Setiap tanggal 17 Agustus seluruh masyarakat Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Hari di mana bangsa Indonesia merdeka dari segala bentuk penjajahan.
Ratusan tahun negeri ini dijajah telah melahirkan banyak pejuang nasional. Para pejuang ini lahir dari berbagai wilayah di Indonesia dan dari berbagai etnis ataupun agama.
Banyak pahlawan nasional yang beragama Kristen, baik Protestan atau Katolik. Mereka ikut berjuang melawan penjajah untuk membela tanah air Indonesia.
Berikut nama 10 pahlawan nasional Indonesia yang beragama Kristen.
1. Agustinus Adisoetjipto
Pahlawan pertama nasional yang beragama Kristen adalah Agustinus Adisoetjipto. Ia lahir pada 3 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Ia merupakan Bapak Penerbang Republik Indonesia dan tokoh awal di Angkatan Udara.
Marsekal Muda Agustinus Soetjipto adalah pahlawan nasional beragama Katolik Roma. Ia menjadi perintis awal dalam sejarah pendidikan penerbangan di Indonesia. Ia mendirikan Sekolah Penerbangan di Yogyakarta pada 15 November 1945. Kini tempat itu menjadi Bandara Adisoetjipto untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan Republik Indonesia.
Pada 29 Juli 1947, ia gugur di usia 31 tahun bersama Abdulrachman Saleh dalam upaya menembus blokade udara Belanda. Ia dimakamkan di Bantul, Yogyakarta.
2. Alexander Andries Maramis
Dr. Mr. Alexander Andries Maramis atau yang lebih dikenal dengan A. A. Maramis adalah pahlawan Indonesia yang lahir pada 20 Juni 1897 di Manado, Sulawesi Utara. Banyak yang tidak tahu bahwa A. A. Maramis merupakan keponakan Maria Walanda Maramis, pahlawan nasional dari Sulawesi Utara.
Pada Maret 1933, Maramis bersama Dr. Sam Ratulangi dan Dr. Toembelaka mendirikan sebuah gereja perjuangan di Manado yang dikenal dengan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM).
Pada 1 Maret 1945 BPUPKI dibentuk, dan Maramis termasuk dari salah satu anggotanya. Ia termasuk dalam Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta. Maramis sangat aktif dalam berbagai perjuangan, baik melalui organisasi, politik, hingga organisasi gereja.
Mei 1977, A. A. Maramis mengalami pendarahan dan kemudian dirawat di rumah sakit. Ia kemudian wafat pada 31 Juli 1977 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata. 8 November 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Alexander Andries Maramis, yang diterima langsung oleh cucunya.
3. Donald Isaac Pandjaitan
Lebih dikenal dengan Mayor Jenderal D. I. Pandjaitan. Ia lahir pada 19 Juni 1925 di Balige, Sumatera Utara, dan merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia.
D. I. Pandjaitan mengikuti latihan militer di Bukittinggi, Sumatera Barat dan lulus dengan pangkat Letnan Dua. Setelah Indonesia Merdeka, Pandjaitan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang nantinya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Tahun 1960, ketika Pandjaitan menjabat Atase Militer (Atmil), salah seorang pendeta dari Jerman mengundangnya untuk memberi ceramah. Kabar Pandjaitan berkhotbah di Jerman terdengar sampai ke Jakarta. Bahkan sosok Jenderal Ahmad Yani memberikan julukan "Jenderal Pendeta" kepada Pandjaitan.
Pandjaitan salah satu dari korban Gerakan 30 September. Kelompok ini mengincar rumah Pandjaitan di Jakarta Selatan. Pandjaitan ditembak tepat di kepala ketika ia sedang berdoa. Jasadnya kemudian dibawa menuju Lubang Buaya. 4 Oktober jasadnya ditemukan dan baru dikebumikan. Ia dimakamkan di TMPN Utama Kalibata.
4. Slamet Riyadi
Ignatius Slamet Rijadi atau Riyadi (EYD) lahir pada 26 Juli 1927 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia adalah tentara Indonesia dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal. Ia memimpin pasukan Indonesia di beberapa daerah, termasuk Ambarawa dan Semarang, dalam melawan penjajah Belanda.
Riyadi atau yang nama kecilnya adalah Soekamto dibaptis dan menjadi seorang Katolik pada tahun 1949. Riyadi diketahui tertarik pada agama Katolik setelah mendengar alunan lagu di sebuah gereja dalam suasana masih berperang dengan Belanda.
"Kalau selamat dan menang mari kita ucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan masuk Katolik dan baptis," ucap Riyadi kepada ajudannya, seperti yang dicatat dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia: Pengintergrasian di alam Indonesia.
Riyadi menepati ucapannya. Ia pun pergi ke sebuah gereja di Solo bersama ajudannya yang bernama Djaka Moeljana untuk memberi diri dibaptis. Ia dibaptis menjadi Katolik pada 24 Desember 1949 ketika berusia 22 tahun dan mendapat nama baptis Ignatius.
Slamet Riyadi gugur tertembak ketika ikut dalam operasi merebut Pulau Ambon. Saat itu Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Indonesia. Pada 4 November ketika Riyadi sedang menuju markas para pemberontak, sebuah peluru menembus perutnya. Ia dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Riyadi gugur ketika di hari yang sama pertempuran berakhir.
5. Kapitan Pattimura
Thomas Matulessy atau Matulessia, yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura adalah pahlawan nasional yang lahir pada 8 Juni 1783 di Maluku. Ia adalah anak dari Frans Matulessia dan Fransina Tilahoi. Ia besar dari keluarga yang menganut Kristen Protestan.
Pada abad 19, ketika para penjajah menduduki tanah Maluku, Pattimura bersama pejuang-pejuang lainnya melakukan perlawanan. Ia berusaha melawan penjajah asing yang hendak menguasai perdagangan rempah.
16 Mei 1817, ia bersama rakyat Maluku bersatu merebut Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berwibawa, cerdik, dan penuh karisma. Bahkan para petinggi VOC sangat segan akan namanya. Perlawanannya membuat pergerakan Belanda di Maluku kesulitan.
Pada tanggal 16 Desember 1817, Kapitan Pattimura gugur. Ia dieksekusi dengan cara di gantung oleh Belanda di lapangan Benteng Victoria, Kota Ambon.
Akhir-akhir ini nama pahlawan asal Maluku ini kembali mencuat ke publik. Hal ini lantaran karena sebuah klaim dari sejarawan Indonesia, Ahmad Mansur Suryanegara, yang mengatakan bahwa nama asli Kapitan Pattimura bukanlah Thomas Matulessy melainkan Ahmad Lussy. Klaim ini pun menyebar cepat di media sosial apalagi setelah sejumlah oknum tokoh agama mengatakan hal yang sama.
Namun klaim bahwa Pattimura bernama Ahmad Lussy tidak memiliki dokumen primer atau sahih. Ahmad Lussy memang seorang tokoh fisik yang benar ada, namun bukan Pattimura. Keduanya ada dan bukan orang yang sama. Klaim keliru ini semakin jelas setelah keturunan dari Pattimura sendiri yang menyatakan bahwa nama asli Pattimura adalah Thomas Matulessy dan ia seorang Kristen.
6. Frans Kaisiepo
Selain gambar Kapitan Pattimura yang termuat di mata uang 1000 rupiah, ada juga gambar Frans Kaisiepo di mata uang 10,000 rupiah. Frans Kaisiepo adalah pahlawan nasional dan seorang politikus dari Papua. Ia lahir pada 10 Oktober 1921 di Biak, Papua.
Sebelum menjadi seorang nasionalis dan politikus, Frans Kaisiepo pernah mengenyam pendidikan di sebuah sekolah guru agama Kristen di Manokwari dan sekolah kursus pegawai Papua di Jayapura.
Juli 1946, Frans Kaisiepo pertama kali terjun ke politik setelah menjadi anggota delegasi pada Konferensi Malino di Sulawesi Selatan. Ia merupakan pendiri Partai Indonesia Merdeka di Biak. Ia adalah tokoh nasional yang sepanjang hidupnya berjuang mempersatukan Irian Barat dengan Indonesia. Selain itu, Frans Kaisiepo juga dikenal sebagai Gubernur Papua ke-4.
Kaisiepo wafat pada 10 April 1979 di usia 57 tahun. Ia dimakamkan di sebuah lahan depan Taman Makam Pahlawan Cendrawasih di Kampung Mokmer, Kabupaten Biak Numfor, Papua.
7. Sam Ratulangi
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Minahasa. Ia lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi. Ia adalah pahlawan nasional dari Sulawesi Utara. Sam Ratulangi juga merupakan seorang politikus, jurnalis, dan guru.
Nama Sam Ratulangi sangat terkenal di Minahasa. Semua ini karena perjuangannya menghapuskan kerja paksa di Minahasa, menyelenggarakan transmigrasi, hingga membentuk yayasan serta membiayai pendidikan bagi warga yang tak mampu. Ratulangi merupakan salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sekaligus Gubernur Sulawesi yang pertama.
Karena jasa-jasa dan perjuangannya, potret Sam Ratulangi diabadikan dalam pecahan uang 20,000 rupiah di bagian depan, selain Pattimura dan Frans Kaisiepo.
8. Urip Sumoharjo
Jenderal TNI Raden Urip Sumoharjo lahir di Purworejo pada 22 Februari 1893. Ia dibesarkan dalam keluarga santri dengan nama kecilnya Muhammad Sidik. Ia kemudian menjadi seorang Kristen ketika dewasa.
Urip Sumoharjo adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang pertama sebelum Jenderal Sudirman. Ia juga membentuk Angkatan Perang Nasional. Selain itu Urip Sumoharjo merupakan penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.
Kakek Urip Sumoharjo yakni Mbah Glondang Rayi berharap agar cucunya menjadi orang alim dan mampu pergi ziarah ke Makkah. Namun harapan kakeknya tersebut tak pernah terwujud lantaran cucu kesayangannya justru menjadi penganut Kristen Katolik.
Pada 17 November 1948, Urip Sumoharjo dinyatakan wafat di kamar perawatannya di Yogyakarta akibat serangan jantung. Ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara dan secara anumerta diangkat menjadi jenderal.
Pada bulan Desember 1964, 16 tahun setelah wafatnya, Kardinal Monsinyur Darmojuwono membawa sebuah piala dari Paus Paulus VI yang bertuliskan, "In memori ducis militum Benedicti Oerip Soemohardjo pro Aede sacra". Piala itu kini disimpan di gereja kecil di kompleks Akademi Militer Magelang.
9. Martha Christina Tiahahu
Martha Christina Tiahahu lahir pada 4 Januari 1800 di Nusalaut, Maluku Tengah. Di usianya yang masih sangat muda, yakni 17 tahun, Martha telah mengangkat senjata guna melawan penjajah Belanda.
Gadis remaja itu turut melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura pada tahun 1817. Ia terlibat dalam sejumlah pertempuran seperti perlawanan di Saparua, perlawanan merebut Benteng Beverwijk, dan perlawanan di daerah Ulath-Ouw.
Pada 16 Oktober 1817, Martha Christina Tiahahu bersama ayahnya dibawa ke Nusalaut. Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, yang telah lanjut usia pun dieksekusi. Ketika eksekusi tersebut, Martha dengan tegar mendampingi sang ayah. Sepeninggal ayahnya, kesehatan Martha menurun. Ia merasa hampa setelah kepergian ayahnya.
Pada 2 Januari 1818, Martha Christina Tiahahu mengembuskan napas terakhir. Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional pada tanggal 20 Mei 1969.
10. Wage Rudolf Supratman
Wage Rudolf Supratman lahir pada 19 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah. Ia adalah guru, wartawan, violinis, serta komponis. Supratman adalah seorang penganut agama Katolik yang taat. Nama baptisnya adalah Rudolf.
Wage Rudolf Supratman adalah pahlawan nasional. Namanya dikenal hingga sekarang sebagai pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Lagu tersebut ia ciptakan pada tahun 1924 ketika usianya masih 21 tahun. Setelah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan nasional.
Karena lagu yang diciptakan ini, Supratman kerap kali menjadi buronan sampai jatuh sakit. Ia ditangkap pada Agustus 1938 dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Supratman mengembuskan napas terakhirnya pada 17 Agustus 1938 dan dimakamkan secara Islam.
Sama seperti Pattimura, sempat beredar klaim bahwa Wage Rudolf Supratman beragama Islam, aliran Ahmadiyah. Kenyataannya ia adalah seorang penganut agama Katolik yang taat. Bukti sejarah yang menyatakan Supratman beragama Islam pun tak valid dan kurang dapat dipercaya.
M. Sapija penulis buku Sejarah Nasional Edisi Pertama dengan jelas menulis bahwa Wage Rudolf Supratman adalah seorang penganut agama Katolik. Tidak hanya itu saja, Gereja Katolik memiliki data dan keterangan sejak awal bahwa W. R. Supratman adalah seorang Katolik. Data ini dimiliki oleh Keuskupan Agung Jakarta yang membenarkan bahwa Supratman merupakan seorang Katolik.
Penutup
Demikianlah daftar 10 Pahlawan Nasional Indonesia yang beragama Kristen. Kiranya perjuangan mereka dalam memerdekakan nusantara menjadi teladan bagi kita untuk ikut ambil bagian memajukan bangsa sebagai pengikut Kristus.