Ada satu perkataan Yesus yang terekam di Injil dan menarik untuk dibahas, berkenaan dengan peristiwa penyaliban-Nya. Perkataaan itu adalah "Eli, Eli, lama sabakhtani?" atau yang artinya 'Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?'. Perkataan-Nya tersebut tercatat oleh 3 Injil (Mat 27:46; Mark 15:34; Luk 23:46). Hal ini menimbulkan pertanyaan, jika Yesus Tuhan mengapa Ia berseru Eli, Eli, lama sabakhtani? Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia berseru pada Allah?
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?—Matius 27:46
Ada beberapa jawaban atas persoalan ini. Kita tahu bahwa Yesus adalah Firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Ia sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Dalam pribadi Yesus tersebut terdapat dua kodrat dan dua kehendak, ilahi dan manusiawi. Kodrat-Nya tersebut tak bercampur aduk namun tak terpisahkan. Ketika Yesus merasa lapar atau haus, ini mengacu pada kodrat kemanusiaan-Nya. Begitu juga ketika Ia sedang berdoa dan berseru pada Allah Bapa.
Baca Juga:
Kemanusiaan Yesus menjadi teladan bagi kita. Dalam kodrat dan kehendak-Nya sebagai manusia, Yesus memberikan contoh bagaimana manusia seharusnya berdoa. Yesus memberikan contoh agar kita selalu percaya pada kehendak Allah Bapa, dan bukan kehendak diri sendiri. Seperti dalam doa yang telah diajarkan-Nya, yakni Doa Bapa Kami.
Selain itu, Eli, Eli, lama sabakhtani yang diucapkan Yesus merupakan sebuah penggenapan. Penggenapan ini diambil dari kitab Mazmur, yang ditulis oleh Daud, jauh sebelum Yesus Kristus lahir.
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku—Mazmur 22:1-2
Yesus mengutip Mazmur tersebut bukan tanpa sebab. Jika melihat Mazmur 22 ini dari sudut pandang budaya dan tradisi Yahudi, kita akan menemukan hal yang sangat menarik. Mazmur 22 ini atau yang disebut juga "Ayelet HaShakhar" (Rusa betina di Kala Fajar), sering dinyanyikan oleh orang-orang Yahudi ketika peringatan Hari Raya Purim. Rusa betina (Ayelet) digambarkan sebagai Ester, sedangkan Hari Raya Purim sebagai peringatan keberhasilan Ester dan Mordekhai dalam menggagalkan rencana jahat Haman yang ingin membinasakan orang-orang Yahudi.
Begitu juga dalam kasus Yesus. Syair Mazmur 22 diucapkan oleh Yesus ketika di atas kayu salib sebagai penghiburan atau pengharapan. Dengan kematian Yesus ada harapan baru bagi bangsa Israel, seperti harapan terbebasnya orang-orang Yahudi dari pemusnahan saat zaman Ester. Kata "sakhar" yang artinya 'fajar menyingsing', juga digenapi ketika kegelapan meliputi seluruh daerah sebelum kematian Yesus (Mat 27:45); seolah akan ada "fajar harapan" dan terbitnya tak lama lagi.
Dengan mengutip Mazmur 22, Yesus sedang memberikan petunjuk bahwa akan ada mukjizat atau harapan atau fajar, sama seperti ketika orang-orang Yahudi yang menantikan mukjizat Allah. Bahwa harapan itu adalah keselamatan.
Di sisi lain, Gereja Barat dengan teologinya memandang ucapan Yesus ini sebagai penderitaan rohani. Maksudnya, Roh Allah harus meninggalkan tubuh Yesus sejenak agar Dia dapat mati dalam kemanusiaan-Nya. Sehingga, puncak penderitaan Yesus bukanlah mahkota duri, cambuk, atau paku, lebih dari itu ialah ketika Allah Bapa seakan memalingkan wajah-Nya dari Anak-Nya Tunggal yang menderita demi keselamatan umat manusia. Sebab upah dosa adalah maut, maka Yesus harus memikul dan menanggung dosa-dosa manusia agar manusia dapat kembali kepada Allah.
Kendati demikian, entah mau kita tafsirkan secara budaya dan sejarah atau Kristologi atau teologi, mengatakan Matius 27:46 sebagai bukti Yesus bukan Allah adalah hal yang keliru dan terlalu gegabah. Justru dengan mengutip ayat tersebut dan menyelidikinya, kita akan dibawa pada kenyataan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan dan Dia juga adalah Tuhan.