Pada tahun 2021, presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengakui adanya genosida Armenia di bawah Kesultanan Utsmaniyah pada era Perang Dunia I. Pernyataan Joe Biden ini lantas membuat presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, marah. Menurutnya apa yang terjadi di masa lampau tak pantas disebut sebagai "genosida", sebab, menurutnya, baik Turki dan Armenia sama-sama korban.
Mari kita menengok sejarah, latar belakang, dan fakta sebenarnya yang disebut-sebut sebagai "Genosida Armenia".
Latar Belakang Genosida Armenia
Genosida Armenia adalah suatu upaya pemusnahan etnis secara sistematis yang dilakukan Kesultanan Utsmaniyah terhadap bangsa Armenia. Peristiwa nahas ini terjadi saat dan setelah Perang Dunia I. Para pria dewasa dibunuh dengan cara kerja rodi atau pembantaian, sedangkan kaum wanita, anak-anak, orang tua serta orang sakit, dideportasi. Deportasi ini adalah perjalanan menuju maut.
Sebelum bangsa Turk menginvasi, sejarah mencatat bangsa Armenia telah menduduki Anatolia atau Asia Kecil sejak abad ke-6 SM. Kemudian setelahnya pada abad ke-4, Armenia resmi menjadikan Kristen sebagai agama negara serta mendirikan Gereja Apostolik Armenia.
Pada abad ke-15 M, setelah Kekaisaran Bizantium runtuh, kendali wilayahnya beralih dan jatuh pada Kesultanan Utsmaniyah. Meski Kesultanan Utsmaniyah terdiri dari berbagai etnis dan agama, akan tetapi sistem pemerintahannya lebih condong pada aturan syariat Islam. Para penduduk non-Muslim diizinkan beribadah dan diberi perlindungan, namun kedudukannya tak setara dengan umat Muslim serta diwajibkan membayar pajak atau jizyah. Mereka juga memiliki sedikit hak politik serta hukum.
Pada awal Perang Dunia I, diperkirakan terdapat dua juta orang Armenia yang tinggal di Anatolia dan hampir tiga ribu kota serta desa Armenia di Kesultanan Utsmaniyah. Meskipun masih termasuk minoritas dan sebagian besar orang Armenia Utsmaniyah bekerja sebagai petani, mereka menguasai bidang perdagangan. Perlahan hal ini menimbulkan kebencian di hati Turki yang iri.
Kebencian ini diperparah karena timbulnya kecurigaan bahwa orang-orang Kristen-Armenia akan mengkhianati Kesultanan Turki dan membantu musuh-musuhnya. Pada abad ke-19, orang-orang Armenia harus mengalami penjarahan dan penyerobotan lahan yang dilakukan oleh kelompok etnis Kurdi, karena mereka tak lagi memilih gaya hidup nomaden.
Pembantaian Pertama terhadap Orang-orang Armenia
Pada pemerintahan Abdul Hamid II, sultan ke-34 Kesultanan Utsmaniyah, ia mengambil lahan milik orang-orang Armenia yang berada di provinsi timur dan memberikannya kepada para imigran Muslim. Kebijakan sistematis ini dilakukan untuk mengurangi populasi etnis Armenia. Jumlah populasi orang-orang Armenia pun turun secara signifikan. Ada yang pergi dan pindah ke kota lainnya.
Tahun 1878, pemerintah Utsmaniyah mulai menganggap orang-orang Armenia sebagai ancaman. Tahun 1891, Abdul Hamid II membentuk sebuah resimen dari kelompok etnis Kurdi. Resimen ini diberi izin untuk bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang Armenia. Dari tahun 1895-1896, setidaknya kurang lebih seratus ribu jiwa orang Armenia dibunuh oleh tentara Utsmaniyah.
Pembantaian besar-besaran yang terjadi tersebut sepenuhnya adalah tanggung jawab Kesultanan Utsmaniyah. Bukan hanya pembantaian saja, banyak desa-desa Armenia yang dipaksa untuk memeluk agama Islam. Hal ini dilakukan untuk memberikan supremasi pada orang-orang Muslim serta mengurangi jumlah etnis Armenia. Etnis dan agama menjadi menjadi alasan pembantaian ini.
Turki Muda dan Perang Balkan
Tahun 1908, kelompok revolusioner yang menyebut diri sebagai "Turki Muda" menggulingkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang sewenang-wenang. Awalnya gerakan ini didukung oleh sebagian kelompok Armenia. Namun ketika mengetahui bahwa tujuan Turki Muda yang sebenarnya adalah "Turkifikasi", dukungan itu terhenti.
Tahun 1909 sekelompok orang konservatif melakukan upaya kudeta atau yang dikenal sebagai "Insiden 31 Maret", namun gagal. Di lain tempat, kabar ini sampai ke kota Adana. Kelompok Muslim yang bersenjata pun menyerang daerah orang Armenia. Tidak ada jaminan perlindungan yang diberikan pemerintah Utsmaniyah terhadap orang Armenia yang diserang. Pada pembantaian di Adana ini diperkirakan sekitar 20.000 sampai 25.000 orang Armenia tewas.
Pasca Perang Balkan I, mulai timbul sentimen anti-Kristen dan keinginan membalas dendam. Orang Kristen-Armenia dijadikan kambing hitam, termasuk orang Armenia yang ikut berjuang di pihak Kesultanan Utsmaniyah. Malahan para petinggi Kesultanan Utsmaniyah menyalahkan populasi non-Muslim dan menganggap perlu diberantas.
Baca Juga: Genosida Yunani: Pembantaian terhadap Orang Yunani dan Kristen
Pada Perang Balkan II tahun 1913, terjadi penjarahan terhadap orang-orang Yunani dan Armenia di Trakia Timur. Sekitar 150.000 orang Kristen Ortodoks Yunani dideportasi secara paksa oleh kelompok Muslim bersenjata, Çetes.
Partisipasi Utsmaniyah dalam PD I dan Genosida Armenia
Pada 2 Agustus 1914, Turki berpartisipasi dalam Perang Dunia I dan menjalin hubungan dengan pihak Jerman dan Kekaisaran Austria-Hungaria. 29 Oktober 1914, Kesultanan Utsmaniyah melakukan serangan kejutan di Laut Hitam terhadap pelabuhan-pelabuhan Rusia.
Dalam perang ini banyak orang Armenia-Rusia yang begitu antusias dengan harapan bisa membebaskan orang Armenia-Turki. Orang Armenia-Rusia juga membentuk organisasi sukarelawan, yang di kemudian hari akan diikuti oleh para pembelot Armenia-Turki. Hal ini kelak akan membuat pemerintah Utsmaniyah semakin curiga terhadap orang-orang Armenia dan menganggap mereka pengkhianat. Bahkan orang-orang Armenia yang ikut membantu dalam perang ditarik keluar karena kecurigaan tersebut.
Pada tahun 1915, dimulailah pembantaian terhadap orang-orang Armenia secara sistematis, atau yang dikenal sebagai Genosida Armenia. Orang-orang Armenia dideportasi dari rumah mereka sendiri. Mereka berjalan menuju gurun Suriah tanpa makanan atau air, disertai pawai kematian.
 |
| Orang-orang Armenia digiring oleh tentara Utsmaniyah menuju penjara. April, 1915 |
Pada saat yang sama, ketika Kesultanan Utsmaniyah menyerang Rusia dan Persia, sebuah organisasi khusus ditugaskan untuk menghapus unsur-unsur Kristen, serta membantai orang-orang Armenia dan Kristen Suryani. Tentara-tentara yang berdarah Armenia diberhentikan dari tugasnya dan dieksekusi.
Berdasarkan keterangan para saksi dan sumber sejarah, peristiwa genosida yang terjadi tahun 1915 itu telah menewaskan 1,5 juta jiwa orang Armenia.
Penyangkalan Turki
Hingga sekarang pemerintahan Turki enggan menerima fakta peristiwa di masa lampau tersebut adalah genosida. Pemerintah Turki menolak bahwa kejahatan besar tersebut adalah upaya pemusnahan suatu etnis secara sistematis.
Pemerintahan Turki menyebut bahwa baik orang Turki dan Armenia tewas dalam peperangan antar etnis. Pemerintah Turki menyatakan keduanya sama-sama menjadi korban.
Kendati Pemerintah Turki masih terus menyangkal bahwa kejahatan di masa lampau tersebut merupakan genosida, sampai sekarang sudah ada 22 negara yang mengakui atau mengamini adanya genosida terhadap orang Armenia. Negara pertama yang mengakui genosida ini adalah Uruguay.
Peringatan Genosida Armenia
 |
| Սէրուժ Ուրիշեան (Serouj Ourishian) | Wikimedia Commons |
Setiap tanggal 24 April di Armenia dan Republik Artsakh adalah hari libur untuk memperingati para korban genosida Armenia tahun 1915. Hari Peringatan Genosida Armenia atau Armenian Genocide Remembrance Day telah diperingati oleh para cendekiawan Armenia sejak tahun 1919 di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Setiap tahun, ratusan ribu orang akan menuju ke Tsitsernakaberd Genocide Memorial yang berada di Yerevan untuk meletakkan karangan bunga sebagai wujud memperingati semua orang yang mati dalam genosida Armenia.