Perjanjian Baru ada sebagai penggenapan Perjanjian Lama, sebab Yesus yang turun ke dunia telah menggenapi Taurat dan kitab para nabi. Namun, kadang kala kita bingung dan sulit membedakan, apakah Yesus menggenapi Taurat atau membatalkan dan meniadakan Taurat? Pertama-tama mari kita baca ayat berikut.
(17) Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
(18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
(19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga—Matius 5:17-19
Matius 5:17 secara gamblang menceritakan Yesus yang berbicara bahwa hukum Taurat tidak ditiadakan namun digenapi. Tetapi, ayat ini dianggap bertentangan dengan surat Rasul Paulus yang mengatakan Yesus membatalkan Taurat.
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera—Efesus 2:15
Jadi mana yang benar, perkataan Yesus sendiri atau perkataan Rasul Paulus?
Jika berbicara mengenai Taurat, kita pasti teringat pada 10 hukum yang tertulis di dua loh batu. Kenyataannya jika menilik lebih dalam, terdapat 613 hukum. Terdapat tiga aspek dalam hukum Taurat, yakni hukum moral, hukum sipil, dan hukum agama atau seremonial.
Hukum moral atau dikenal juga dengan "10 Perintah Allah" yang tercatat dalam Keluaran 20:2-17 dan Ulangan 5:6-21, digenapi oleh Kristus. Dan tidak satu pun dari hukum ini yang berubah seperti yang Yesus Kristus katakan sendiri, tak satu iota pun (Mat 5:18). Begitu juga dengan hukum sipil yang digenapi ketika Kristus datang. Hukum sipil seperti "mata ganti mata" diperbarui dengan mengasihi sesama kita, bahkan termasuk musuh sendiri. Pengajaran Kristus jauh melampaui sempurna peraturan-peraturan sipil yang diterapkan di Perjanjian Lama. Hukum sipil Perjanjian Lama digenapi dengan pemberlakuan yang berbeda dengan adanya hukum pemerintahan negara sebagai wakil Tuhan, sehingga hak asasi manusia dapat dibangun di atas keadilan.
Demikian juga penggenapan akan hukum agama atau seremonial. Hukum agama seperti sunat dan kurban di Perjanjian Lama telah digenapi melalui Kristus. Tetap diberlakukan namun dengan cara yang berbeda. Yesus Kristus yang rela menderita di kayu salib, menyerahkan diri-Nya karena dosa kita, sebagai Kurban Suci dan Domba Allah demi keselamatan kita umat manusia. Berkaitan dengan itu, sunat yang dulunya hanya bersifat simbol dan secara lahiriah, kini diperbarui menjadi sunat rohani, yakni dengan sakramen Baptis.
Penggenapan tidak sama dengan peniadaan atau pembatalan. Penggenapan adalah memperlakukan yang sebelumnya ada namun dengan cara yang berbeda. Hukum Taurat yang ditulis dalam kitab para nabi sejatinya adalah persiapan menuju hukum kesempurnaan yang akan diberikan Kristus. Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama diberlakukan temporer hingga kedatangan Kristus sebagai penggenapannya.
Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya—Ibrani 10:1
Karena Yesus Kristus datang untuk menggenapi bayangan keselamatan di Perjanjian Lama, maka bayangan keselamatan itu tidak lagi dirayakan seakan Kristus belum datang. Pemberlakuan dengan cara yang berbeda inilah kita sebut dengan penggenapan, dan bukan pembatalan. Hukum Perjanjian Lama diperbarui, bukan lagi secara lahiriah namun rohani, yakni dengan mengikuti hati yang menjadi akar dari setiap perilaku manusia. Dari hatilah terbentuk iman dan kasih, bukan lagi tindakan yang menghakimi.
Kesimpulan
Jadi, kita dapat menyimpulkan, bahwa Yesus benar datang bukan untuk meniadakan atau membatalkan Taurat, namun menggenapinya. Gambaran-gambaran keselamatan yang semula samar di Perjanjian Lama kini menjadi sempurna di Perjanjian Baru. Penggenapan tetap berlaku, namun tak sama persis dan diberlakukan dengan cara yang berbeda.
Maka, seyogianya untuk memahami keselamatan dan kedatangan Kristus sendiri, kita harus memahami seluruh Kitab Suci, dan bukannya asal mencomot ayat. Sebab Alkitab sendiri terdiri dari Perjanjian Lama dan Baru, serta lebih didominasi oleh Perjanjian Lama, maka kita tidak akan dapat memahami maksud kedatangan Kristus dan arti keselamatan yang diberikan-Nya secara tepat jika mengabaikan gambaran yang lama. Dan kita kemudian akan menyadari jika Hukum Injil jauh lebih sempurna.
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman—Galatia 3:24