Ketika mendengar kata "Rasul" kita pasti akan langsung teringat pada Rasul Petrus, Rasul Paulus, atau Rasul Yohanes. Gelar Rasul ini biasanya dikaitkan pada orang-orang yang diutus untuk menyampaikan Kabar Baik. Singkatnya, para rasul adalah sekumpulan orang yang diutus Tuhan Yesus memberitakan Injil Keselamatan.
Rasul atau utusan ini, nyatanya tidak hanya merujuk pada 12 rasul Yesus atau rasul-rasul lainnya saja. Gelar Rasul ini bahkan juga disandingkan pada Yesus sendiri. Sebutan Yesus sebagai Rasul muncul satu kali dalam Perjanjian Baru. Ini menimbulkan kebingungan bagi umat Kristen awam sendiri. Jika Yesus Tuhan, mengapa Ia disebut Rasul?
Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus—Ibrani 3:1
Yesus sebagai Rasul
Alkitab sendiri telah tegas mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Bahwa Ia telah ada sebelum dunia dijadikan karena Ia pada mulanya adalah Firman (Yoh 1:1). Ketika Firman menjadi manusia, itu bukan berarti Ia melepaskan keilahian-Nya atau hubungan kasih-Nya dengan Bapa. Artinya, manusia bernama Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia.
Dalam kemanusiaan-Nya itulah, Yesus Kristus sebagai penggenapan dari kitab para nabi, memperoleh gelar atau jabatan yang biasa digunakan di Perjanjian Lama. Gelar atau jabatan itu diantaranya seperti: Yesus adalah nabi, Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Raja, dan Yesus adalah Rasul.
Gelar rasul atau utusan yang disandingkan pada Yesus ini menuai konflik. Ibrani 3:1 seakan dicomot untuk digunakan menentang keilahian Yesus. Namun, gelar Yesus sebagai nabi atau rasul, tidak berarti Dia bukan Tuhan.
Ketika kata "rasul" diaplikasikan pada kedua belas rasul, maka itu artinya mereka dipilih oleh Yesus dan diutus untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Sedangkan, ketika kata "rasul" diaplikasikan pada Yesus, maka itu artinya Ia diutus oleh Bapa-Nya yang berada di surga untuk menjadi Juruselamat dunia.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia—Yohanes 3:17
Kodrat ilahi dan manusiawi yang ada dalam diri Yesus, tak terpisah dan tak bercampur, menyatakan siapa Dia sebenarnya. Dalam kodrat kemanusiaan-Nya Yesus memang adalah utusan. Bahkan Ia telah mengambil rupa selayaknya hamba. Ia tunduk dan takluk kepada Bapa yang mengutus-Nya menyelamatkan umat manusia.
(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
(6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
(7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
(8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib—Filipi 2:5-8
Ketika Firman Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Kristus, Ia tentunya mengenakan natur manusia. Inkarnasi inilah yang menjadikan Yesus terbatas ruang dan waktu. Itu sebabnya dalam rencana penggenapan-Nya, kemanusiaan Yesus menjadikan Dia sebagai nabi, rasul, utusan, imam, dan gelar lain-lainnya.
Dengan demikian, gelar Yesus sebagai Rasul memanglah benar. Namun, dengan mengatakan Yesus adalah rasul sebagai bukti Dia bukan Tuhan adalah pendapat yang keliru. Ibrani 3:1 hanya menerangkan Yesus sebagai rasul dan imam dalam kodrat kemanusiaan-Nya, bukan kodrat ilahi-Nya.