Halal dan haramnya makanan selalu menjadi topik yang sensitif jika diangkat, karena ini berkaitan dengan agama. Masalah perut berkaitan halal dan haram makanan selalu disinggung untuk dipaksakan pada yang berbeda. Kekristenan pun ikut terseret mengenai problem ini. Kekristenan yang termasuk dalam agama Abrahamik dituduh telah menafikan dan melanggar hukum Taurat yang melarang babi untuk dikonsumsi. Argumen ini didasarkan pada ayat yang tertera di Perjanjian Lama.
Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu—Imamat 11:7
Jika Alkitab sendiri yang mengatakan larangan untuk mengkonsumsi babi, tapi kenapa umat Kristen justru memakannya? Apa ini berarti Kekristenan telah melanggar hukum Taurat?
Kekristenan yang lahir dari Yahudi tidaklah menghapuskan segala hukum Taurat. Namun Kekristenan muncul karena penggenapan akan janji Allah. Segala yang ada dalam kitab Taurat dan kitab para nabi telah digenapi dengan kedatangan Kristus. Hukum Taurat semula masih seperti bayang-bayang keselamatan, namun itu semua menjadi sempurna melalui kedatangan dan puncaknya pada kenaikan Yesus ke surga. Tuhan Yesus tidaklah meniadakan Taurat namun menggenapinya.
Baca Juga: Yesus Membatalkan atau Menggenapi Taurat?
Segala hukum yang ada di Perjanjian Lama tetap diberlakukan namun dengan cara yang berbeda. Inilah yang dimaksud dengan penggenapan. Begitu juga berkaitan dengan hukum halal atau haramnya makanan. Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, dipilih agar berbeda dari kebanyakan bangsa lainnya dalam rangka pemurnian untuk menuju hukum yang jauh lebih sempurna. Hukum yang sempurna itu disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri.
(11) Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang
(17) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
(18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang
—Matius 15:11, 17-18
Yesus menggenapi hukum halal dan haramnya makanan jauh lebih sempurna, bahwa bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan manusia, namun apa yang keluar dari mulutlah yang menajiskan. Maksudnya apa? Bahwa perkataan yang kita ucapkanlah yang menajiskan diri kita, dan bukan apa yang kita makan. Bukankah ini jauh lebih sempurna dan juga sebagai wujud penggenapan? Manakah yang lebih buruk, antara makan daging babi dan melakukan pelanggaran sementara namun dapat kembali tahir, atau mengumpat saudara kita dengan sebutan "babi!" dan menyakiti hati saudara kita terus-menerus?
Kristus menerapkan standar hukum yang lebih tinggi agar manusia kembali pada akar setiap dosa dan pelanggaran, yakni hati. Karena dari hati manusialah timbul segala dosa, baik perilaku maupun perkataan yang keluar dari mulut (Mat 15:19). Pengajaran yang diberikan Kristus sebagai penggenapan ini kemudian diajarkan kembali oleh Para Rasul ketika Gereja berhadapan dengan konflik antara Kristen-Yahudi dengan Kristen-Goyim (non-Yahudi).
Dalam Kisah Para Rasul 10, dikisahkan bahwa ketika Rasul Petrus merasa lapar dan haus, ia mendapatkan sebuah penglihatan ilahi, di mana dalam penglihatannya tersebut Rasul Petrus melihat hewan-hewan yang najis di langit. Tuhan pun berkata agar Petrus memakannya, namun Petrus menolak dengan alasan ia belum pernah memakan sesuatu yang haram menurut hukum Taurat (Kis 10:14). Namun Tuhan sendiri yang membalas, bahwa "apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram" (lih. ayt 15).
Penglihatan itu kemudian menyadarkan Rasul Petrus sebagai seorang Yahudi yang begitu taat. Ia pun akhirnya makan bersama Kornelius, seorang perwira yang bukan Yahudi, sekalipun ia akhirnya harus berselisih dengan orang Kristen-Yahudi sendiri. Namun kemudian mereka menyadari bahwa, karunia-karunia yang diberikan Allah tidak hanya bagi orang Yahudi yang tidak makan babi atau bersunat saja, melainkan bagi bangsa-bangsa lain jua yang tak melakukan hukum Taurat.
Selain dari pada itu, jika kita menggunakan standar yang sama untuk mengacu pada hukum Taurat, maka kita akan mendapati bahwa bukan hanya babi saja yang dilarang, melainkan juga unta.
Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu—Imamat 11:4
Bukan hanya unta dan babi saja, tapi juga dengan setiap hewan yang berkuku belah, bersela panjang, tidak memamah biak, burung pemangsa, hewan-hewan di laut yang tidak mempunyai sirip atau sisik, dan juga hewan yang merayap. Jadi kalau kita mengikuti standar hukum Yahudi dan diterapkan dalam kebudayaan kita sebagai masyarakat Indonesia, maka kita tidak akan dapat menyantap cumi-cumi, kelinci, udang, kepiting, ikan lele, kerang, belut, dan masih banyak lagi, yang justru hewan-hewan tersebut sangat dinikmati untuk dikonsumsi dalam kebudayaan kita.
Kesimpulan
Dengan begitu, genaplah apa yang disampaikan oleh Kristus, bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat. Bangsa Israel yang dipilih oleh Allah sebagai buah sulung, dalam hukum Taurat dipersiapkan agar mereka berbeda dengan bangsa-bangsa yang lain untuk menuju hukum yang jauh lebih sempurna yang berasal dari hati dan kasih. Hukum-hukum di Perjanjian Lama ada bukan bermakna pada hakikat keselamatan, melainkan masih bayangan-bayangan samar yang akan digenapi kemudian.
Dengan alasan itulah umat Kristen tak lagi mengharamkan babi, karena kedatangan Yesus Kristus ke dunia telah menggenapinya. Namun di lain sisi, tidak elok juga bila kita memakan secara terang-terangan suatu hewan tertentu namun dalam agama lain saudara kita itu dilarang. Dalam konteks kita sebagai bangsa yang majemuk dan menjunjung tinggi toleransi, selayaknya kita tidak menjadi batu sandungan yang membuat saudara kita lain menjadi gusar. Justru kebijaksanaan dari hatilah yang kita butuhkan agar makanan yang kita makan tidak menjadi problem bagi orang lain. Sebab masalah perut adalah milik pribadi masing-masing.
Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu—Roma 14:21