• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Friday, May 6, 2022

Home » Apologetika , Sejarah » Benarkah Yesus Diangkat Jadi Tuhan pada Konsili Nicea 325?

Benarkah Yesus Diangkat Jadi Tuhan pada Konsili Nicea 325?

  Only Truth     Friday, May 6, 2022

Konsili Nicea 325 merupakan salah satu bagian dari sejarah Gereja penting yang patut kita bahas. Sebab dari hasil konsili tersebut iman Kekristenan yang diwariskan dari pengajaran para rasul tetap teguh berdiri hingga sekarang, sehingga kita bisa membedakan mana yang ajaran rasuliah dan mana penyesat.


Akhir-akhir ini sejarah konsili ini kembali mencuat ke permukaan. Bukan sebagai ajang berdiskusi secara akademis melainkan diselewengkan historisitasnya dan digunakan untuk menyerang iman Kristen. Konsili Nicea dituduh diadakan untuk "men-tuhankan" manusia bernama Yesus dan melantik Yesus menjadi Tuhan pada konsili yang diselenggarakan tahun 325 tersebut. Topik ini bahkan diangkat ke ranah dunia maya hingga menimbulkan pro dan kontra serta perdebatan. Sejarah yang dibelokkan tanpa mencari tahu validitasnya untuk mencetuskan tuduhan serta fitnahan.


Kenapa tuduhan? Sebab tidak satu pun argumen yang menyinggung Kekristenan melalui media Konsili Nicea 325 benar. Argumentasi-argumentasi yang seharusnya berdasarkan fakta dan data yang definit, nyatanya tak lebih dari sekadar sebuah luapan kebencian atas Kekristenan. Topik Konsili Nicea 325 semakin mencuat dan berkembang hingga orang-orang mulai berpikir liar dan membuat tuduhan-tuduhan lain. Konsili Nicea tidak hanya dianggap sebagai "pen-tuhanan" Yesus, tapi juga dituduh untuk pertama kalinya ajaran Trinitas atau Tritunggal ditetapkan. Trinitas juga dituduh dibentuk untuk mempersatukan Kerajaan Romawi pada saat itu dan dianggap sebagai doktrin penguat politik, serta masih banyak tuduhan lainnya.


Daftar isi
  • 1 Sejarah Ringkas Konsili Nicea 325
    • 1.1 Melawan Ajaran Arius
    • 1.2 Fakta
  • 2 Bukti Yesus adalah Tuhan dan eksistensi Tritunggal sebelum tahun 325
    • 2.1 Bukti Pertama: Perjanjian Baru
    • 2.2 Bukti Kedua: Catatan Kuno di luar Kekristenan
    • 2.3 Bagaimana dengan Tritunggal?


Fresco in Capella Sistina, Vatican, Public domain, via Wikimedia Commons

Sejarah Ringkas Konsili Nicea 325

Konsili Nicea adalah konsili ekumenis pertama yang diselenggarakan di Nicea (sekarang Turki) atas naungan Kaisar Konstantinus pada 20 Mei-19 Juni tahun 325 M. Selama pemerintahan Konstantinus sebagai seorang kaisar, ia tidak mau mendengar atau melihat adanya pertikaian di bawah kekuasaannya. Salah satunya adalah ketika ada kabar seorang bernama Arius dengan ajarannya membuat kegaduhan di Aleksandria, sang kaisar segera mengundang dan menghimpun uskup-uskup atau perwakilan umat Kristen di seluruh penjuru dunia untuk menyelesaikan permasalahan ini.


Bahkan, demi lancarnya penyelenggaraan perkumpulan ini, Konstantinus membiayai ongkos perjalanan serta tempat penginapan untuk para uskup yang datang dan bagi mereka yang turut serta menemani uskup. Meski tampaknya Konstantinus berusaha menyatukan umat Kristen saat itu agar sekata dan sejalan, namun ia tak memaksa mereka untuk memilih pandangan mereka sendiri-sendiri terkait perselisihan itu. Pada saat itu, Konstantinus masihlah seorang pagan dan belum menjadi Kristen. Oleh sebab itu ia juga ingin mencari kebenaran dan bukan pembenaran melalui konsili tersebut dengan tak membela suara mayoritas atau untuk memengaruhi hasil konsili.


Konsili ini diketahui dipimpin oleh Hosius, seorang uskup Korduba, dan dihadiri 318 uskup. Diperkirakan keseluruhan yang menghadiri konsili tersebut setidaknya lebih dari 1.800 orang jika dihitung dengan presbiter serta diakon yang menemani masing-masing uskup. Ada beberapa hal yang dibahas dalam konsili ini, seperti pembahasan tanggal perayaan Paskah, tata tertib Gereja, orang Kristen yang murtad, mengenai bidat-bidat, dan lain-lain. Namun inti dari konsili ini diadakan adalah sebagai wujud reaksi atas pengajaran sesat oleh Arius. Setelah permasalahan dengan Arius berhasil dituntaskan dan Gereja meng-anathema Arius, Gereja kemudian berinisiatif merumuskan kredo atau syahadat atau ikhtisar iman Kristen guna mencegah ajaran-ajaran seperti Arius bermunculan kembali, meskipun sebelum konsili tersebut sudah ada beberapa macam rumus syadahat.


Melawan ajaran Arius

Arius adalah seorang presbiter di Aleksandria. Ia menyebarkan ajaran yang berbeda dari apa yang diajarkan uskupnya yakni Aleksander, uskup Aleksandria. Ajarannya berkisar pada kodrat Yesus dan hubungan Allah (Bapa) dengan Putra (Yesus). Arius dalam ajarannya mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari Yesus dan menitikberatkan supremasi Allah Bapa. Sedangkan Yesus, menurut Arius, memiliki permulaan dan tidak kekal. Sang Putra adalah ciptaan Bapa atau makhluk Allah, namun kemudian "dijadikan allah" atas kehendak Bapa sendiri. Buah pemikiran Arius yang mengajarkan Bapa lebih besar dari Putra merujuk pada tafsiran kelirunya sendiri atas Yohanes 14:28 yang mengatakan, "Bapa lebih besar daripada Aku".


Semula ketika Arius menyebarkan ajarannya sececah, banyak yang terpengaruh dengan pandangannya tersebut dan tak sedikit uskup yang mendukungnya. Namun setelah konsili diadakan dan tulisan-tulisan Arius tentang pemahamannya dibacakan lebih banyak lagi, ia ditentang keras oleh hampir seluruh yang menghadiri konsili tersebut dan dianggap menghujat Allah. Mereka yang berpihak pada Arius satu per satu pergi karena ajarannya yang ternyata justru menyesatkan dan hanya menyisakan dua orang yang masih di pihaknya. Ajaran Arius dianggap sesat dan bertentangan langsung dengan apa yang disampaikan di Injil: "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh 10:30) dan "Firman itu adalah Allah" (Yoh 1:1). Sebab Sang Putra atau Sang Firman telah ada bersama-sama dengan Bapa sebelum segala zaman, tak diciptakan, setara, dan sehakekat. Melihat pokok-pokok ajaran Arius di masa lampau atau ajarannya yang dikenal juga dengan sebutan Arianisme, serupa dengan ajaran Saksi-Saksi Yehovah di masa sekarang.


Arius mengakui keilahian Yesus, namun baginya keilahian itu diberikan pada Yesus ketika Ia datang ke dunia. Sedangkan bagi Gereja, yang memegang teguh ajaran para rasul, keilahian Yesus sebagai Firman Allah telah nyata sebelum permulaan waktu.


Fakta

Mereka yang menghadiri Konsili Nicea sudah terlebih dulu percaya Yesus adalah Allah. Permasalahan yang diangkat ke konsili tersebut bukan "men-tuhankan" Yesus, melainkan Yesus adalah "Allah yang bagaimana?". Konsili ini diadakan sebagai bentuk sebuah reaksi dari pemikiran Arius yang dapat menyesatkan jiwa-jiwa umat pada saat itu dengan mengatakan Yesus adalah "Allah" namun lebih rendah dari Allah Bapa. Gereja terlebih dulu percaya akan Yesus dan Tritunggal Mahakudus dan menegaskannya ketika doktrin tersebut disalahpahami. Akan sangat berbalik dari kenyataan jika mengatakan Gereja baru percaya Yesus adalah Allah pada tahun 325 M.


Konsili ini merupakan langkah tepat yang diambil Gereja untuk bertindak tegas terhadap doktrin-doktrin yang menyimpang dari apa yang mereka terima dari para rasul. Konsili Nicea 325 bukan melantik Yesus menjadi Tuhan, tapi meneguhkan iman yang sudah dipercayai bahwa Yesus adalah Tuhan.


Setelah pembahasan tentang sejarah Konsili Nicea I, mungkin kita masih akan bertanya, apakah ada bukti lain yang menunjukkan eksistensi Yesus adalah Tuhan dan kepercayaan umat Kristen sebelum tahun 325 M? Jawabannya, Ya, ada!


Bukti Yesus adalah Tuhan dan eksistensi Tritunggal sebelum tahun 325


Bukti Pertama: Perjanjian Baru

Bukti keilahian Yesus tampak nyata bisa dilihat di Perjanjian Baru, di mana Ia sendiri mengaku bahwa Ia adalah Tuhan (Yoh 13:13), ucapan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Yesus membenarkannya (Mark 16:16-17), penyembahan yang dilakukan orang-orang dan Yesus tak menolak apa yang mereka lakukan (Mat 9:18, 14:33, 15:25).


Mungkin kemudian akan timbul pertanyaan, apakah Perjanjian Baru dapat dipercaya? Ya, sangat dapat! Saat ini kita memiliki lebih dari 5.000 manuskrip kuni berbahasa Yunani dan 20.000 lebih manuskrip dengan bahasa lainnya. Melalui penanggalan karbon kita dapat mengetahui kalau manuskrip-manuskrip tersebut lebih tua dari Konsili Nicea yang diadakan pada tahun 325 M. Dari manuskri-manuskrip tersebut kita dapat melihat keilahian Yesus Kristus sebelum Konsili Nicea diadakan. Satu contoh, salah satu manuskrip tertua yang berhasil ditemukan adalah Papyrus 52 (berasal kurang lebih sekitar tahun 125 M) dan memuat Injil Yohanes 18:31-33 dan 37-38.

Maka kata Pilatus kepada-Nya: 'Jadi Engkau adalah raja?' Jawab Yesus: Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku—Yohanes 18:37

Bukti Kedua: Catatan Kuno di luar Kekristenan

Gaius Plinius Caecilius Secundus atau lebih dikenal sebagai Plinius Muda yang hidup sekitar tahun 61-112 M, adalah seorang penulis sejarah dan politikus Roma. Dia seorang pagan dan menyembah dewa-dewi Romawi. Dalam suratnya kepada Kaisar Romawi Trajan, ia menuliskan alasan orang-orang Kristen tak mau menyembah Kaisar Trajan, bahkan meskipun orang Kristen di bawah siksaan berat.

Mereka menegaskan seluruh kesalahan mereka (orang-orang Kristen), bahwa mereka memiliki kebiasaan bertemu pada hari tertentu sebelum fajar, di mana mereka menyanyikan himne pujian kepada Kristus seperti kepada tuhan, dan mengikat diri dengan sumpah yang khusyuk, bukan untuk melakukan perbuatan jahat, tetapi untuk tidak pernah melakukan penipuan, pencurian atau perzinahan, tidak pernah bersaksi dusta, atau menyangkal kepercayaan ketika mereka harus dipanggil untuk diserahkan—Pliny Book 10, Letter 96 (Epistulae X.96)

Bagaimana dengan Tritunggal?

Jika kita kembali ke bukti di atas bahwa Perjanjian Baru layak dipercaya dan tak pernah berubah sejak awal ditulisnya, maka kita dapat melihat melimpahnya pewahyuan diri Allah di dalamnya. Salah satu bukti Tritunggal yang paling menonjol adalah di Matius 28:19.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus—Matius 28:19

Di luar Alkitab kita juga memiliki bukti lain. Sebelum tahun 325, Bapa-bapa Gereja yang adalah penerus para rasul, telah percaya pada eksistensi Tritunggal, meskipun saat itu mereka belum memberi nama atau istilah untuk berteologi secara formal. Berikut beberapa catatan Bapa-bapa Gereja sebelum Konsili Nicea yang menyatakan tiga keberadaan konkrit dalam diri Allah yang Esa.

Bukankah kita punya satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya pada kita?—Klemens dari Roma (menjadi Paus pada tahun 88-99)
Aku memuji Engkau (Bapa), ... aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, lewat Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin—Polikarpus dari Smirna, dalam doanya sebelum ia dibunuh menjadi martir pada tahun 155
Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan Kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, ...Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepada-Nya Ia bersabda, ‘Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambar Kita—Ireneus dari Lyon, dalam bukunya Againts Heresies, ditulis sekitar tahun 180 M
Dengan cara demikian juga ketiga hari sebelum terciptanya penerang, ada tanda-tanda Trinitas [Τριάς], Allah, dan Firman-Nya, dan Kebijaksanaan-Nya. Dan yang keempat adalah tanda manusia yang membutuhkan terang, sehingga demikianlah terdapat Allah, Firman, kebijaksanaan, manusia—Teofilus dari Antiokhia (menjadi Patriak pada tahun 169-182)

Perkataan Bapa-bapa Gereja di atas mengindikasikan bahwa memang semenjak Kekristenan lahir dan berkembang, telah percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan telah meyakini pemahaman akan Tritunggal, namun pada saat itu belum mengenal bentuk definitif penyebutannya. Ini artinya, argumen yang mengatakan jika Yesus baru di-tuhankan dan doktrin Tritunggal baru eksis pada abad ke-4, hanyalah sebatas sebuah tuduhan dan tak bersifat nyata dan hanya bertujuan menyerang iman Kekristenan.

By Only Truth at May 06, 2022
Labels: Apologetika, Sejarah

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media