Sering kali Kekristenan dipahami dengan keliru menurut ukuran non-Kristen. Persepsi dari kacamata berbeda hanya akan menimbulkan tuduhan-tuduhan. Salah satunya ketika berusaha memahami Tritunggal dari sudut pandang lain. Bagi mereka yang berada di luar Kekristenan akan menganggap bahwa Tritunggal adalah sebagai penyembahan pada tiga tuhan atau allah. Tentu saja pandangan itu tidak diimani Kekristenan.
Allah yang Esa dalam Alkitab
Sebenarnya tentang Allah Yang Esa sebelumnya sudah kita bahas. Namun mari kita sedikit kembali mengingatnya.
Dalam Perjanjian Lama, ketika Musa membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, Musa mengajarkan pada bangsa Israel bahwa Allah itu esa.
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!—Ulangan 6:4
Selain ayat di atas, para nabi-nabi yang hidup sebelum kelahiran Yesus telah menegaskan keesaan Allah. Lalu, bagaimana dengan Perjanjian Baru atau Injil? Tuhan Yesus dan para rasul terus mengajarkan hal ini dan tak pernah merubahnya. Bahkan, Rasul Paulus, yang selalu dituduh membuat ajaran Tritunggal, ia sendiri dengan jelas menegaskan keesaan Allah dalam suratnya kepada Timotius.
Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa—Markus 12:29
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus—1 Timotius 2:5
Menilik Makna Esa
Bahasa asli yang digunakan dalam kepenulisan Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani memiliki struktur kata yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Ibrani mengenal bentuk Tunggal (Singular), Dual, dan Jamak (Plural). Nah, menariknya kata "Allah" atau "Sesembahan" dalam bahasa Ibrani ditulis oleh Musa dalam bentuk jamak dan bukan tunggal ataupun dual.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi—Kejadian 1:1
Perhatikan ayat Alkitab bahasa Indonesia di atas. Kata "Allah" dalam bahasa aslinya menggunakan kata elohim (אֱלֹהִים). Kata "elohim" memiliki sufiks/akhiran -im yang menunjuk bentuk jamak. Sedangkan kata "menciptakan" dalam bahasa aslinya adalah bara (בָּרָא), yang justru merupakan kata kerja tunggal. Ayat pembuka Alkitab ini telah menyiratkan pada kita adanya keesaan komposit. Sebab jika para penulis Perjanjian Lama hendak menjelaskan pada bangsa Israel bahwa keesaan Allah bersifat satu yang absolut atau mutlak, seharusnya menggunakan kata generik El atau Eloah.
Lalu, jika kita melihat kembali ayat di Ulangan 6:4, kata "esa" merupakan terjemahan dari bahasa aslinya echad (אֶחָד). Padahal kata echad ini tidak hanya menunjuk pada "satu", namun juga menunjuk pada keesaan/kesatuan. Contohnya pada Kejadian 2:24.
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu (אֶחָד) daging
Jika Musa dan para penulis Perjanjian Lama berusaha menjelaskan keesaan Allah yang absolut atau mutlak, seharusnya mereka menggunakan kata yang lebih sesuai, yakni yachid (יָחִ֖יד). Sebab kata yachid lebih tegas dalam menerangkan satu dalam artian yang tak terpisah, tunggal, dan unik. Namun kenyataannya, Musa dan para penulis Perjanjian Lama menggunakan kata "echad".
Kata echad telah memberikan gambaran tersirat dan menuntun kita untuk memahami-Nya. Esa tidak hanya menunjuk pada sebuah bilangan. Allah yang Esa juga menunjukkan siapa Allah yang Sejati dan Benar. Satu-satunya Allah yang layak disembah. Selain dari Dia, hanyalah sesembahan-sesembahan mati, berhala mati, atau "tuhan" ciptaan pikiran manusia.
Catatan
Tulisan ini takkan mampu menjelaskan secara jelas dan konkret tentang keesaan Allah. Allah itu tak terbatas ruang dan waktu, dan tak mampu dijangkau oleh pikiran dan logika manusia. Namun selagi kita menilik dan mengenal-Nya melalui tulisan-tulisan ilahi yang menjadi Kitab Suci kita hari ini dan melalui Anak-Nya yang Tunggal, Firman-Nya yang menjadi daging, sejauh itu kita dapat mengenal dan memahami misteri keesaan Allah.