Tuduhan terhadap Kekristenan sebagai agama penjajah sering kali terdengar. Oknum-oknum yang sengaja memecah belah bangsa dengan menyebarkan kebencian menggunakan argumen ini untuk membangun sentimen kepada Kekristenan.
Gold, Glory, Gospel, selalu disebut-sebut dalam menyerang Kekristenan, sebab memang demikianlah yang ditulis dalam buku sejarah nasional mengenai motivasi taktik kolonialisme barat.
Gold yang mempresentasikan kekayaan, Glory yang mempresentasikan kejayaan, dan Gospel yang dipresentasikan sebagai penginjilan atau kristenisasi. Inilah propaganda yang disebarluaskan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan stigma mengenai Kekristenan.
Namun, benarkah demikian? Apakah ajaran Kekristenan yang terkenal dengan kasih mendukung adanya penjajahan? Atau apakah para penjajah yang kebetulan beragama Kristen telah bertolak dengan ajaran Kristus?
Penyebab Penjajahan di Indonesia
Pertama-tama, sebelum membahas lebih jauh mengenai bangsa barat yang singgah ke Indonesia, kita harus tahu apa alasan mereka menjajah dan mengapa ada kolonialisme.
Pemicu bangsa barat datang ke Asia, terutama Indonesia, tak lain dan tak bukan setelah jatuhnya Konstantinopel yang saat itu menjadi pusat Kekristenan pada tangan Kesultanan Utsmaniyah.
Konstantinopel runtuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman Turki pada tahun 1453. Buah dari kejatuhan Konstantinopel menimbulkan banyak kerugian bagi bangsa barat, salah satunya jalur perdagangan sutra yang diambil alih oleh Kesultanan Mamluk di Mesir.
Kebijakan pajak yang tinggi serta monopoli perdagangan antara para pedagang dari Venesia dengan Kesultanan Mamluk mengakibatkan jalur perdagangan ke Eropa hanya melalui satu jalur. Oleh sebabnya harga rempah-rempah dari Asia menjadi sangat tinggi.
Banyak negara-negara di Eropa menjadi frustasi, termasuk Portugis. Untuk itulah demi menghindari monopoli dagang, Portugis melakukan ekspedisi melalui jalur laut dengan mengitari benua Afrika menuju India. Yang akhirnya membuat Portugis berhasil membuka jalur perdagangan baru, yakni jalur laut dan membangun koloni di Goa, India.
Jalur buatan Portugis dapat menghubungkan India langsung ke Eropa tanpa harus melewati jalur yang dikuasai Kesultanan Mamluk. Dalam beberapa kesempatan, Ottoman Turki mencoba merebut jalur perdagangan laut. Namun upaya mereka tidak pernah berhasil dikarenakan armada laut Portugis saat itu lebih canggih dan kuat.
Portugis kemudian melebarkan sayapnya ke arah timur di bawah pimpinan Kapten Afonso de Alburquerque dengan menginvasi Kesultanan Malaka, Ternate-Maluku, bahkan hingga ke Makau-China. Tujuannya adalah menguasai daerah koloni untuk meraup sumber daya alam. Apa yang dilakukan Portugis ini kemudian menginspirasi Spanyol, Inggris, dan Belanda.
Dilihat dari latar belakang ini, alasan bangsa barat melakukan ekspansi didasarkan oleh praktik monopoli perdagangan yang saat itu dikuasai Kesultanan Utsmaniyah.
Monopoli perdagangan atas jalur sutra membuat negara-negara di Eropa harus memutar otak dengan membuka rute perdagangan baru, yakni melalui jalur laut. Yang pada akhirnya mendorong mereka pada tindakan kolonialisme.
3G: Gold, Glory, Gospel
Buku sejarah Indonesia selalu mengaitkan kolonialisme dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel). Gold dan Glory adalah faktor pendorong utama bangsa Eropa melakukan praktik kolonialisme.
Sebelum invasi Ottoman, jalur perdagangan barat dan timur dihubungkan melalui jalur darat atau lebih dikenal dengan nama jalur sutra. Setelah Kesultanan Utsmaniyah menguasai jalur perdagangan dan memonopolinya, bangsa Eropa terpaksa membuka jalur perdagangan baru melalui laut.
Demi memperoleh komoditas dengan harga murah, bangsa Eropa membuka jalur laut dan mengitari benua Afrika. Ketika mereka berhasil mendirikan koloni di daerah penghasil komoditas, maka semakin besarlah kekuasaannya. Apa yang mereka lakukan ini mampu mewujudkan gold dan glory.
Gold atau kekayaan dan Glory atau kekuasaan selalu berhubungan satu sama lain. Kekayaan mendatangkan kekuasaan dan kekuasaan mendatangkan kekayaan.
Bagaimana dengan Gospel? Semboyan Gospel selalu disebut-sebut sebagai faktor utama kedatangan bangsa barat dalam upaya penjajahan sekaligus penginjilan. Perlu diakui embel-embel agama selalu menarik mata bagi perpolitikan dan kekuasaan.
Praktik Gospel seakan digunakan sebagai pembenaran atas tindakan kolonialisme yang didasarkan kebencian pada kaum Muslim oleh sebab kekalahan perang negara-negara Kristen saat itu. Nama Tuhan dipakai secara keliru untuk membenarkan penanaman koloni yang dibarengi dengan penginjilan.
Namun bukan berarti ini adalah perang agama. Itu adalah perang antara barat yang kebetulan para penganut Kristen dengan timur yang kebetulan para penganut Islam. Alasan bahwa ini bukan perang agama didasarkan pada fakta bahwa sebelum jalur laut direbut Portugis, Kesultanan Mamluk yang basisnya Muslim dan para pedagang Venesia yang berbasis Kristen telah memiliki hubungan dagang. Ini adalah kerja sama antar dua agama.
Selain itu, jalur laut yang merupakan tandingan jalur sutra membuat Ottoman Turki pada akhirnya harus menginvasi Kesultanan Mamluk dibawah pimpinan Sultan Selim I. Padahal keduanya sama-sama kesultanan Islam. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1517.
Sangat menarik jika dilihat dari latar belakang pecahnya perang antara kedua kubu tersebut. Sebab agama tidak menjadi faktor utama perebutan kekuasaan saat itu, sebaliknya agama dijadikan pembenaran dalam perebutan kekuasaan.
Demikian halnya dengan semboyan Gospel. Semboyan Gospel dianggap sebagai suatu upaya untuk menyenangkan hati Tuhan, sekalipun caranya keliru. Kristenisasi yang disertakan penjajahan dianggap sebagai tugas agama.
Namun, apa benar bahwa penjajahan yang disertai penginjilan merupakan ajaran Kristen? Apa benar para penjajah tengah melakukan misi penginjilan demi iman atau sekadar pembenaran? Bagaimana ajaran Kristen sendiri terhadap hal tersebut?
Kristen Agama Penjajah?
Kekristenan merupakan ajaran yang bersumber dari Yesus Kristus. Ajaran kasih sebagai perjanjian baru menjadi dasar serta inti dari Kekristenan itu sendiri. Seperti yang tertera dalam Matius 22:39, bahwa kita hendaknya mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri.
Lalu, bagaimana dengan praktik kolonialisme yang dilakukan bangsa Eropa? Bukankah mereka beragama Kristen?
Perlu diakui bahwa memang para penjajah yang datang ke Indonesia mayoritas beragama Kristen. Namun, dengan mengatakan bahwa ajaran Kekristenan yang mendorong praktik kolonialisme adalah kekeliruan.
Hal ini lantaran secara doktrin Kekristenan tidak membenarkan atau melegitimasi apa yang dilakukan kaum kolonialis. Sebab dasar dari ajaran Kristen adalah kasih. Seandainya ada seorang pemimpin atau tokoh Kristen yang membenarkan tindakan semena-mena atas penjajahan, maka itu tidak mewakili ajaran Kekristenan.
Seandainya seorang Kristen melakukan kejahatan atas nama Tuhan dan agama, bukan berarti semua orang Kristen melakukan hal serupa. Generalisasi atau menyamaratakan perilaku berdasar golongan merupakan paradigma yang salah.
Selain itu, faktanya misi penginjilan terpisah dari motif utama kolonialisme yang menginginkan kekayaan dan kejayaan. Jelas motif ini bertabrakan dengan ajaran Kristen sendiri. Sebagai contoh adalah penginjil Jerman bernama Ludwig Ingwer Nommensen yang memulai misi di Sumatra. Ia justru menjadi penengah dan menolak adanya penindasan oleh pihak Belanda terhadap warga setempat. Demikian halnya para misionaris lainnya.
Kristen di Indonesia, Warisan Penjajah?
Buku sejarah Indonesia selalu menuliskan bahwa agama Kristen datang ke nusantara bersamaan dengan penjajah. Dari sinilah muncul stigma mengenai Kristen agama penjajah. Padahal menurut Abu Salih al-Armini dalam bukunya yang berjudul "The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries", Kekristenan sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dalam corak Nestorian.
Kekristenan memang baru mulai bertumbuh ketika para misionaris datang bersama bangsa Eropa. Namun pertumbuhan iman Kristen menjadi pesat setelah Indonesia merdeka dari penjajahan. Misionaris-misionaris lokal yang lahir seperti Kyai Sadrach juga membantu dalam penyebaran Kristen terutama di tanah Jawa.
Lebih dari itu, Kekristenan di Indonesia bukanlah warisan penjajah yang kadang kala dicap sebagai pengkhianat bangsa. Banyak para pejuang lokal yang ikut membantu dalam mengusir penjajah. Banyak tokoh-tokoh pahlawan beragama Kristen yang ikut berjuang mengusir dan menghapuskan penjajahan.
Kegagalan Belanda dalam Gospel
Memang dapat dikatakan bahwa benih iman Kristen baru diperkenalkan bersamaan datangnya para penjajah. Namun dengan mengatakan bahwa Belanda menerapkan semboyan Gospel untuk menjajah Indonesia jelas-jelas salah.
Kolonialisme Belanda tak lain dan tak bukan hanya untuk mengeruk sumber daya Indonesia tanpa melakukan pemaksaan agama. Belanda hanya menerapkan 2G (Gold dan Glory), namun tidak dengan Gospel (Penginjilan/Penyebaran Agama). Sebab pada dasarnya para misionaris dengan misi penginjilannya tidak mendapat izin dari petinggi-petinggi Belanda.
Lagi pula, seandainya memang benar bahwa Belanda menjajah Indonesia dengan alasan salah satunya menyebarkan agama Kristen, maka seharusnya dewasa ini Kristen bukan agama minoritas di Indonesia. Belanda memiliki kekuatan dan senjata. Jika misi Gospel adalah motif utama penjajahan, Belanda bisa saja memaksa warga lokal pindah agama menjadi Kristen atau mati. Namun kenyataannya tidaklah demikian.
Dalam hal ini Belanda gagal dalam menjalankan misi Gospel. Kegagalan ini tentu saja sebab dari semula Belanda memang tidak berfokus dalam misi penyebaran agama. Belanda telah menjalankan sekularisme yang memisahkan urusan agama dengan urusan pemerintahan.
Kesimpulan
Menyalahkan agama Kristen oleh sebab kolonialisme yang dilakukan bangsa Eropa adalah pola pikir yang salah. Kekristenan tidak dapat disalahkan dalam perkara ini. Namun yang patut disalahkan adalah para penjajah yang kebetulan beragama Kristen.
Desas-desus yang beredar seperti pemaksaan agama yang dilakukan Belanda terhadap tentara dan rakyat Indonesia hanyalah sebatas fitnahan untuk menjatuhkan Kekristenan. Sebab faktanya agama Kristen justru berkembang di daerah-daerah terpencil yang tidak dalam penguasaan ketat Belanda.
Tindakan kolonialisme yang dilakukan bangsa barat sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam kemanusiaan maupun iman Kristen itu sendiri. Agama Kristen telah dijadikan sebagai tameng untuk membenarkan segala bentuk kejahatan pada masa itu. Agama Kristen bukan agama penjajah dan juga bukan agama untuk menjajah.