Ada sebuah kisah unik yang menarik untuk kita bahas. Kisah ini diceritakan oleh Lukas dalam Injilnya mengenai seorang yang bernama Simeon dan juga Hana. Kisah mereka dicatat dalam Injil Lukas 2:21-40. Sebelum kita mengenal kedua orang saleh ini lebih jauh, mari kita baca sedikit mengenai Simeon dan Hana.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Lukas 2:25-26 & 36-38
Lukas tak memberi banyak keterangan mengenai kehidupan mereka. Lukas hanya mencatat bahwa Simeon adalah seorang yang saleh dan benar, sedangkan Hana adalah nabi perempuan yang sudah tua dari suku Asyer. Dan mereka memiliki harapan yang sama menanti kelahiran Sang Mesias, yakni Yesus Kristus. Roh Kudus bahkan menyatakan pada Simeon bahwa ia tidak akan wafat sebelum melihat Mesias itu sendiri. Begitu juga dengan Hana yang tinggal di Bait Allah dan hidupnya hanya dihabiskan untuk berpuasa serta berdoa.
Kendati Lukas tak mencatat lebih banyak tentang mereka berdua, Tradisi Gereja memiliki sejumlah keterangan yang cukup untuk kita mengenal mereka, sehingga kita bisa tahu bagaimana Simeon dan Hana bisa mengenali Yesus yang masih bayi sebagai Mesias.
Simeon nan saleh juga dikenali sebagai Simeon Penggendong Tuhan atau Simeon Sang Lanjut Usia. Kisah Simeon bermula ketika seorang Firaun Mesir bernama Ptolemaios II Philadelphos (hidup sekitar tahun 285-247 M) memerintahkan orang-orang Yahudi menterjemahkan Kitab Suci mereka ke dalam bahasa Yunani untuk menjadi koleksi Perpustakaan ternama di Aleksandria saat itu. Kitab Suci tersebut dikenal sebagai "Septuaginta" atau sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Perjanjian Lama.
Sanhedrin atau dewan tertinggi agama Yahudi, kemudian mengutus 70 atau 72 sarjana Yahudi untuk menterjemahkan Kitab Suci, dan salah satunya adalah Simeon. Ketika Simeon tengah menterjemahkan kitab Yesaya, ia ragu untuk menterjemahkan pada bagian Yesaya 7:14. Ayatnya berbunyi demikian:
Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel—Yesaya 7:14
Sedikit catatan, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) kurang tepat menterjemahkan Yesaya 7:14 dengan kata "seorang perempuan muda". Jika dilihat dari bahasa aslinya, kata yang lebih tepat adalah "Anak Dara" atau "Gadis Perawan".
Ketika Simeon mencapai bagian ayat tersebut, Simeon hendak menterjemahkannya dengan "Wanita", dan bukannya "Anak Dara" atau "Gadis Perawan". Simeon bingung dan tak yakin untuk menterjemahkannya. Namun ketika ia hendak melakukannya, tiba-tiba saja Malaikat datang mencegahnya seraya berkata:
Engkau akan melihat kata-kata ini digenapi. Engkau tidak akan mati sampai melihat Kristus Tuhan lahir dari seorang Perawan yang Murni dan Tak Bernoda.
Setelah kejadian ajaib tersebut, Simeon selalu menanti-nanti kapan dia bisa melihat Sang Mesias atau Kristus. Singkat cerita, setelah waktu berjalan lama, akhirnya Simeon mendapat wahyu dari Roh Kudus dan menyuruhnya untuk pergi ke Bait Allah. Di sanalah ia bertemu Bayi Yesus yang hendak dipersembahkan ke Bait Allah sesuai adat istiadat Yahudi. Dan seketika itu juga Simeon langsung memuji Allah.
Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel—Lukas 2:27-32
 |
| Ilustrasi Simeon dan Hana yang sedang menggendong Bayi Yesus |
Ketika Yusuf dan Maria mendengar perkataan tersebut, bingunglah mereka (ayt. 33). Simeon kemudian memberkati mereka lalu berkata lagi pada Maria.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri —, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang—Lukas 2:34-35
Setelah penantian panjangnya, Simeon akhirnya bertemu Mesias yang dijanjikan tersebut. Tradisi Gereja mengatakan Simeon akhirnya wafat dengan tenang setelah melihat Kristus pada usia 360 tahun. Sejumlah catatan Yahudi lain mengatakan bahwa Simeon adalah anak dari seorang Rabi Yahudi terkenal pada saat itu, yaitu Rabi Hillel, dan dikatakan juga bahwa Simeon memiliki roh untuk bernubuat.
Sukacita atas penantian panjang Simeon tersebut tak hanya dirasakannya sendiri. Sukacita tersebut juga dirasakan oleh Nabiah Hana. Ketika ia melihat Bayi Yesus ia mengucap syukur pada Allah dan berbicara mengenai Yesus.
Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem—Lukas 2:38
Dari kisah Simeon dan Hana yang luar biasa ini, kita dapat belajar apa itu yang namanya sebuah pengharapan. Kita belajar dari mereka bagaimana tetap setia pada Tuhan dan percaya bahwa Ia tidak akan pernah mengecewakan kita. Kita harus meniru Simeon dan Hana yang selalu memiliki kerinduan untuk bertemu Tuhan. Dan ketika kerinduan pada Tuhan itu dijawab langsung oleh-Nya, akan ada rasa sukacita besar yang kita alami, persis seperti sukacita yang dirasakan Simeon dan Hana.