagai Rasul Paulus) dan didik oleh seorang guru terkenal saat itu, yakni Gamaliel. Ketika Tuhan kita, Yesus Kristus, memulai pelayanan-Nya secara publik, Barnabas masihlah seorang pemuda yang saleh, sering beribadah di Bait Allah, bahkan menjalankan keras aturan puasa.
Melihat Yesus, bagaimana pengajaran-Nya dan setiap mukjizat yang dilakukan, Barnabas menjadi percaya bahwa Yesus-lah Mesias yang telah dinanti-nantikan. Tuhan Yesus pun kemudian memilih Barnabas sebagai murid dalam kelompok tujuh puluh murid. Setelah kenaikan Yesus Kristus ke surga, Barnabas menjual ladangnya dan uang hasil penjualannya tersebut ia letakkan di depan kaki rasul-rasul.
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul—Kisah Para Rasul 4:36-37
Barnabas dikenal sebagai orang yang jujur, baik, serta lemah lembut. Ketika Saulus berkunjung ke Yerusalem setelah pertobatannya, Barnabas-lah yang menerimanya pertama kali dan mengenalkannya pada para rasul lainnya. Saulus awalnya ditakuti oleh murid-murid karena ia telah menganiaya banyak orang-orang Kristen, namun kemudian Saulus atau setelahnya dikenal sebagai Paulus, membuktikan imannya dengan memberitakan Injil tanpa kenal rasa takut (Kis 9:26-28).
Barnabas dan Paulus kemudian menjadi rekan dan mereka pergi ke Antiokhia untuk memberitakan Injil. Di kota Antiokhia-lah kemudian para pengikut Kristus pertama kalinya dikenal dengan sebutan "Kristen" (Kis 11:26). Mereka berdua selalu berjalan bersama demi pemberitaan Injil. Bahkan, ketika di Likaonia, mereka melakukan banyak mukjizat-mukjizat seperti menyembuhkan seorang yang telah lumpuh sejak lahir, sehingga mereka berdua dikira orang sebagai Dewa Zeus dan Hermes (Kis 14:12).
 |
| Jacob Pynas, CC0, via Wikimedia Commons |
Di Antiokhia juga, Barnabas dan Paulus harus menghadapi pertentangan di antara jemaat berkaitan dengan sunat. Permasalahan ini pun dibawa Barnabas dan Paulus pada para rasul yang berada di Yerusalem guna membahasnya, sehingga terjadilah Konsili Pra-Ekumenis atau Sidang Yerusalem guna membahas masalah tersebut. Barnabas dan Paulus kemudian masih kerap bersama sebagai sesama pelayan firman Tuhan. Mereka pergi ke satu tempat ke tempat lainnya untuk mengajarkan kasih Allah dan Kabar Baik mengenai Yesus Kristus.
Namun, ternyata Barnabas dan rekan kerjanya, Paulus, tidak bisa terus bersama oleh sebab perselisihan kecil. Ketika mereka hendak meneruskan perjalanan mengabarkan Injil, Barnabas ingin membawa Yohanes atau yang disebut juga Markus. Namun hal itu ditolak oleh Paulus karena Markus dinilai tidak setia dalam pekerjaannya. Akhirnya mereka pun harus berpisah. Barnabas bersama Markus menuju ke Siprus, sedangkan Paulus memilih Silas dan pergi ke sekitar Siria dan Kilikia (Kis 15:35-41). Kendati demikian, hubungan mereka yang seolah tampak runcing, Barnabas dan Paulus masih berhubungan baik (Gal 2:9).
Barnabas masih melanjutkan misinya menyebarkan Injil. Ia bahkan diketahui menyebarkan Injil hingga ke Mediolanum (sekarang Milan) dan mendirikan episkopal di sana, di mana uskup pertamanya adalah muridnya sendiri, Anathalon. Ia kemudian kembali ke Siprus dan terus melanjutkan pekabaran Injil. Di sana, terdapat orang-orang Yahudi yang tak suka akan pengajaran yang diberikan Barnabas. Mereka kemudian menghasut orang-orang pagan untuk bersama menentang Barnabas.
Mereka kemudian menyeret Barnabas keluar dari kota dan merajamnya dengan batu. Tak cukup sampai di situ, mereka bahkan membakar tubuh Barnabas dan meninggalkan tubuhnya. Markus, kemenakan Barnabas, kemudian datang dan mengambil tubuh Santo Barnabas yang tak sedikit pun ada luka untuk dikuburkan di sebuah gua. Santo Barnabas wafat sekitar tahun 60-62 dan menjadi martir di Salamis, Siprus.
Tahun 448 M, pada masa pemerintahan Kaisar Flavius Zeno, Uskup Agung Anthemius dari Siprus mendapatkan sebuah mimpi di mana dalam mimpinya tersebut Santo Barnabas menunjukkan letak relikuinya berada. Penggalian pun di mulai tepat di tempat yang ditunjukkan Santo Barnabas pada Uskup Agung Anthemius. Dan benar saja ditemukanlah jasad suci Santo Barnabas dengan salinan Injil Matius berada di dadanya.