Ketika Para Rasul mulai mencatat setiap peristiwa Kabar Baik, mereka menggunakan bahasa Yunani Koine. Bahasa inilah yang digunakan untuk menulis Kitab Suci Injil. Namun penggunaan bahasa Yunani sebagai bahasa Kitab Suci menimbulkan pertanyaan. Mengapa harus menggunakan bahasa Yunani? Mengapa tidak menggunakan bahasa Aram yang digunakan Yesus sehari-hari? Mengapa tidak menggunakan bahasa Ibrani sebab Para Rasul adalah orang Yahudi?
Alasan Bahasa Yunani dipilih sebagai Bahasa Kitab Suci
Bahasa Yunani Koine (Κοινη Ελληνικη) adalah bahasa Yunani umum. Yunani Koine berbeda dengan Yunani Kuno yang digunakan di zaman Plato dan para filsuf Yunani terkenal. Bahasa Yunani Koine telah ada dan digunakan sebelum masehi atau sebelum Kristus lahir.
Sejarah mencatat, pada era Helenistik setelah kematian Aleksander Agung, dimulailah helenisasi atau penyebaran pengaruh kultural Yunani dari Eropa hingga Asia. Penyebaran-penyebaran kebudayaan Yunani dilakukan dengan toleran sehingga mudah diterima oleh penduduk setempat, termasuk juga bahasa Yunani yang mulai diperkenalkan. Salah satu bangsa yang tak lepas dari pengaruh helenisasi ini adalah bangsa Yahudi.
Ketika Aleksander Agung wafat pada tahun 323 SM, ia tak menunjuk seorang penerus. Hal ini menimbulkan perselisihan di antara jenderalnya. Perang tak terelakkan dan wilayah taklukan Aleksander Agung terpecah menjadi empat bagian.
Salah seorang jenderal Aleksander Agung, yakni Ptolemaios I Soter (367-283 SM), mengangkat diri menjadi Firaun dan penguasa di Aleksandria, Mesir. Ia kemudian memulai Dinasti Ptolemaik di Mesir. Setelah pemerintahan Ptolemaios I Soter berakhir, jabatan sebagai penguasa di Mesir digantikan oleh anaknya yang bernama Ptolemaios II Philadelphos.
Rangkuman singkat sejarah mengenai helenisasi di atas nantinya akan menjadi latar belakang terhadap kepenulisan Injil. Selanjutnya mari kita melihat alasan mengapa bahasa Yunani dipilih sebagai Bahasa Perjanjian Baru.
1. Septuaginta: Terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama
Pada saat itu, orang-orang Yahudi diaspora yang berada di Aleksandria banyak yang melupakan bahasa ibu mereka, yakni bahasa Yunani. Pengaruh kuat akibat dari helenisasi kemungkinan yang menjadi penyebabnya.
Philadelphos kemudian memiliki keinginan untuk menterjemahkan Taurat dan kitab-kitab Yahudi lainnya dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Ia juga hendak memasukkannya ke dalam perpustakaan Aleksandria yang sangat terkenal saat itu. Philadelphos lalu mendatangkan 70 atau 72 sarjana Yahudi untuk mengerjakan terjemahan tersebut. Kitab ini dikenal dengan nama Septuaginta. Kitab berbahasa Yunani inilah yang menjadi terjemahan pertama-tama dari Perjanjian Lama. Septuaginta juga menjadi acuan penting bagi Gereja.
2. Yunani Koine sebagai Basantara
Pengaruh helenisasi dan bahasa Yunani sangat besar bagi dunia saat itu. Alasan mengapa bahasa Yunani Koine dipakai untuk menulis Perjanjian Baru tak lepas dari fungsi bahasa itu sendiri. Bahasa Yunani Koine saat itu adalah bahasa lingua franca atau basantara, artinya sebagai bahasa umum dan bahasa pergaulan yang digunakan di seluruh daerah kekuasaan Romawi.
Maka tak heran mengapa para penulis Perjanjian Baru memakai bahasa Yunani Koine untuk menulis Kitab Suci. Sekalipun mereka bukan penutur asli bahasa Yunani, dan kebanyakan dari para penulisnya berbicara bahasa Aram atau Ibrani, tapi pilihan mereka menggunakan bahasa Yunani kemungkinan didasarkan pada semangat menyebarkan Injil secara universal.
Bahasa Yunani yang saat itu umum di wilayah Kekaisaran Romawi inilah yang membuat para penulis Perjanjian Baru menulis setiap peristiwa dengan bahasa tersebut. Dengan semangat dan perintah dari Yesus Kristus, Tuhan kita, untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia (Mark 16:15).
Para penulis Perjanjian Baru tidak akan memakai bahasa Ibrani atau Aram yang justru saat itu bahasa tersebut jarang dimengerti selain orang Yahudi dan Israel sendiri. Penggunaan bahasa Ibrani juga mungkin akan membuat penyebaran Injil tak sepesat penggunaan bahasa Yunani. Bahasa Yunani Koine atau umum dapat dimengerti banyak orang saat itu hingga generasi-generasi berikutnya, sehinggga Kabar Baik mengenai Kristus bisa didengar di seluruh dunia.
3. Kristus juga Berbicara Bahasa Yunani
Ketika Kristus di dunia, Ia tinggal dan berkarya di daerah yang sangat multikultural. Suatu daerah yang tidak hanya mengenal satu agama, satu bahasa, atau satu suku saja. Bahasa yang digunakan masyarakat saat itu juga bermacam-macam: bahasa Latin, Ibrani, Aram, dan juga Yunani Koine.
Bahasa Ibrani digunakan ketika membaca Kitab Suci, bahasa Aram untuk komunikasi sehari-hari, dan bahasa Yunani yang digunakan secara internasional sama seperti bahasa Inggris di zaman sekarang. Injil mencatat jika Yesus Kristus mampu berbicara dalam beberapa bahasa, salah satunya adalah Yunani.
26) Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27) Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
28) Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
29) Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
30) Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.
—Mark 7:26-30
Untuk berbicara dengan perempuan Yunani Kristus pastinya menggunakan bahasa Yunani juga. Sebab bahasa Aram saat itu hanya dikenal orang-orang Yahudi, dan orang Yunani dengan kebudayaannya yang dominan tak mungkin menguasai bahasa Aram. Selain itu, di atas salib Kristus yang bertuliskan "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi", ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani (Yoh 19:19-20).
Kesimpulan
Kebudayaan Yunani yang sangat kuat akibat dari helenisasi inilah yang menjadi latar belakang kepenulisan Injil dalam bahasa Yunani Koine. Bahasa Yunani sebagai bahasa internasional tentunya akan berpengaruh besar dalam penyebaran Injil ke seluruh dunia.
Penggunaan bahasa Yunani sebagai bahasa Perjanjian Baru tentunya bukan tanpa maksud atau tanpa alasan. Lagi pula, dalam sejarah penyebaran Kekristenan, Para Rasul dan penerusnya tak pernah memaksa orang lain yang tak bisa bahasa Yunani untuk bisa melafalkannya. Itu terbukti dari banyaknya penemuan naskah-naskah kuno terjemahan seperti Ibrani, Aram, bahkan juga bahasa Arab.
Kekristenan sejatinya tak memandang suatu bahasa tertentu sebagai bahasa yang suci, meskipun penggunaan bahasa Ibrani dan Yunani juga sangat membantu dalam interpretasi. Bagi Kekristenan segala bahasa adalah suci, jika digunakan untuk menyembah.