• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer

SURAT SUKACITA

Blog tentang Kekristenan

  • Home
  • Ajaran
  • Apologetika
  • Sejarah
  • Arkeologi
  • Tokoh-tokoh
  • Lainnya

Monday, July 25, 2022

Home » Sejarah » Sejarah Perkembangan Kekristenan di Negeri Tirai Bambu

Sejarah Perkembangan Kekristenan di Negeri Tirai Bambu

  Only Truth     Monday, July 25, 2022

Republik Rakyat Tiongkok atau China memiliki sejarah yang cukup panjang dalam bertegur sapa dengan iman kristiani. Hal ini terbukti dengan ditemukannya Prasasti Xi'an yang diperkirakan berasal dari abad ke-8.


Prasasti tersebut berkisah mengenai sejarah Kekristenan di China yang dibawa oleh Gereja Nestorian. Perkembangan selanjutnya dalam penyebaran Kekristenan di China menimbulkan pro dan kontra. Penerimaan dan penolakan masih terjadi sampai sekarang di negeri tirai bambu tersebut.


Kali ini kita akan membahas masuknya agama Kristen hingga penyebarannya yang menimbulkan konflik pro serta kontra di daratan China.


Daftar isi
  • 1 Gereja Nestorian: Pembuka Jalan Penginjilan di China
  • 2 Kekristenan di China pada Abad Pertengahan
  • 3 Periode Ketiga Penyebaran Injil di China oleh Ordo Yesuit
  • 4 Penginjilan Protestan dan Ortodoks Rusia
  • 5 Abad 20 dan Revolusi China
  • 6 Kekristenan di China Sekarang

Gereja Nestorian: Pembuka Jalan Penginjilan di China

Republik Rakyat Tiongkok atau China sejak dulu telah memegang kepercayaan nenek moyang mereka, yakni Taoisme, Buddha, dan Konfusianisme. Prasasti Xi'an mencatat sejarah 150 tahun mengenai hadirnya Kekristenan di China.


Kekristenan dibawa oleh misionaris dari Gereja Nestorian, yakni Alopen, pada tahun 635 dibawah pemerintahan Kaisar Taizong. Alopen dan kaum Nestorian lainnya diterima dengan baik di China karena pengaruh mereka.


Lukisan kuno Kekristenan di Qoco, China, diperkirakan berasal dari tahun 800-an
Lukisan kuno Kekristenan di Qoco, China, diperkirakan berasal dari tahun 800-an

Seiring waktu berjalan, pada masa pemerintahan Kaisar Wuzong dari Tang (840-846), sang Kaisar menolak agama-agama impor yang masuk ke China. Terjadilah penganiayaan terhadap para pengikut Buddha. Pada peristiwa penganiayaan ini, komunitas Kristen Nestorian juga terkena dampaknya.


Komunitas Nestorian di China ditindas, biarawan dan biarawati diusir dari biara mereka, gereja-gereja dihancurkan, dan banyak pemuka-pemuka gereja yang melarikan diri entah ke mana. Tahun 986, seorang biarawan dari Suriah yang mengunjungi China, memberi pesan kepada Patriark Gereja Timur bahwa banyak gereja telah hancur dan Kekristenan sudah punah di daratan China.


Kekristenan di China pada Abad Pertengahan

Pada abad ke-13 Kubilai Khan dari Mongol menjadi kaisar dan mendirikan Dinasti Yuan di China. Kubilai Khan beragama Buddha, namun banyak dari keluarganya yang juga beragama Kristen. Hal ini membuat Kubilai Khan lebih bersikap toleransi dan mengizinkan kebebasan beragama di wilayah kekuasaannya. Pada waktu ini, Gereja Timur kembali muncul dan berkembang, bersamaan dengan datangnya Gereja Katolik Roma.


Tahun 1266 dua orang pedagang dari Venesia yang bernama Niccolo dan Maffeo Polo datang ke China. Tahun 1271, kakak-beradik ini membawa pesan dari Kubilai Khan untuk disampaikan kepada Paus. Pesan itu berisi mengenai permintaan sang Kaisar kepada Paus untuk mengirimkan 100 orang ahli untuk mengajarkan sains dan agama Katolik.


Pada tahun 1289 Paus Nikolas IV mengutus Yohanes dari Monte Corvino untuk mengabarkan Injil di China. Ia tiba di Beijing tahun 1294 dan mulai menterjemahkan Injil ke dalam bahasa China. Sejak saat itu Gereja Katolik Roma diterima dan mengalami peningkatan jumlah jemaat.


Baca Juga: Catatan Sejarah China mengenai Kegelapan ketika Penyaliban Yesus


Pada abad ke-14, tepatnya tahun 1368, Kaisar Hongwu menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan dinasti baru yang disebut Dinasti Ming. Pada pemerintahan Kaisar Hongwu inilah kemudian ia melarang adanya agama Kristen di China. Ini adalah akhir periode kedua pemberitaan Injil di China.


Periode Ketiga Penyebaran Injil di China oleh Ordo Yesuit

Pada abad 16, Portugis membuka jalur perdagangan laut dengan China. Di abad yang sama, sebuah ordo dari Gereja Katolik, yakni Ordo Yesuit, berdiri. Salah satu anggota pendirinya adalah Fransiskus Xaverius yang juga mengemban misi pemberitaan Injil di Indonesia.


Tibanya Portugis di China menyebabkan berbagai macam pertukaran budaya dan bahasa. Budaya barat, sains, matematika, maupun astronomi, mulai diperkenalkan di China. Salah seorang tokoh yang berperan dalam pertukaran ilmu antara barat dan timur di China adalah Matteo Ricci, seorang Yesuit dari Italia.


Di tahun 1601, Matteo Ricci dilantik menjadi penasihat kerajaan oleh Kaisar Wanli. Kemudian pada tahun 1605, Matteo Ricci membangun sebuah katedral yang masih ada sampai sekarang. Mulai banyak yang tertarik dengan agama Katolik, bahkan dari kalangan kelas pejabat ramai-ramai berpindah dan menjadi Katolik. Setelah kematian Matteo Ricci semakin banyak penginjil dari Eropa yang datang ke China.


Tahun 1618, seorang dari ordo Yesuit sekaligus ahli astronomi, yakni Johann Adam Schall von Bell, pergi ke China untuk memperbaiki kalender. Ia kemudian dipercaya oleh Kaisar Shunzhi untuk menjadi penasihatnya. Karena hal ini, Johann mendapatkan izin untuk memberitakan Injil di berbagai tempat sekaligus mendirikan Gereja. Ia bahkan membaptis 500.000 orang di China dalam waktu 14 tahun.


Pada tahun 1664, Johann bersama temannya, Ferdinand Verbiest, dan juga para Yesuit lainnya ditangkap karena tuduhan akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan. Tuduhan ini datang dari para astronomi agama lain, yakni pesaing Johann yang tidak menyukainya. Mereka hendak dijatuhi hukuman mati, tetapi pada saat eksekusi akan dilakukan terjadilah gempa bumi dan hujan meteor. Eksekusi pun dibatalkan dan mereka diasingkan di Makau.


Pada tahun 1669 Kaisar Kangxi berhasil mengontrol daerah kekuasaannya. Tiga tahun sebelumnya Johann Adam Schall von Bell meninggal. Sang Kaisar kemudian mengadakan adu ilmu astronomi antara Ferdinand Verbiest dengan para pesaingnya dari agama lain. Singkat cerita Ferdinand berhasil memenangkan ujian tersebut. Hal ini berimbas dengan dicabutnya pengasingan Ferdinand dan para Yesuit lainnya. Sebaliknya para pesaing Ferdinand yang diasingkan.


Ferdinand Verbiest kemudian dipilih untuk menjadi kepala bagian astronomi. Bahkan ia juga menjadi teman dekat Kaisar Kangxi. Ia juga mengajarkan musik dan ilmu filsafat pada sang kaisar. Pertumbuhan Kekristenan melalui ordo Yesuit ini pun semakin berkembang di China. Ordo Katolik lain pun mulai ikut memasuki daratan China, seperti Dominikan dan Fransiskan.


Ketika melihat kekatolikan yang ada di China, ordo Dominikan melaporkan pada Paus bahwa para Yesuit membiarkan orang-orang China Katolik mempraktekkan penghormatan kepada leluhur mereka yang telah mati. Tahun 1705, Paus Klemens XI mengutus Charles-Thomas Maillard De Tournon dengan tujuan mengekskomunikasi orang-orang Katolik China yang melakukan budaya penghormatan pada leluhur. Kaisar Kangxi tak senang dengan tujuan kedatangan Charles tersebut dan memenjarakannya.


Pada tahun 1715, Paus Klemens XI mengeluarkan papal bull (bulla kepausan) Ex illa die yang mengutuk keras tradisi China karena dianggap sesat dan pemujaan terhadap berhala. Mendengar hal tersebut, Kaisar Kangxi langsung membalas dengan melarang penginjilan di China.


Penerus takhta Kaisar Kangxi, yaitu Kaisar Yongzheng, juga melarang Kekristenan di China. Semua pastor serta imam diusir. Ia juga merubah bangunan-bangunan gereja untuk dijadikan bangunan umum. Ini periode akhir ketiga pemberitaan Injil di China.


Penginjilan Protestan dan Ortodoks Rusia

Tahun 1807, seorang penginjil Protestan, Robbert Morrison, tiba di Makau. Ia menjadi penginjil Protestan pertama yang menginjakkan kaki di China. Namun berbagai macam kesulitan kemudian datang, termasuk dalam bahasa. Apalagi karena adanya larangan untuk mengajarkan bahasa China kepada orang-orang asing.


Robert kemudian mempelajari bahasa China serta budayanya secara otodidak. Setelah berhasil menguasai bahasa China, Robert kemudian membantu menjadi penerjemah di East India Company (Perusahaan Hindia Timur Britania). Tahun 1813, Robert bertemu seorang penginjil lain yang bernama William Milne. Mereka kemudian bekerja sama untuk menterjemahkan dan mencetak Alkitab serta buku-buku lainnya ke dalam bahasa China. Mereka berhasil menyelesaikan terjemahan Alkitab dalam bahasa China selama 12 tahun dengan dibantu guru bahasa China mereka yang menjadi Protestan yaitu Liang Fa.


Tahun 1821 Kaisar Daoguang melarang penyebaran agama Kristen ke Han dan Manchu. Mereka yang mengklaim diri sebagai Kristen diancam akan dijadikan budak di Xinjiang. Tak sedikit yang tertangkap setelah tersiar kabar adanya penyebaran buku-buku Kristen di daerah tersebut.


Melihat keadaan tersebut, seorang penginjil Portugis terakhir, yakni Gaetano Pires Pereira, mengundang Gereja Ortodoks Rusia untuk mengambil alih gereja lainnya di China. Alasan Gaetano mengundang Gereja Ortodoks Rusia karena pada saat itu Rusia dan China memiliki hubungan baik dalam politik, sehingga kemungkinan dipersekusi sangatlah kecil. Gereja Ortodoks Rusia lebih dulu diperkenalkan di China sebelum misionaris Protestan datang, yakni pada tahun 1715. Salah satu katedral yang sampai sekarang masih eksis adalah Katedral St. Sophia di Harbin, China.


Para Martir Kristen Ortodoks China
Para Martir Kristen Ortodoks China

Setelah Perang Opium antara Qing dan Inggris, yang dimenangkan Inggris pada tahun 1842, China menyerahkan Hongkong pada Inggris dan membuka lima pelabuhan untuk perdagangan sesuai yang tertera dalam Perjanjian Nanking. Hal ini menyebabkan banyak orang asing berdatangan ke China. Agama Katolik dan Protestan pun kembali berkembang, meskipun di luar lima daerah yang ditentukan dalam perjanjian tersebut agama Kristen masih dilarang.


Gereja-gereja yang sebelumnya dirampas dikembalikan, sekolah dan rumah sakit mulai dibangun. Salah seorang penginjil Protestan yang bernama Peter Parker bahkan mendirikan rumah sakit pertama di China dan bangunan tersebut masih eksis sampai sekarang.


Pada tahun 1843, seorang dari kelompok Hakka yang bernama Hong Xiuquan, membaca buku-buku mengenai Kekristenan. Ia pun terinspirasi dan membuat kitab suci sendiri serta membentuk sekte sendiri bernama Kerajaan Surgawi Taiping, di mana dalam sekte tersebut dia mengaku sebagai saudara Yesus. Setelah memiliki puluhan ribu pengikut, Hong Xiuquan memulai pemberontakannya terhadap pemerintahan Dinasti Qing.


Hong Xiuquan berhasil menguasai sejumlah wilayah di China. Namun keadaan berbalik setelah ia dikalahkan oleh pasukan Qing yang dibantu oleh pasukan dari Inggris dan Prancis. Pada perang ini diperkirakan menimbulkan korban jutaan jiwa. Kecurigaan dan kebencian terhadap Kristen pun mulai timbul.


Tahun 1852, seorang penginjil Katolik dari Prancis yang bernama Auguste Chapdelaine menginjili daerah Guangxi dan Guizhou yang masih melarang adanya agama Kristen. Di sana ia menemukan komunitas Katolik sebanyak 300 orang. Ia melaksanakan misa bersama komunitas tersebut, namun tak lama ia ditangkap dan dipenjarakan selama 10 hari. Meski di penjara, semangat penginjilan tak lenyap dari hati Auguste Chapdelaine. Ia kembali melakukan penginjilan dan ditangkap lagi, namun kali ini ia disiksa hingga mati terbunuh.


Kematian Auguste Chapdelaine menjadi alasan bagi Prancis untuk membantu Inggris dalam Perang Opium kedua yang terjadi pada tahun 1856-1860. Dalam perang ini Qing kembali kalah dan harus menandatangani sejumlah perjanjian. Penginjilan pun tak lagi dilarang di seluruh China. Para penginjil Protestan dari Eropa pun ramai yang berdatangan.


Salah satu penginjil yang datang dan singgah di Shanghai adalah James Hudson Taylor. Melalui dia ratusan sekolah dibangun di China. Kekristenan kembali bertumbuh, namun juga masih berseteru dengan sejumlah kelompok yang anti-Kristen. Pada akhir abad ke-19, seorang sarjana bernama Zhou Han bersumpah untuk melawan Kekristenan setelah ayahnya mati dalam pemberontakan Taiping.


Zhou Han membuat propaganda untuk memprovokasi masyarakat lokal agar mempersekusi orang-orang Kristen. Karena ulahnya tersebut terjadi sejumlah kerusuhan dan penganiayaan terhadap orang Kristen di beberapa daerah. Ratusan orang meninggal karena kejadian tersebut, termasuk dua orang berkebangsaan Inggris. Hal ini membuat Inggris menekan pemerintahan China agar menangkap Zhou Han.


Penangkapan Zhou Han tak lantas membuat persekusi terhadap orang Kristen berhenti, sebab masih ada sejumlah kelompok bandit yang melakukan penganiayaan pada orang Kristen serta membakar Gereja.


Abad 20 dan Revolusi China

Masyarakat lokal China telah lama memiliki keinginan untuk menggulingkan pemerintahan Qing, yang mereka anggap sebagai penjajah dari Manchuria, dan juga mengusir orang-orang barat. Keinginan masyarakat lokal China terwujud. Pada abad 20, sejumlah tokoh-tokoh Kristen China yang berpengaruh seperti Sun Yat-sen, Chiang Kai-shek, Feng Yuxiang, Wang Zhengtiang, meruntuhkan pemerintahan Dinasti Qing dan mendirikan Republik China pada tahun 1912. Ini juga sekaligus mengakhiri pemerintahan kekaisaran selama lebih 2.000 tahun di China.


Pada tahun 1922 berdiri organisasi National Christian Council of China. Organisasi ini berdiri independen tanpa ada keterkaitan dengan negara lain. Tahun 1937-1945 terjadi perang kedua antara China dan Jepang yang menyebabkan terpisahnya Taiwan dari China. Kemudian tahun 1949, partai komunis yang dipimpin Mao Zedong berkuasa di China, sedangkan partai nasionalis berpindah ke Taiwan.


Pada tahun 1966 China melakukan revolusi budaya. Setiap kegiatan keagamaan dilarang, termasuk Kekristenan. Banyak persekusi yang dialami orang-orang Kristen di China. Orang-orang Kristen bahkan hingga harus beribadah secara tersembunyi, salah satunya dengan cara gerakan gereja bawah tanah. Tahun 1976, Deng Xiaoping menggantikan pemerintahan Mao Zedong yang telah meninggal. Di bawah pemerintahannya inilah kegiatan keagamaan kembali diizinkan.


Kekristenan di China Sekarang

Pada masa ini ada tiga organisasi gereja yang mendapat izin resmi dari pemerintahan China, yaitu Chinese Patriotic Catholic Association, Three-Self Patriotic Movement, dan China Christian Council. Namun tidak menutup kemungkinan ada organisasi gereja lain.


Masih banyak gereja-gereja bawah tanah yang eksis dan menolak bergabung dengan tiga organisasi gereja resmi tersebut. Mereka beranggapan ketiganya adalah kaki tangan pemerintah China. Hal ini mengakibatkan mereka kerap kali mengalami persekusi.


Beberapa waktu yang lalu, pemerintahan China bahkan menerapkan aturan kepada warganya agar setiap gambar Yesus atau Bunda Maria ataupun salib, diturunkan dan diganti dengan gambar presiden Xi Jinping. Meskipun tak mudah menjadi seorang Kristen di China, terlebih lagi karena ketidakadilan dan maraknya persekusi, Kekristenan terus mengakar kuat di China.


Pemerintahan China bahkan melaporkan setidaknya ada 44 juta jiwa penduduk China yang beragama Kristen, sekalipun secara persentase masih termasuk minoritas di China.


By Only Truth at July 25, 2022
Labels: Sejarah

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

  • Allah Tritunggal dalam Iman Kristen
  • Apakah Kristen dan Nasrani sama?
  • Yesus tidak Membawa Damai, tapi Pedang?
  • Arti Sesungguhnya dari Nama Kristen | Makna dan Sejarah
  • Kematian Yudas: Bukti Kontradiksi dalam Alkitab?

Labels

Ajaran Apologetika Arkeologi Genosida Lain Persekusi Sains Sejarah Tokoh

About

Blog "Surat Sukacita" dibangun dengan tujuan untuk memberitakan Injil Keselamatan seluas-luasnya terutama di Indonesia ... Baca selengkapnya

Others

  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms of Service

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © SURAT SUKACITA. All rights reserved. Template by Romeltea Media