Santo Fransiskus Xaverius atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Fransiskus Xaverius, lahir pada 7 April 1506 di Spanyol. Ia adalah seorang misionaris Kristen dan sekaligus salah seorang pendiri Ordo Yesuit.
Xaverius lahir dari keluarga bangsawan Basque di Navarro, Spanyol, dengan nama Francisco de Jaso y Azpilicueta. Ketika berusia 19 tahun, Xaverius masuk ke Universitas Paris dan lulus pada tahun 1530. Ia kemudian melanjutkan studi di bidang teologi. Di sanalah ia berkenalan dengan Ignatius Loyola, Pierre Favre, Alfonso Salmeron, Diego Laynez, Nicolas Bobadilla, dan Simão Rodrigues, yang kelak adalah para pendiri Ordo Yesuit.
 |
| Fransiskus Xaverius |
Fransiskus Xaverius melakukan penginjilan di negeri-negeri terpencil. Ia melakukan karya luar biasa di setiap tempat, mulai dari Goa, India, Indonesia, hingga Jepang. Xaverius berhasil mempertobatkan banyak jiwa dan membaptis mereka dalam iman Kristiani, bahkan menurut pengakuannya saking banyaknya hingga ia tak kuasa untuk sekadar mengangkat tangannya.
Pada 14 Februari 1546 Xaverius berlabuh di Ambon dan tinggal sejenak di pulau tersebut. Meskipun tinggal di Ambon dalam waktu singkat, namun ia telah membaptis ribuan orang Ambon. Misi di Ambon inilah yang menjadi salah satu sejarah awal Gereja Katolik di Indonesia. Selain itu, Fransiskus Xaverius diketahui juga mengunjungi sejumlah pulau lain di Maluku, termasuk Ternate dan Moro.
Banyak mukjizat yang dilakukan Tuhan melalui Xaverius. Ketika di Malaka, Xaverius membangkitkan kembali anak gadis yang sudah terkubur selama tiga hari. Lalu ia juga mengusir roh jahat yang mendiami seorang pemuda bernama Antonio Fernandez. Ayah Antonio seorang Portugis dan ibunya seorang Jawa. Ibu Antonio datang dan memohon pada Xaverius untuk menyembuhkan sakit keras yang dialami anaknya. Setelah membacakan Injil dan berdoa, pemuda itu pun pulih.
Baca Juga: 12 Suku Indonesia yang Mayoritas Beragama Kristen
Fransiskus Xaverius kemudian menuju Malaka pada 15 Mei 1547. Di bulan Desember pada tahun yang sama, Xaverius bertemu dengan seorang bangsawan Jepang bernama Anjiro. Sebelumnya Anjiro telah mendengar kabar Fransiskus Xaverius. Ia memiliki sejumlah masalah di Jepang, salah satunya karena ia dituduh melakukan pembunuhan. Anjiro kemudian menceritakan masalahnya itu pada Xaverius.
Xaverius lalu membaptis Anjiro dengan nama baptis Paulo de Santa Fe. Mereka berdua kemudian mulai menyusun misi pelayanan di negeri sakura tersebut. Karena Anjiro adalah seorang samurai, ia dapat membantu Xaverius sebagai mediator atau penerjemah karya-karya misinya di Jepang.
Tanggal 27 Juli 1549, Xaverius tiba di Jepang. 15 Agustus Xaverius menginjakkan kakinya di Kagoshima, tempat asal Anjiro. Misinya di Jepang membuahkan hasil. Ia membentuk komunitas-komunitas Kristen di Hirado, Yamaguchi, dan Bungo. Fransiskus Xaverius kira-kira berkarya selama dua tahun lebih di Jepang. Ia juga turut melihat lahirnya Yesuit-Yesuit yang akan menjadi penerusnya.
Selain Indonesia dan Jepang, ada daerah yang sangat ingin dikunjungi Xaverius, yakni Cina. Sayangnya sebelum tiba di sana, misionaris ini wafat. Setelah perayaan misa pada 21 November, Xaverius tiba-tiba saja pingsan. Ia kemudian meninggal tak lama, yakni pada tanggal 2 Desember 1552 di pulau Shangchuan pada umur 46 tahun, tanpa pernah menginjakkan kakinya di daratan utama Tiongkok.
Banyak yang bersaksi setelah 16 bulan kepergian Xaverius, jenazah yang berada di peti isinya masih segar, setelah beberapa kali dipindahkan. Banyak juga laporan yang mengatakan ada banyak mukjizat setelah, baik pria maupun wanita, mencium kaki Fransiskus Xaverius.
Fransiskus Xaverius dikanonisasi sebagai seorang santo. Dia adalah santo pelindung Australia, Kalimantan, Tiongkok, Hindia Timur, Goa, Jepang, dan Selandia Baru. Gereja Katolik sangat menghormatinya, apalagi karena ia telah mempertobatkan banyak orang lebih dari siapa pun semenjak Rasul Paulus.