• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Friday, July 8, 2022

Home » Lain » Siapa Penulis Surat Ibrani?

Siapa Penulis Surat Ibrani?

  Only Truth     Friday, July 8, 2022

Surat kepada Orang Ibrani merupakan salah satu kitab yang menjadi kanon Perjanjian Baru. Surat ini tidak diawali nama sang pengarang, bersifat anonim yang ditujukan pada orang-orang Ibrani.


Surat Ibrani diperkirakan ditulis sekitar tahun 60-an Masehi. Surat ini mencakup teologi yang cukup kompleks serta rumit mengenai Kristologi dan hubungan Yesus dengan Perjanjian Lama. Kendati tak ada pengakuan dari pengarangnya, tradisi Gereja mengatakan bahwa Surat Ibrani ini merupakan karya dari Rasul Paulus.


Secara umum pendapat ini diterima, namun tak sedikit juga yang meragukan bahwa Paulus penulisnya. Keraguan bahwa Paulus penulis Surat Ibrani adalah karena tidak adanya pengakuan Rasul Paulus seperti dalam surat-suratnya yang lain. Keraguan lainnya timbul karena gaya penulisan Surat Ibrani ini berbeda dengan gaya kepenulisan Rasul Paulus dalam surat-suratnya.


Para sarjana barat memang tak dapat memastikan siapa penulisnya, namun mereka meyakini bahwa penulis dari Surat Ibrani ini adalah seorang yang terpelajar, tahu persis mengenai hukum Taurat, dan memiliki kemampuan bahasa Yunani yang baik. Para sarjana memberikan sejumlah kandidat yang kemungkinan adalah penulisnya selain Paulus, di antaranya adalah Barnabas, Lukas, dan Apolos.


Ketiga kandidat tersebut sejatinya juga masih diperdebatkan karena kurangnya bukti yang kuat. Untuk mengetahui siapa penulis aslinya, alangkah baiknya kita kembali pada pemahaman Gereja mula-mula mengenai Surat Ibrani ini. Kita akan meninjaunya dari segi sejarah.


Penulis Surat Ibrani menurut Sejarah Gereja

Eusebius, seorang Uskup dari Kaisarea, seorang bapa gereja sekaligus sejarawan, pada awal abad ketiga mempublikasikan salah satu buku yang sangat penting di kemudian hari. Buku itu ia beri judul Ecclesiastical History atau 'Sejarah Gereja'. Buku ini akan menjadi acuan dasar kita untuk mencari tahu siapa penulis asli Surat Ibrani.


Pada abad-abad awal, di mana Kekristenan sedang berkembang, banyak kitab-kitab atau tulisan yang tersebar dan mengaku ditulis oleh murid-murid atau rasul-rasul yang disebut di Perjanjian Baru. Misalnya kitab yang mengaku ditulis oleh Barnabas, mengaku ditulis oleh Matius, Petrus dan sejumlah nama tokoh-tokoh yang ada dalam Alkitab.


Eusebius menyebut naskah-naskah tulisan tersebut sebagai "kitab yang diperdebatkan" atau Antilegomena, yang autentisitasnya dipertanyakan. Dan salah satu dari kitab yang diperdebatkan tersebut adalah Kitab Ibrani.


Sejak semula memang Surat Ibrani telah dikenali sebagai salah satu surat karya Paulus kepada orang-orang Yahudi. Jika benar begitu, mengapa gaya kepenulisan di Surat Ibrani berbeda dan tak memiliki kesamaan dengan surat-surat Paulus lainnya?


Eusebius melalui bukunya "Sejarah Gereja" memberi jawaban atas permasalahan ini. Ia mengutip tulisan seorang bapa Gereja Timur, yakni Klemens dari Aleksandria (150-215), yang tulisannya berbunyi demikian:

Dia (Klemens) mengatakan bahwa Surat kepada Orang Ibrani adalah karya Paulus, dan itu ditulis kepada orang-orang Ibrani dalam bahasa Ibrani; namun Lukas menterjemahkannya secara hati-hati dan mempublikasikan kepada orang-orang Yunani, dan karena itu gaya pengekspresian yang sama dapat ditemukan di surat ini (Surat Ibrani) dan di Kisah Para Rasul (ditulis oleh Lukas sekitar tahun 60-80 M)—Eusebius, Church History 6.14.2

Selain itu, Eusebius juga menguraikan alasan mengapa dalam pembukaan Surat Ibrani, Rasul Paulus tak mengenalkan dirinya di awal seperti surat-suratnya yang lain.

Tetapi (Klemens) mengatakan bahwa kata 'Paulus, Rasul' mungkin tidak diawali, karena untuk mengirimkannya pada orang-orang Ibrani, yang berprasangka dan curiga pada (Paulus), dia dengan bijak tidak mengharapkan menolak mereka pada permulaan dengan memberikan namanya ... Tetapi sekarang seperti yang dikatakan presbyter yang terberkati (Paulus), karena Tuhan menjadi Rasul dari Yang Mahakuasa, diutus kepada orang-orang Ibrani, Paulus, seperti diutus pada orang-orang bukan Yahudi, dalam alasan kerendahan hatinya tidak menyetujui dirinya sebagai rasul kepada orang-orang Ibrani, karena penghormatan pada Tuhan, dan karena menjadi pemberita sekaligus rasul bagi orang-orang bukan Yahudi ia menulis pada orang-orang Ibrani dengan berlimpah-limpah—Eusebius, Church History 6.14.2-4

Buku karya Eusebius ini sangat dapat dipercaya, karena ia memiliki akses tak terbatas mengenai tulisan-tulisan awal Kekristenan. Begitu juga tulisan Klemens dari Aleksandria yang dia kutip. Klemens adalah penulis Kristen awal yang memiliki hubungan dengan beberapa Rasul atau 70 murid-murid Yesus, sehingga dia tahu dari saksi-saksi langsung tentang siapa dan siapa yang menulis apa.


Tinjauan Surat Ibrani

Selain dari sejarah dan catatan awal, kita juga dapat mengetahui bahwa Paulus yang menulis Surat Ibrani dengan melihat sejumlah petunjuk yang ada di dalam suratnya. Penulis Surat Ibrani diketahui memiliki pengetahuan dalam mengenai Perjanjian Lama dan keimamatan. Dan kita tahu kalau Paulus adalah seorang terpelajar dan murid dari sarjana Yahudi yang hebat saat itu bernama Gamaliel.

Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini—Kisah Para Rasul 22:3

Kita juga dapat menemukan salah satu ciri tulisan Rasul Paulus di suratnya kepada orang Ibrani ini.

Ketahuilah, bahwa Timotius, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia. Sampaikanlah salam kepada semua pemimpin kamu dan semua orang kudus. Terimalah salam dari saudara-saudara di Italia. Kasih karunia menyertai kamu sekalian—Ibrani 13:23-25

Timotius adalah salah satu murid yang dikasihi Rasul Paulus, bahkan ia juga menganggapnya sebagai anak rohaninya. Dalam surat-suratnya yang lain Paulus selalu menyertakan nama Timotius. Dan salam penutupnya di Ibrani 13:25 persis seperti yang digunakannya dalam suratnya 2 Timotius 4:22, Filemon 1:25 serta 1 Korintus 16:23, 24, "Tuhan menyertai rohmu. Kasih karunia-Nya menyertai kamu!".


Dengan demikian kita dapat meyakini bahwa memang Paulus adalah penulis Surat Ibrani yang memiliki nilai-nilai teologis penting. Berdasarkan tulisan kuno dari Klemens sebagai bukti internal juga kita dapat tahu jika Paulus menulis suratnya kepada orang-orang Ibrani dengan bahasa Ibrani atau Aram, dan Lukas, penulis Kisah Para Rasul, menterjemahkannya ke dalam bahasa Yunani sehingga orang Kristen non-Yahudi dapat turut membaca serta memperoleh manfaat darinya.


By Only Truth at July 08, 2022
Labels: Lain

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media