• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Monday, June 20, 2022

Home » Lain , Sejarah » Apakah Yesus Menikah dan Punya Anak?

Apakah Yesus Menikah dan Punya Anak?

  Only Truth     Monday, June 20, 2022

Kemanusiaan Yesus yang tak berdosa, suci, dan tak sama seperti kebanyakan manusia pada umumnya terus diperdebatkan. Salah satu argumentasi untuk membantah kemanusiaan Yesus yang kudus dan menyatakan bahwa Yesus itu sama dengan manusia umumnya adalah Yesus menikah dan memiliki anak.


Topik ini menjadi kontroversi apalagi setelah ditemukan sebuah papirus yang mendukung opini orang-orang yang pro bahwa Yesus menikah. Sebuah papirus berukuran kecil yang dituliskan dalam bahasa Koptik dan diperkirakan berasal dari abad 4 M dipublikasikan oleh seorang profesor bernama Karen L. King dari Harvard Divinity School, Cambridge. Dalam papirus tersebut bertuliskan: "Yesus berkata kepada mereka, 'Istriku ...'". Tahun 2003, Dan Brown, juga menyinggung pernikahan Yesus dalam novelnya yang menjadi best seller, yang berjudul The Da Vinci Code. Novelnya ini kemudian diadaptasi ke sebuah film dengan judul yang sama dan ditayangkan perdana pada tahun 2006.


Melalui penemuan papirus kuno tersebut dan novel Dan Brown seakan membuat dunia Kekristenan yang meyakini Yesus tidak menikah terguncang. Hingga sekarang argumentasi itu seolah dianggap benar, sehingga orang-orang kemudian berspekulasi bahwa wanita yang dimaksud memiliki hubungan khusus dengan Yesus adalah Maria Magdalena.


Lantas benarkah demikian bahwa Yesus memang menikah dan punya anak? Mari kita selidiki.


Kritik terhadap Papirus

Penemuan papirus ini dipublikasikan oleh Karen L. King dan dibawa ke International Congress of Coptic Studies di Roma. Para peneliti papirus tersebut sepakat untuk bersikap skeptis, meskipun beberapa di antaranya sudah ada yang meragukan keautentikannya. Profesor Francis Watson dari University of Durham meragukan keaslian fragmen tersebut. Ia berpendapat bahwa kemungkinan besar kepenulisannya dilakukan di abad 20-21 di atas papirus kuno lainnya. Watson menduga, kemungkinan ada seseorang yang menemukan secarik papirus kuno kemudian menambahkan tulisan lain di atasnya atas dasar kepentingan pribadi atau finansial.


Selain itu, para ahli manuskrip juga sepakat bahwa tulisannya sangat berantakan dan menunjukkan bahwa penulisnya tidak fasih menulis dalam bahasa Koptik. Ada juga yang menduga bahwa papirus ini muncul sebagai bentuk kesengajaan untuk mendukung novel Dan Brown yang menyatakan Yesus menikah. Sayangnya, pernyataan Dan Brown yang seolah yakin dengan keautentikan nilai historis yang ditulisnya tersebut ternyata keliru, sebab sumber data yang ia pakai telah diragukan para ahli sejak lama.


Kritik terhadap The Da Vinci Code

Setelah terbitnya novel Dan Brown, ia lantas digempur banyak kritik historis sebab data-data yang diangkat bukunya keakuratannya dipertanyakan. Setahun berikutnya, sebuah buku non-fiksi karya Sandra Miesel dan Carl E. Olson berjudul The Da Vinci Hoax keluar guna membantah serta mengkritisi klaim-klaim yang ada di buku Dan Brown.


Dan Brown menyatakan dalam bukunya bahwa Maria Magdalena berasal dari suku Israel, suku Benyamin. Pernyataannya tersebut dibantah oleh Miesel dan Olson, sebab faktanya Magdala, asal Maria Magdalena, berada di Israel Utara, sedangkan suku Benyamin berada di selatan. Ini bukan masalah sepele. Ini adalah masalah serius, sehingga dasar sejarah yang dibangga-banggakan Dan Brown sebagai sejarah akurat dengan mudah dijungkirbalikkan.


Orang yang membenci Firman Allah, seperti Dan Brown, juga akan gagal memahami isi Injil. Salah satunya adalah ketidaktahuannya yang secara keliru mengidentifikasi Maria Magdalena dengan Maria yang lain. Dan Brown sering kali mengaitkan Maria yang satu dengan Maria yang lain. Ini menunjukkan kesalahpahamannya mengenai Kitab Suci dan ketidaktahuannya untuk memahami. Dan Brown seakan hanya membaca Kitab Suci untuk menyalahgunakannya demi kepentingan dirinya sendiri.


Dan Brown juga mengklaim bahwa Kaisar Konstantinus menghancurkan injil Gnostik yang mengatakan Yesus adalah seorang nabi dan mengenalkan Injil Sinoptik yang menggambarkan Yesus sebagai sosok ilahi, sehingga dengan harapan ini akan memikat kaum pagan karena menampilkan sosok manusia setengah dewa. Dan ini dibantah kembali oleh fakta historis. Kenyataannya aliran-aliran Gnostik tidak hanya sekadar menggambarkan Yesus sebagai manusia, namun doktrin mereka lebih menekankan bahwa rupa-rupa ilahi tak mungkin bersatu dengan rupa insani. Beberapa aliran Gnostik sebagai contohnya, mereka percaya bahwa Yesus adalah Allah namun mereka memandang kemanusiaan Yesus hanya bersifat "tampaknya" atau sekadar ilusi.


Selain banyak ditentang dan digempur dari segi historis, The Da Vinci Code karya Dan Brown juga ditentang dari segi ilmiah dalam tulisannya. Salah satunya ketika menjelang pada akhir novelnya, Dan Brown mengisahkan Sophie dan Langdon melihat ke arah timur menyaksikan naiknya planet Venus ke atas pada sore hari. Padahal, tidak mungkin sekali menyaksikan Venus naik di atas ufuk timur pada sore hari. Venus hanya akan terlihat naik di timur pada pagi hari karena lokasi orbitnya yang berada di antara bumi dan matahari.


Tidak cukup diserang oleh berbagai macam kritik data, Dan Brown juga beberapa kali dibawa ke pengadilan atas dasar dugaan plagiarisme dari novel-novel yang sebelumnya telah ada. Novel Dan Brown ini yang kemudian diangkat ke layar lebar, juga sempat ditolak oleh sejumlah komunitas Katolik di beberapa belahan dunia, bahkan Uskup Agung Agelo Amato, sekretaris Kongregasi bagi Doktrin Iman atau CDF, pada tahun 2006 menyerukan pemboikotan film The Da Vinci Code secara khusus. Pemboikotan dan beragam ekspresi tanggapan dari umat Kristen, membuat sejumlah orang yang anti Kekristenan yakin bahwa mereka berhasil mengekspos kebohongan Gereja. Faktanya, seperti yang dijelaskan di atas dan seperti yang dikatakan langsung oleh Uskup Agung Angelo Amato, bahwa film tersebut penuh dengan kesalahan historis, teologis, dan hanya bersifat penghinaan serta fitnah. Sehingga akan sangat wajar jika Kekristenan, khususnya Katolik, memboikot film ini karena tak berdasarkan fakta, melainkan fitnahan.


Yesus Tidak Mungkin Menikah

Satu lagi klaim yang diajukan Dan Brown sehingga tulisannya ini juga dipakai orang-orang yang hendak menyerang Kekristenan adalah bahwa tidak mungkin para rabi atau guru atau pria Yahudi di zaman Yesus tidak menikah. Argumentasi tanpa didasarkan bukti ini berusaha mengatakan pria-pria di zaman Yesus pasti menikah. Lagi-lagi, argumen-argumen tersebut dibantah langsung oleh fakta historis dan apa yang dikatakan Alkitab.


Darrell Bock, sarjana Perjanjian Baru sekaligus penulis buku Breaking the Da Vinci Code: Answers to the Questions Everyone's Asking, memberi bukti bahwa orang-orang Eseni Yahudi dan komunitas Qumran (di mana naskah Laut Mati ditemukan), umumnya mereka tidak menikah dan memilih hidup selibat. Ini juga didukung oleh pernyataan seorang filsuf Yahudi terkenal, Philo dari Aleksandria, bahwa kaum Eseni tidak memiliki istri. Bukan hanya Philo saja, sejarawan-sejarawan yang hidup tak jauh dari masa Kristus, seperti Flavius Yosephus dan Pliny, sepakat bahwa sejumlah orang dari kaum Eseni menjauhkan diri dari pernikahan untuk suatu alasan kesucian.


Begitu juga para tokoh di Perjanjian Baru, seperti Rasul Paulus, Rasul Yohanes, atau Yohanes Pembaptis yang tidak menikah. Kehidupan mereka yang tidak menikah bukanlah suatu perkara yang aneh. Demikian pula pada kasus Yesus yang tidak menikah. Hidup selibat ini tidak hanya terjadi pada masa Yesus, namun juga sebelum kelahiran-Nya ke dunia (BC), yakni seperti pada kaum Eseni. Bahkan, jauh sebelum itu juga nabi Yeremia telah mendapat perintah dari Tuhan untuk tidak menikah dengan alasan suatu pekerjaan rohani.

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini—Yeremia 16:1-2

Jadi tidaklah benar dengan mengatakan bahwa hukum tradisi Yahudi mewajibkan seluruh pria Yahudi untuk menikah. Beberapa memilih tidak menikah untuk suatu alasan kesucian dan pemurnian atau karena pekerjaan sebagai hamba Tuhan seperti pada kasus nabi Yeremia. Ini kemudian juga ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus bahwa sejumlah orang memilih untuk tidak menikah karena kemauan sendiri oleh sebab tanggung jawab rohani.

Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti"—Matius 19:10-12

Selain dari budaya Yahudi pada waktu itu, alasan Yesus tidak mungkin menikah adalah karena Yesus, yang adalah Allah, datang dari surga dan bukan berasal dari dunia. Ia tidak berasal dari dunia dan tak sama dengan kita yang mewarisi dosa Adam. Yesus Kristus telah ada sebelum dunia dijadikan sebagai Firman Allah dalam kekekalan dan kekudusan. Maka tidaklah layak Ia yang bukan dari dunia ini menikah dengan manusia insani yang dapat mati.


Kekristenan tidaklah sama dengan agama-agama pagan di dunia, yang mengisahkan dewa mereka menjalin hubungan dengan manusia dan memiliki anak setengah dewa setengah manusia. Kekristenan tidaklah seperti itu. Kristus sungguh Allah dan sungguh Manusia. Dalam kemanusiaan-Nya tersebut Ia juga menjaga kekudusan sebagai teladan bagaimana manusia hidup sejatinya.


Baca Juga: Kodrat Yesus Kristus: Sungguh Allah dan Sungguh Manusia


Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya—1 Korintus 7:32-33

Lagi pula kedatangan Kristus ke dunia bertujuan untuk menebus dosa umat manusia, dan karya-Nya tersebut jauh lebih berharga dan tinggi daripada ukuran kita untuk mempertanyakan Yesus menikah atau tidak. Selain itu, tidak ada satu pun bukti di Alkitab, baik secara eksplisit maupun implisit, yang mengindikasikan Yesus menikah, apalagi dengan seorang perempuan bernama Maria Magdalena. Sekalipun Yesus memang menikah, seharusnya para rasul atau juga Paulus mengatakan demikian dalam surat mereka.


Dan lagi, jika Yesus benar-benar menikah dan meninggalkan anak secara fisik, maka akan ada dua mempelai perempuan, di mana mempelai sebelumnya adalah Gereja-Nya sendiri. Banyak yang berusaha mengutip ayat-ayat di Kitab Suci sebagai dasar bukti bahwa Yesus menikah. Salah satunya ayat berikut.

Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus—2 Korintus 11:2

Dengan mengutip ayat di atas sebagai bukti Yesus menikah adalah sebuah pembenaran yang terlalu terburu-buru. Sebab jika kita melihatnya dalam keseluruhan konteks, maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa mempelai perempuan yang dimaksud Paulus untuk dibawa pada Kristus adalah Gereja. Maksudnya, pertunangan ini bermakna ilahi. Kristus sebagai mempelai laki-laki sedangkan mempelai perempuan adalah Gereja. Bukankah Yesus sendiri yang mengajarkan bahwa perkawinan hanyalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (Mat 19:3-12)? Jika Ia menikah dengan perempuan duniawi, ini berarti Ia telah bertentangan dengan ajaran-Nya sendiri. Ini bukan sifat Tuhan yang konsisten dan tak pernah berubah.


Untuk lebih jelasnya mengenai perkawinan Kristus dengan Gereja, Rasul Yohanes dalam suratnya menggambarkan hal ini sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba.

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) Lalu ia berkata kepadaku: Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. Katanya lagi kepadaku: Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah—Wahyu 19:7-10

Perjamuan kawin Kristus dengan Gereja memiliki makna jauh melampaui dari sekadar perkawinan antara manusia pada umumnya di bumi. Melalui gambaran kasih Kristus dan Gereja ini, juga menjadi arahan bagaimana para suami mengasihi istrinya, begitu juga sebaliknya istri mengasihi suaminya. Sama seperti Kristus yang telah lebih dulu mengasihi Gereja-Nya sebagai mempelai perempuan.


Seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam penglihatannya, kelak ketika hari kedatangan-Nya yang kedua kali tiba atau ketika Kristus datang menjemput mempelai perempuan-Nya, di sanalah kita akan menghadiri perjamuan kawin Anak Domba. Berkaitan dengan ini Yesus telah meminta kita agar berjaga-jaga seperti dalam perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis bodoh (Matius 25:1-13). Kristus meminta kita senantiasa berjaga-jaga, agar ketika Sang mempelai datang kita ikut serta menyongsongnya dan supaya dapat ikut masuk menghadiri perjamuan kawin tersebut. Tidak seperti lima gadis bodoh yang lupa membawa minyak karena lengah dan tak berjaga-jaga. Perjamuan kawin Anak Domba ini akan menjadi perayaan besar dan agung bagi setiap orang yang telah hidup di dunia dalam kekudusan dan anugerah kasih yang diberikan Allah pada kita.

By Only Truth at June 20, 2022
Labels: Lain, Sejarah

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media