Genosida Asiria atau yang dikenal juga sebagai Sayfo merupakan pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh tentara Utsmaniyah kepada orang-orang Asiria. Pembantaian yang dilakukan di Kesultanan Utsmaniyah ini terjadi selama dan sesudah Perang Dunia I, bersamaan juga dengan peristiwa Genosida Armenia dan Genosida Yunani.
Latar Belakang
Sejak abad pertama masehi, nenek moyang orang-orang Asiria yang berbicara bahasa Aram telah menganut agama Kristen. Kekristenan Suriah kemudian terpecah pada abad ke-5 karena permasalahan politik serta pertentangan teologis dengan Gereja Barat.
Mereka mendiami daerah pegunungan yang terpencil di bawah Kesultanan Utsmaniyah untuk menghindari kontrol negara seperti perpajakan dan wajib militer yang diberlakukan. Orang-orang Kristen Suriah terkonsentrasi di daerah berbukit, Tur Badin, dan sehari-sehari bekerja sebagai petani atau pengrajin. Pada masa pemerintahan Utsmaniyah, kota Midyat mayoritas dihuni oleh etnis Asiria.
Pada pertengahan tahun 1840-an, emir Kurdi, Badr Khan, melakukan kekerasan massal yang mengarah pada orang-orang Asiria. Diketahui dalam peristiwa ini beberapa ribu orang tewas. Dalam peperangan antar-suku, sejumlah kekerasan menargetkan ke desa-desa Kristen.
Tahun 1894, terjadi pembantaian di Vilayet Diyarbekir di Kesultanan Utsmaniyah. Pembantaian ini mulanya diserukan oleh para petinggi Utsmaniyah dan ditujukan terhadap etnis Armenia karena diduga melakukan makar. Namun tujuan pembantaian ini pun berubah dan menyasar ke orang-orang Kristen. Kebangkitan kekuatan politik Islam pun semakin memperbesar jurang pemisah antara orang Kristen-Asiria dengan Muslim-Kurdi.
Diperkirakan dalam peristiwa yang terjadi antara tahun 1894 sampai 1896 ini sekitar 25.000 orang Kristen-Asiria dibantai. Dan ketika revolusi Turki Muda, keadaan semakin memburuk karena gencarnya Islamisme dan anti-Kristen. Tahun 1908 sekitar 12.000 orang Asiria diusir atau dideportasi dari tanah mereka.
Pembantaian Orang Asiria
Pada Agustus 1914, banyak orang Asiria yang melarikan diri ke Persia setelah desa-desa mereka dibakar karena menolak bergabung dengan tentara Utsmaniyah. Tentara Utsmaniyah menyerang dan membakar desa-desa Asiria di seluruh Hakkari.
Pada 10 Mei, Asiria mendeklarasikan perang melawan Kesultanan Utsmaniyah. Patriark Gereja Timur, Mar Shimun XIX Benyamin, bahkan meminta bantuan kepada Rusia. Sayangnya bantuan itu tak pernah terwujud. Karena kalah jumlah dan persenjataan, orang-orang Asiria melarikan diri sambil menyaksikan rumah, peternakan, harta mereka dijarah dan dibakar.
Sebagian besar pria Asiria masih ingin berjuang dengan bergabung bersama tentara Rusia. Mereka berharap jika Rusia menang, mereka akan mendapatkan kembali tanah tempat kelahiran mereka. Tentara Utsmaniyah secara sistematis berusaha hendak menghapuskan etnis Asiria, mencegah mereka kembali ke tanah mereka, dan mengakuisisi tanah hasil okupasi tersebut.
Tahun 1914, sebelum deklarasi perang melawan Rusia, tentara Utsmaniyah melintasi perbatasan Persia yang baru dihuni para imigran Kristen dan menghancurkan desa mereka. 1 Januari tahun 1915, Rusia secara mengejutkan menarik pasukannya. Pasukan Utsmaniyah pun lantas menduduki Azerbaijan tanpa adanya perlawanan.
Segera setelah penarikan pasukan Rusia, orang Muslim lokal melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen. Hal serupa juga dilakukan oleh tentara Utsmaniyah yang melakukan penyerangan terhadap warga sipil yang beragama Kristen. Orang-orang Asiria dan Armenia yang tinggal di Azerbaijan tak berkutik menghadapi invasi yang dilakukan Utsmaniyah.
Kabar mengenai pembantaian yang berlandaskan etnis dan agama itu menyebar dengan cepat. Banyak orang Asiria dan Armenia memilih untuk melarikan diri ke Kaukasus. Utsmaniyah tak berhenti dan terus melancarkan serangan terhadap desa-desa Kristen dengan partisipasi dari suku Kurdi. Kementerian luar negeri Persia bahkan memprotes kekejaman yang dilakukan pemerintah Utsmaniyah, namun tak berani melawan atau mencegahnya.
Orang-orang Kristen di Urmia bahkan dieksekusi massal. Setiap laki-laki dibunuh, sedangkan perempuan serta anak-anak diculik, dijadikan budak, atau diperkosa. Di lain tempat, di Haftevan, sebanyak 700 hingga 800 orang dibunuh oleh tentara Utsmaniyah.
Kekejaman bertubi-tubi yang dilakukan pihak Utsmaniyah diliput oleh media internasional saat itu pada pertengahan Maret tahun 1915. Ramai negara-negara yang mengutuk tindakan kekejaman yang dilakukan oleh Utsmaniyah.
Eksekusi Terhadap Orang Kristen Lainnya
Provinsi Siirt dan kotanya pada saat itu mayoritas dihuni oleh para pemeluk Katolik Kaldea. Diperkirakan ada 60.000 orang Kristen yang tinggal di distrik ini. Tahun 1915, ribuan tentara Utsmaniyah tiba di Siirt, menyebabkan kekerasan terjadi di mana-mana. Orang-orang Kristen dibantai, rumah mereka dijarah, dan para perempuan diperkosa. Dalam kejadian ini, lagi-lagi banyak suku Kurdi yang terlibat.
Pembantaian dan eksekusi terhadap orang Kristen secara sistematis terus berlangsung di bawah kekuasaan gubernur Diyarbekir, Mehmed Reshid. Reshid bahkan menangkap orang-orang Kristen di Mardin, sekalipun mereka sama sekali tidak mengancam kepentingan negara. Ia bahkan melakukan penghasutan kekerasan anti-Kristen.
Orang-orang Kristen di Mardin dideportasi. Mereka yang menolak masuk agama Islam dibunuh di jalan menuju Diyarbekir. Pria, wanita, maupun anak-anak dibunuh serta diperkosa. Lebih dari 1.000 orang Ortodoks Suriah dan Katolik dibantai di Eqsor. Hal serupa juga terjadi di Tur Abdin.
Masih banyak kejahatan-kejahatan lainnya yang dilakukan tentara Utsmaniyah. Pembantaian yang mereka lakukan untuk kepentingan diri sendiri dilandaskan etnis serta agama. Kejahatan mereka berhenti ketika diadakannya Konferensi Perdamaian Paris. Banyak yang bersimpati terhadap orang-orang Asiria, sebab tidak ada satupun dari tuntutan mereka yang dipenuhi.
Pengakuan Dunia akan Genosida Asiria
Bagi orang-orang Asiria, genosida Asiria atau Sayfo adalah luka masa lalu yang menyakitkan. Utsmaniyah sebagai Turki masa lampau dinilai telah melakukan kekejaman atas nama etnis dan agama. Hingga sekarang, pemerintahan Turki masih enggan mengakui bahwa perbuatan mereka di masa lampau kepada etnis Yunani, Armenia, dan Asiria adalah genosida.
Namun kejahatan tak bisa terus disembunyikan dan kebenaran pasti terungkap. Sejarah mencatat dengan jelas kejahatan yang dilakukan otoritas Utsmaniyah. Banyak negara-negara yang juga mengakui bahwa apa yang terjadi pada orang-orang Asiria di masa lampau adalah pembantaian sistematis atau genosida. Salah satu negara yang mengakui genosida Asiria adalah Armenia, karena keduanya sama-sama korban dari kekejaman Utsmaniyah.
Pada tahun 2007, organisasi internasional yang secara khusus meneliti genosida, yaitu Asosiasi Internasional Peneliti Genosida atau International Association of Genocide Scholars (IAGS) mengeluarkan resolusi yang mengakui adanya genosida Asiria.
Bahwa, selama Perang Dunia I tentara Utsmaniyah dan suku Kurdi melancarkan kampanye genosida secara sistematis yang mengarah pada orang-orang Asiria dan Kristen yang mendiami wilayah Kesultanan Utsmaniyah.